terlepas dari kasus yang menimpanya, dari membaca sepintas karyanya sepertinya 
anak ini kreatif sekali untuk anak seusianya.

 
ngurah beni setiawan
P Save a tree...please don't print this e-mail unless you really need to



----- Original Message ----
From: heru gutomo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, May 15, 2008 10:55:46 AM
Subject: [baliblogger] jurnalis cilik kena pasal karet


Ada berita mengejutkan di Jawa Pos (14/5/08). Jurnalis
cilik bernama Bintang, siswa kelas 2 Madrasah
Tsanawiyah (setingkat SMP) 1 Malang dilaporkan ke
polisi. Ia dijerat pasal "karet" pencemaran nama baik
karena selebaran yang dibuatnya. 

Sekolah yang memalukan!

salam,
heru
http://kataheru. com

Berita lengkapnya dibawah ini:
------------ --------- --------- --------- -----

Iseng Bikin Tertawa, Malah Bikin Pengelola Sekolah
Murka
Selebaran Bocah Bintang 13 Tahun yang Berujung Laporan
Pidana

oleh: MARDI SAMPURNO, Malang

Hanya karena terlalu kreatif dan kerap berimajinasi
saat menulis, seorang bocah 13 tahun yang duduk di
kelas dua madrasah tsanawiyah (SMP) kini jadi
tersangka. Kasus jurnalis cilik yang aktif bikin
buletin ini sedang ditangani Polres Malang, Jawa
Timur.

BINTANG sekilas seperti anak-anak pada umumnya. Status
tersangka tak membuat dirinya murung. Dia terlihat
ceria dan gemar berceloteh tentang apa saja yang
diamati.

Wah, masuk koran. Bisa terkenal dong, ujarnya sambil
mengulurkan tangan kepada Radar Malang (Grup Jawa Pos)
di rumahnya, Kompleks Perum Persada Bhayangkara,
Singosari, Malang, Minggu (11/5) lalu.

Khoirul Abadi, 44, ayah Bintang, yang ikut mendampingi
langsung merespons sikap anaknya. Katanya ingin jadi
wartawan. Nah ini ada orangnya, kata bapak tiga anak
yang sehari-hari menjadi dosen di Universitas
Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Menurut Khoirul, anak pertamanya itu memang
bercita-cita menjadi wartawan. Tak heran jika selama
ini banyak karya tulis asal-asalan yang berbau karya
jurnalistik.

Lihat saja buletin mini karyanya yang diberi nama
Korap Cak! yang merupakan singkatan Korane Wong Sarap
(Korannya Orang Gila, Cak). Entah apa maksudnya. Yang
jelas, itu sekadar ungkapan tanpa makna yang
menunjukkan kreativitasnya, ujar Khoirul.

Buletin ini sudah dibuat dua edisi. Isinya kumpulan
esai dan tempelan guntingan gambar foto yang diambil
dari koran atau majalah. Buletin tersebut dibikin
bocah yang hobi main sepak bola itu dari kertas sisa
milik ayahnya yang tak terpakai.

Dari buletin itu, terlihat Bintang memang superkreatif
dan lucu. Halaman depan salah satu buletin menampilkan
guntingan foto pejabat sedang berceramah di depan
warga. Pada teks foto diberi tulisan HANYA BENGONG:
Pakde Yit ngapusi wong-wong. Sedangkan judul berita
tersebut adalah Pakde Ngapusi? Inti beritanya, Pakde
Yit sedang berpidato di depan warga dan para perangkat
desa, karena sebentar lagi mereka bakal mendapat
bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah. Namun,
saat itu warga sedang membutuhkan fasilitas mandi cuci
kakus (MCK). Karena tak sesuai keinginan warga, BMZ
menilai Pakde Yit ngapusi (membohongi, Red) warga.

Di buletin itu juga tak lupa dicantumkan acara stasiun
televisi yang diberi nama Duren TV . Acara favorit
pukul 04.00-05.00 adalah kejatuhan durian (ketiban
duren). Lalu, pukul 05.00-06.00 dilanjutkan acara
makan durian.

Hal serupa ditunjukkan di rubrik olahraga. Dia
memasang gambar mobil balap F-1 yang dikendarai Felipe
Massa. Dalam gambar itu Felipe Massa membuka sedikit
helmnya. Dari gambar itu, teks foto berbunyi mobil
Felipe sedang mogok dan pengemudinya mencoba
menyembuyikan rasa malu dengan membuka sedikit kaca
helmnya.

Dalam isi beritanya, pengemar busana T-shirt itu
melakukan wawancara imajiner dengan pembalap asal
Brazil tersebut di Australia. Salah satu kutipannya 
My car is very bad! ungkap Felipe, saat ditemui tim
Korap Cak di Australia.

