Dalam masa kerja saya yang singkat sebagai Pemimpin Redaksi Suara
Pembaruan, beberapa kali saya berkesempatan bertemu muka secara
pribadi dengan Bang Ali Sadikin. Pertemuan-pertemuan yang menyenangkan
itu selalu mengambil tempat di rumahnya di Jalan Borobudur, Jakarta
Pusat. Hanya sekali, karena alasan kesehatan, Bang Ali meminta saya
datang ke rumahnya di Pondok Indah. Tetapi, pada menit-menit terakhir,
sekretarisnya yang efisien menelepon dan memberitahu bahwa pertemuan
akan dilangsungkan di Jalan Borobudur.

Hal itu hanya menunjukkan sikapnya yang correct terhadap orang-orang
yang dijumpainya. Rumah di Jalan Borobudur adalah kediaman resmi,
sementara yang di Pondok Indah merupakan kediaman pribadi. Ia
selaluingin menerima tamunya secara resmi dan hormat.

Anehnya, hampir semua pertemuan saya dengan Bang Ali justru bukan atas
permintaan saya. Melalui sekretarisnya, Bang Ali membuat janji untuk
bertemu, tanpa dengan jelas menyebutkan apa maksud dan tujuan pertemuan.

Bang Ali selalu tepat waktu. Dua cangkir teh dan sepiring kue- khas
Jakarta – paling sering otak-otak – sudah tersaji di meja. Bang Ali
sendiri tidak pernah menyentuh kue-kue itu. "Saya tidak bisa lagi
makan kue-kue. Gula darah saya tinggi," katanya sambil menyuguhkan
kue-kue untuk tamunya. Tehnya pun tidak dibubuhi gula.

Setelah memastikan bahwa tamunya duduk dengan nyaman, Bang Alipun
mulai berbicara tentang topik yang ingin disampaikannya. Biasanya ia
fokus bicara tentang satu topik bahasan saja. Paling sering ia bicara
tentang pengelolaan kota. Ia juga suka bicara tentang seni. Ia bicara
tentang bagaimana dulu ia mendorong dibentuknya Lembaga Bantuan Hukum.
"Padahal, setelah terbentuk justru LBH yang paling sering mendemo
Gubernur DKI. Tetapi, justru itu yang saya inginkan. Sebagai Gubernur
DKI, kalau tidak ada yang mengoreksi bisa berbahaya," kata Bang Ali
sambil tertawa terbahak-bahak. Ia juga memrakarsai berdirinya Yayasan
Lembaga Konsumen Indonesia, Kadin Jaya, Taman Ismail Marzuki, Dewan
Kesenian Jakarta, dan Institut Kesenian Jakarta.

Pada tahun-tahun terakhir, Bang Ali suka duduk di samping tamunya.
"Saya semakin tuli. Tolong bicara yang keras," katanya menjelaskan. Ia
juga sering mengeluhkan gangguan ginjalnya.

Saya Masih Marinir

Suatu senja, dalam perjalanan pulang ke rumah, Bang Ali menelepon ke
ponsel saya. "Benar itu yang Saudara Bondan tulis di Tajuk Rencana
sore ini?" tanya Bang Ali dengan nada keras. Tajuk Rencana itu
mengupas ancaman-ancaman yang sering dilakukan oleh beberapa kelompok
khusus kepada harian Suara Pembaruan. Sebelum saya menjadi Pemred,
mereka bahkan sempat datang berbondong-bondong ke kantor untuk
menuntut dicabutnya sebuah berita yang menurut mereka telah memojokkan
posisi forum itu.

Pada suatu malam, sekretaris saya menelepon dengan nada ketakutan.
Seorang yang mengaku sekjen dari sebuah forum memaksanya untuk memberi
tahu nomor telepon dan alamat rumah saya. Orang itu juga mengancam
akan menduduki kantor Suara Pembaruan bila tidak mencabut berita
diterbitan hari itu. Saya silakan sekretaris saya memberikan alamat
dan nomor telepon rumah.

