Holy crap, I actually read this :D Inspiring! 2008/5/22 john black <[EMAIL PROTECTED]>:
> Salah satu alasan mengapa kita memiliki frase `kalah sebelum > bertanding' adalah karena pada kenyataannya begitu banyak orang yang enggan > untuk ikut dalam pertandingan menyusuri hidup. Hanya karena mereka tahu > bahwa mereka tidak akan pernah menjadi pemenang. Jika hidup kita adalah soal > kalah dan menang, mungkin cara berpikir itu bisa diterapkan. Namun, pada > kenyataannya hidup kita tidak selamanya tentang kalah dan menang. Memang, > ada kalanya kita harus terlibat dalam permainan seperti itu. Jika kita tidak > mengalahkan orang lain, maka orang lain akan mengalahkan kita; dan kita > menjadi pecundang. Namun, sebagian besar kegiatan dalam hidup kita bukan > soal itu. Melainkan soal; bagaimana kita menjalani hidup itu sendiri. Oleh > karena itu, dalam banyak situasi; `menjalani' hidup itu lebih penting > daripada hasil akhirnya. > > Anda tentu masih ingat sebuah kisah klasik tentang seorang lelaki lugu yang > tengah duduk diteras sebuah kedai dipinggir jalan. Ketika mendekatkan > cangkir kopi ke bibirnya, dia terperangah, karena tiba-tiba saja ada > segerombolan orang yang berlarian. Ia lalu bertanya kepada pelayan;"Kenapa > sih orang-orang itu pada berlarian begitu?" Sang pelayan menjawab:"Ini > perlombaan lari marathon, Tuan." Ia tersenyum dengan ramah, kemudian > melanjutkan:"Pemenangnya akan mendapatkan sebuah piala." Katanya. Lalu > lelaki itu berkata;"Kalau hanya pemenangnya yang mendapatkan piala, kenapa > orang-orang yang lainnya juga pada ikut berlari...?" > > Kemungkinan besar, didunia nyata tidak ada manusia yang cukup lugu untuk > melakukan dialog seperti itu. Setidak-tidaknya dalam konteks `lomba lari > marathon'. Kita semua tahu bahwa pemenang lomba lari marathon hanya satu > orang. Atau paling banyak 3 orang. Jika panitia berbaik hati menyediakan > hadiah sampai juara harapan ketiga seperti ketika kita sekolah di TK dulu, > maka jumlah pemenangnya paling banyak ada 6 orang. Tetapi, kita tidak cukup > bodoh untuk mempertanyakan;"Mengapa ratusan orang lainnya ikut berlari > juga?" Tetapi, mari cermati kehidupan sehari-hari kita. Secara tidak > langsung kita sering mengajukan pertanyaan naif seperti itu. Kita begitu > seringnya bertanya; kenapa orang kecil seperti kita mesti kerja > habis-habisan? Paling hasilnya cuma segitu-gitu juga. > > Ketika masih disekolah menengah dulu, saya beberapa kali mengikuti 10K > Marathon Competition. Dalam perlombaan itu, selalu saja ada atlet > profesional dari pelatda yang ikut serta. Tapi, jumlah mereka tidak banyak. > Sedangkan, ratusan peserta lainnya adalah mereka yang paling banter hanya > berolah raga seminggu sekali saja, termasuk saya dengan tubuh kerempeng dan > napas yang pas-pasan ini. Bahkan ada juga peserta yang sudah lanjut usia. > Nyaris tidak mungkin kami bisa menang. Kami semua mengetahui hal itu. Tapi, > mengapa kami tetap ikut perlombaan itu? "Ya, kenapa Kakek mengikuti > perlombaan ini?" Anda boleh bertanya begitu kepada si Kakek veteran perang > kemerdekaan yang ngotot mau ikut perlombaan. Dan dia akan menjawab: "Kakek > mah, yang penting sehat, cucu. Tidak apa-apa menang juga. Yang penting > sehat...." Alah, yang penting sehat, kata si Kakek. > > Kalau anda tanyakan itu kepada orang dewasa lainnya, mereka akan menjawab: > "Demi kesehatan, Mas. Kita perlu berolah raga. Kalau menang syukur. Tidak > juga yah, tidak apa-apalah. Yang penting sehat." Sedangkan, gadis-gadis > remaja berusia belasan tahun akan menjawab:"Tau deh, Mas. Pokoknya seru > ajjah. Bisa ketemuan sama teman-teman." Dan dari para lelaki kecil yang > sedang puber seperti saya waktu itu, mungkin anda akan mendengar:"Asyik Mas. > Banyak cewek kece yang ikutan...." Pendek kata, ada begitu banyak alasan > mengapa orang ikut serta dalam perlombaan lari marathon itu; meskipun mereka > tahu tidak akan menang. Dan diakhir pertandingan, kita selalu bisa menemukan > senyum kepuasan disetiap wajah yang mengikuti perlombaan. Ketika sang atlet > pelatnas naik pentas untuk menerima tabanas; setiap orang ikut merasa puas. > Tidak ada iri dihati ini. Sebab, dari awal pun kita sudah tahu bahwa hadiah > tabanas dan piala itu bukan untuk kita. > > Kita mempunyai bagian masing-masing dalam perlombaan itu. Sang Kakek, > mendapatkan kesempatan untuk berolah raga dengan gembira demi