Buletin itu juga dibumbui iklan versinya, baik iklan
lowongan maupun iklan jasa. Bahkan, dia membuat 10
peribahasa yang dipelesetkan.

Contohnya: Air susu dibalas dengan airmail = Kebaikan
sesorang dibalas dengan surat; Ma lu bertanya ma gue
yang jawab = Ibumu tanya, ibuku menjawab; Nasir sudah
menjadi tukang bubur = Nasir sudah dapat kerja; dan
serigala berbulu ayam = Serigala terkena kutukan.

Karena kreativitasnya itu, Bintang yang kini kelas II
Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1 Malang didapuk menjadi
pengurus majalah sekolah. Saya sudah mengisi satu
kali tulisan tentang tokoh-tokoh wanita penting di
Indonesia. Sedianya bulan depan baru terbit, kata
Bintang. Bahkan, karena kepiawaiannya itu pula, dia
kerap meraih peringkat 10 besar di kelasnya.

Disinggung tentang ulah usilnya menulis dua selebaran
dari kertas kalender yang ditempel di gerbang sekolah
Bani Hasyim (lokasinya berdekatan dengan rumahnya di
Perum Persada Bhayangkara, Singosari) yang membuat dia
jadi tersangka, Bintang mengaku menyesal. Saya harus
banyak mengendalikan diri saya. Saya salah dan minta
maaf kepada Pak Aji (Aji Dedi Mulawarman, pengelola
sekolah Bani Hasyim), katanya.

Isi selebaran usilnya adalah pengumuman bahwa gedung
sekolah itu dijual. Lalu, di selebaran lain ditulis 
Dicari yang diikuti nama anak Aji Dedi Mulawarman.

Menurut dia, saat membuat selebaran pada siang 24
Februari lalu itu tak ada sedikit pun niat untuk
mengejek atau mempermalukan sekolah. Dengan tulisan
itu, dia berharap bisa membuat teman-temannya tertawa.
Saya hanya ingin dua teman saya (diajak saat
menempelkan selebaran) tersenyum melihat tulisan itu, 
katanya.

Meski sudah menjadi tersangka, Bintang mengaku tak
bersedih. Kata dia, kedua orang tua dan teman-teman
sekelasnya membesarkan hatinya kalau sekarang sedang
diuji. Saya harus lulus menghadapi ujian ini, 
katanya lirih.

Ada satu hal yang ditakutkan jika kelak dia menghadapi
persidangan. Dia mengaku grogi saat duduk di kursi
pesakitan sebagai terdakwa. Yang pasti rasanya
berbeda ketika duduk di bangku sekolah atau bangku di
rumah. Katanya kursinya jika diduduki rasanya panas, 
katanya.

Sang ayah, Khoirul, mengakui bahwa anak pertamanya itu
memang terlihat berbeda dengan beberapa teman
sepermainannya. Sejak duduk di bangku madrasah (SD),
dia sangat kritis. Dia selalu bertanya tentang apa
yang dilihat, jelasnya.

Jika tak puas, dia mencoba membuktikannya sendiri. 
Pokoknya mirip wartawan, banyak tanya dan selalu
ngeyel untuk mempertahankan argumennya. Karena itu,
kami sempat kewalahan mengarahkannya, kata Khoirul.

Bocah yang gemar membaca novel ini selalu meluangkan
sebagian waktunya untuk membuka internet. Kemungkinan
dari situlah dia banyak tahu tentang informasi
terkini. Termasuk kemampuan berimprovisasi yang
membuat dia jauh dari anak-anak seusianya, 
tambahnya.

Khoirul menyadari peristiwa yang menimpa anaknya kali
ini cukup berat. Namun, dia mencoba mengambil hikmah
dari semuanya. Khoirul berjanji mengawasi serta
mengarahkan anaknya agar tidak mengulangi
perbuatannya.

Kasus Bintang yang dilaporkan Aji Dedi Mulawarman
dengan pasal pencemaran nama baik itu kini ditangani
Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang.
Dalam waktu dekat kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaan
Negeri Kepanjen, Malang.

Berbagai upaya damai sudah dilakukan keluarga Bintang.
Namun, Aji Dedi dan Sekolah Bani Hasyim tetap
melanjutkan proses hukum ke kepolisian. Mengapa tega
memerkarakan anak kecil? Maskur SH, penasihat hukum
pelapor, mengatakan, kasus itu tak bisa dianggap
sepele. Sebab, hal itu sudah dilakukan beberapa kali.

Kata dia, tersangka harus diberi pembelajaran agar tak
mengulangi perbuatannya. Langkah hukum adalah langkah
yang tepat untuk memberi pembelajaran, katanya. (el) 

Sumber: Jawa Pos, 14 Mei 2008.

------------ --------- ---_----- --------- --
Klik di http://kataheru. com
------------ --------- --------- --------- --

 


      

Kirim email ke