Dear Mba' Sylvia.

Thanks for the info.Its really helpful.
FYI , bayi kami lahir dgn BB hanya 740gr. She's still in the hopital now. Skrg 
BBnya sudah 1,725 kg. But it's been so long, dia sudah di RS for more than 2 
months now. Rencananya kalau BB nya sekitaran 2 kg kita pengen bawa dia pulang 
ke Batam sih. Oh ya, dia lahir pd minggu ke 31.

Tks
Ayahnya Rifda

----- Original Message ----
From: Sylvia Radjawane <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, October 30, 2006 11:04:05 AM
Subject: Re: [balita-anda] Bayi pre-eklampsi

Hi pak Febrian,

Kalau dari beberapa info (salah satunya: www.mayoclinic.com tentang :'Air
Travel with Infant'), sebenarnya perjalanan udara dengan bayi bahkan bayi
yang baru lahir masih bisa dilakukan). Cuma trip seperti ini tetap harus
cermat mempertimbangkan faktor medis dan keamanan/kenyamanan si kecil. Di
artikel dalam website tsb. dianjurakan minimal 2 minggu setelah bayi lahir,
perjalanan udara dapat dilakukan (asal tetap catatan medis dan faktor
keamanan jadi prioritas utama).  Usia 2 mingguan ini diperlukan si kecil
untuk adaptasi dengan lingkungan di luar rahim ibu.
Ex-housemate saya yang baru saja bersalin dulu pernah membawa bayinya yang
usia 1 minggu untuk trip lintas benua. Tapi  memang semuanya berjalan aman
dan nyaman karena kesehatan bayi yang prima dan riwayat persalinannya yang
baik serta rekomendasi DSOG dan DSA nya.

Bayi dengan BB kurang dari 2kg apa memang lahir dengan BBLR (berat badan
lahir rendah) tetapi 'cukup' umur (saat bersalin usia kandungan ibu sudah
atau lebih dari 37 minggu), atau memang si kecil lahir prematur? Asumsi
saya, mungkin ada sebab dari kasus pre-eklampsia yang diderita ibu saat
hamil untuk bayi dengan BB kurang ini ya pak?

Issue lain, apa memang perjalanan udara ini untuk keperluan yang memang
sangat penting?
Ada baiknya check dan re-checked dengan DSA yang menangani si kecil untuk
rencana trip ini.   Please note, air travel pertama kali tidak saja membuat
si kecil jadi 'kenal' suasana tidak nyaman karena 'cabin pressure', tapi
juga ada resiko banyak bibit penyakit lain di antara sesama penumpang di
airport, pesawat, dan tempat tujuan.
Kalau memang hanya untuk keperluan bepergian biasa, atau kondisi si kecil
lagi nggak fit, mungkin lebih baik ditunda beberapa waktu.

Saya coba sekalian posting Q&A dari website di atas untuk tambahan info ya
pak.

cheers,
Sylvia - mum to Jovan & Rena

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

AIR TRAVEL WITH INFANTS: IS IT SAFE?
http://www.mayoclinic.com/health/air-travel-with-infant/HQ00197.

QUESTION:
Apakah perjalanan dengan pesawat terbang aman untuk bayi baru lahir?
(N.N.)

ANSWER:
(by Jay Hoecker, M.D., et.al.)
Perjalanan dengan pesawat terbang aman untuk para bayi, bahkan bayi yang
baru lahir.  Akan tetapi, dokter mungkin akan menyarankan untuk menunda
perjalanan seperti ini selama 2 minggu pertama sejak bayi lahir – di mana
tubuh bayi Anda saat itu masih berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan
di luar rahim ibunya.
Perjalanan dengan pesawat terbang mengondisikan seorang bayi jadi terekspos
dengan banyak orang dan juga kuman-kuman, khususnya dalam ruang kabin (yang
punya sirkulasi ulang udara, seperti ruangan ber-AC).  Selain itu, Anda tetu
tidak ingin bepergian jika bayi Anda sedang sakit, apalagi dengan kenyataan
bahwa kondisi sakit pada bayi baru lahir kadang tidak kentara.

Jika para orang tua ingin melakukan perjalanan udara dengan bayi yang baru
lahir, beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, di antaranya:

- Sakit telinga
Banyak orang tua khawatir bahwa perjalanan udara akan menyakiti kedua
telinga bayi mereka yang baru lahir.  Tetapi dampak terhadap telinga mereka
ini tidak berbeda dengan yang juga dialami oleh telinga orang dewasa.  Turun
naiknya tekanan udara dalam ruang kabin menyebabkan perubahan sebentar dalam
telinga bagian tengah, yang akhirnya menyebabkan seseorang merasakan sakit
pada telinganya.  Aktivitas menghisap membantu menetralkan tekanan dalam
telinga ini.  Itulah sebabnya memberi makan (menyusui) bayi Anda saat
pesawat sedang 'take off' dan 'landing' mungkin dapat membantu.

- Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).
Beberapa orang tua mungkin khawatir dengan berkurangnya kadar oksigen di
tempat ketinggian akan meningkatkan resiko SIDS pada bayi baru
lahir.  Tetapi tidak ada bukti yang mendukung kekhawatiran ini.

- Keamanan perjalanan
Jika ada melakukan perjalanan udara dengan seorang bayi yang baru lahir,
lembaga AAP (American Academy of Pediatrics) merekomendasikan agar Anda
menempatkan anak anda pada 'safety seat' khusus untuk anak-anak, yang
terpasang dengan benar dan aman di tempat duduk sebelah tempat duduk
Anda.  Sebagian besar 'safety-seat' ini telah dinyatakan dan khusus
diperuntukkan untuk perjalanan udara.  Anda bisa memeriska label
sertifikasinya jika masih ragu-ragu.
Menurut rekomendasi dari lembaga FAA (Federal Aviation Administration),
'safety-seat' untuk anak-anak ini tidak boleh lebih lebar dari 16 inci
sehingga pas ukurannya jika terpasang pada tempat duduk penumpang di dalam
pesawat – khususnya untuk pesawat komuter yang lebih kecil.  Jika
memungkinkan, pilih tempat duduk 'bulkhead seat' dan hindari duduk di baris
tempat duduk yang dekat dengan pintu 'emergency exit'
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

On 10/30/06, Febrian Syah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Ada yang punya pengalaman membawa bayi mungil, less than 2 kgs naik pesawat
terbang ndak ya. Atau kalau ada yang tahu persis bagaimana persyaratan
membawa baby dgn pesawat. (berat badan minimal, umur? dll)?? will you share
please.

<deleted>






Kirim email ke