Semalaman saya berjaga-jaga. Tetapi, tidak ada telepon dan tidak ada
orang datang. Keesokan harinya, ketika saya menelepon kantor forum
tersebut dan mencari si sekjen, setelah beberapa lama menunggu saya
diberitahu bahwa tidak ada sekjen yang namanya seperti itu. "Kenapa
Saudara Bondan tidak menelepon saya? Saudara tahu nomor telepon saya,
bukan?" tanya Bang Ali keras.

Saya terdiam, tidak tahu harus berkata apa. "Saudara tahu, saya memang
sudah pensiun. Tetapi, saya tetap Marinir. Ada banyak Marinir yang
dapat saya gerakkan untuk membantu Saudara. Jangan diam-diam saja. Ini
Bang Ali! Sahabatmu! Sahabat Suara Pembaruan." Percayalah, pada saat
itu saya tercekat. Ada segumpal besarmenyangkut di kerongkongan saya.
I was simply speechless.

Empu Peradaban Kota

Beberapa tahun kemudian, Prof. Sardono W. Kusumo, Rektor Institut
Kesenian Jakarta, mengundang saya bergabung dengan beberapa teman lain
untuk membantu memikirkan IKJ. Dalam kelompok itu ada Shanti
Poesposoetjipto, Oloan Siregar, Astari Rasjid, Adhi Moersid, Wagiono
Sunarto, dan lain-lain.

Hampir setiap minggu kami bertemu di rumah Keluarga Soedarpo
Sastrosatomo di Pegangsaan untuk membahas berbagai strategi. Dalam
suatu pertemuan, tiba-tiba terpikir sesuatu di benak saya. "Bang Ali
sudah semakin sepuh dan sakit. Kita harus berbuat sesuatu untuk
mengakui jasa beliau bagi hidupnya seni di ibukota negara," kata saya.
"Bang Ali adalah tokoh peradaban kota," kata Sardono langsung menyetujui.

"Bagaimana kalau IKJ menganugerahi gelar Doctor Honoris Causa untuk
Bang Ali?" saya langsung menembak. Rapat pun hingar. Setuju "Let's
move quickly" . Mumpung Bang Ali masih cukup sehat untuk hadir dalam
upacara itu," kata saya. Saya sadar bahwa sebetulnya saya tidak perlu
mengatakan hal itu. Semua yang hadir pada rapat itu sepakat bahwa kami
memang harus bergerak ekstra cepat.

Pada tanggal 25 Januari 2006, IKJ mengukuhkan Bang Ali sebagai Empu
Peradaban Kota. Status badan pendidikan IKJ belum mengizinkannya untuk
memberikan gelar Doctor Honoris Causa. "Empu kan malah lebih tinggi,"
kilah Sardono. Pikiran brilian! Kami memang tidak mau terhambat birokrasi.

Bang Ali tampak ringkih pada upacara pagi itu. Tetapi, begitu berdiri
di depan corong pengeras suara, tidak ada yang dapat menghentikannya.
Ia berbicara sekitar satu jam, dengan suara keras dan bahasa lugas
tentang pengelolaan Jakarta sebagai ibukota negara. Disana, in his
full element, Bang Ali meneguhkan bahwa usia dan fisiknya yang renta
tidak memenjara pikirannya. Dalam soal pengelolaan dan peradaban
kota,Bang Ali tetap beringas. Bang Ali for President! – saya sempat
mendengar celetukan keras itu ketika Bang Ali mengakhiri pidatonya.

Sandyakala kemarin, ketika Sardono sibuk menyiapkan pentas "Opera
Pangeran Diponegoro" di Pagelaran Kraton Yogyakarta, Bang Ali
meninggalkan kita semua.

Selamat jalan, Marinir Sejati! Selamat jalan, Sang Pemimpin Rakyat!

diambil dari 
http://adiaprabowo.multiply.com/journal/item/98/Bang_Ali_Sadikin_Empu_Peradaban_Kota_Oleh_Bondan_Winarno

Kirim email ke