kesehatannya. > Para pemuda senang dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Para > remaja gembira karena bertemu dengan rekan-rekan seusianya. Sambil ngeceng > satu sama lain. Dan tampaknya, semua orang mendapatkan kemenangannya > masing-masing. Kecuali orang-orang yang memilih tidur dibawah selimut. Dan > mereka yang hanya nongkrong dipinggir jalan yang dilewati para pelari. > > Lomba lari marathon mungkin sudah bukan olah raga populer lagi dijaman ini. > Tetapi, esensinya masih tetap ada hingga kini. Kehidupan kita, tidak ubahnya > seperti perlombaan lari marathon itu. Ada sejumlah hadiah disediakan bagi > mereka yang berkoneksi sangat kuat. Bermodal teramat besar. Dan berkedudukan > begitu tinggi. Namun, jika saja orang-orang yang tidak memiliki semua > keistimewaan itu memilih untuk berhenti sebelum bertanding; kehidupan kita > mungkin akan berubah wajah. Menjadi sebuah ironi ketidakberdayaan. > Untungnya, sebagian besar manusia sederhana yang kita lihat adalah > orang-orang tangguh. Mereka adalah pejuang hebat yang tidak mudah menyerah. > Tengoklah mereka yang tidak pernah lelah untuk terus merengkuh hidup. > Mengagumkan sekali. Meskipun mereka tahu bahwa tidak mungkin untuk > mendapatkan pendapatan sejumlah miliaran atau sekedar ratusan ribu rupiah > saja; namun mereka tetap melangkah, ikut terlarut dalam geliat hidup. Mereka > tidak hendak berhenti. Sebab, sekalipun tahu bahwa uang besar adalah jatah > orang-orang besar, namun ikut terlibat dalam permainan keseharian adalah > pilihan yang paling bijaksana. > > Jika kita berkesempatan untuk menyasar ke pasar-pasar pada pukul dua pagi, > kita akan menemukan orang-orang dari jenis ini. Tukang gorengan. Para > penyapu jalan. Para petugas pembersih toilet digedung-gedung perkantoran. > Para buruh tani. Ibu-ibu tukang cuci pakaian. Para hansip dan petugas > keamanan. Para guru bantu disekolah-sekolah reyot . Aih, betapa banyaknya > orang yang ikut dalam lari marathon kehidupan ini. Apakah mereka akan > mendapatkan piala? Tidak. Lantas, mengapa mereka ikut berlari? Karena, > mereka ingin mengajari kita tentang hidup. Mengajari kita? Ya. Mengajari > kita. Karena kita yang lebih beruntung ini sering sekali menyia-nyiakan > hidup. Kita terlampau mudah untuk berkeluh kesah. Ketika kita tahu akan > kalah, kita langsung menyerah. "Untuk apa kita bekerja jika dibayar dengan > upah murah? Cuma membuat kaya para pengusaha saja!" Begitu kita sering > berkilah. "Ngapain susah-susah begitu jika hasilnya cuma segini?" Kemudian > kita memilih untuk tidur lagi. "Kalau begini caranya, aku berhenti saja!" > Lalu kita keluar dari arena. Malu kita oleh orang-orang sederhana itu. > > Padahal, Ayah dan Ibu sudah menyekolahkan kita dengan bersusah payah. > Mereka mengumpulkan rupiah, demi rupiah. Dengan terengah-engah. Supaya kita > bisa kuliah. Setelah kita lulus sekolah? Kita menjadi orang-orang yang > begitu mudahnya untuk menyerah kalah. Setiap kali dihadapkan pada jalan yang > menanjak sedikit saja, kita sudah cepat merasa lelah. Ketika tersandung > dengan kerikil kecil saja, kita sudah mengeluh seolah kehilangan kaki > sebelah. Bukan peristiwanya yang menjadi musibah. Melainkan sikap kita untuk > memilih menjadi manusia bermental lemah. > > Malu kita oleh orang-orang sederhana itu. Meskipun mungkin mereka tidak > sepintar kita. Tidak sekolah setinggi kita. Tidak berkulit semulus kita. > Namun, semangat mereka dalam menjalani hidup, bukanlah tandingan bagi kita. > Cobalah sesekali tengok garis-garis wajah mereka. Disana kita akan menemukan > sebuah gambaran tentang hidup semacam apa yang mereka jalani setiap hari. > Tidak lebih mudah dari kita. Sekalipun begitu; mereka enggan untuk berhenti. > Mereka terus berlari. Untuk berlomba dalam marathon ini. Perlombaan yang > hadiahnya mereka definisikan sendiri. Yaitu; menunaikan panggilan hidup. > Dan, apakah sesungguhnya panggilan hidup itu? Untuk menjalani kehidupan itu > sendiri. Dengan segenap bekal yang telah Tuhan berikan didalam diri kita > masing-masing. Bersediakah kita mendayagunakannya? > > Source from : * > http://www.dadangkadarusman.com/2008/05/17/kalau-hanya-ada-satu-pemenang-%e2%80%93-mengapa-kita-ikut-bertanding/ > * > > -- > J.B > ------------------------------------- > http://www.son.web.id > > -- Microsoft: "You've got questions. We've got dancing paperclips" - animadesign.web.id

