(BUKAN ) ISTRI YANG SETIA
Konon, di negeri ini hiduplah sepasang suami istri belia, sebut aja mas Dicky
(25) dan mbak Isye (20). Tahun demi tahun mereka berdua menjalani hidup dengan
bahagia, rukun, makmur, damai sentosa ...sampai tak terasa sampailah mereka ke
ulang tahun kelima pernikahan mereka (konon kata orang, 5 tahun pertama
merupakan masa-masa yang penuh "badai" dalam mengayuh bahtera rumah tangga).
Malam itu mereka habiskan dengan ber CANDLE LIGHT BUFFET yang romantis di
sebuah restoran.
Pendek cerita, sepulang dari restoran acara bermesraan diteruskan sampai masuk
kembali kerumah, masuk kembali kekamar, naik kembali ke ranjang dst., dst. ....
Usailah satu sessi penuh kemesraan, penuh gelora ... dalam keadaan setengah fly
(makan malam tadi cukup kenyang, dan sessi terakhir tadi cukup
menguras tenaga) mas Dicky melihat istrinya dengan hati-hati mengeluarkan
sebuah KANDAGA dari lemari, menciumnya, dan mengembalikan lagi kebelakang
tumpukan pakaiannya. (Kandaga adalah sebuah kotak kecil dari kayu jati atau
sonokeling, biasanya berukir indah, tempat para isteri bangsawan Jawa
tempo doeloe menyimpan koleksi permata, perhiasan emas atau barang-barang
berharga lainnya). Penasaran, mas Dicky menanyakan kepada isterinya apa
gerangan isi kandaga itu, namun mbak Isye cuma menjawab: " Maaf, Pa, Mama
'nggak bisa memberitahukannya. Kalau memang Papa bener-bener sayang sama Mama,
udahlah, jangan tanya itu lagi."
Mas Dicky terdiam, dan hanya bisa menurut saja. Namun rasa penasaran belum
mampu dia usir dari benaknya. Disaat-saat sendiri, selalu saja rasa penasaran
itu mengganggunya, tapi "demi cinta", tak pernah dia sampai hati menanyakan hal
itu kembali pada isterinya.
As the story goes, waktu pun berlalu .... hari berganti bulan, bulan berganti
tahun, angin berhembus, cuaca berubah, namun daun-daun tetap tumbuh menghijau,
begitu pula kehidupan rumah tangga ini. Mereka cukup bahagia lahir bathin
dengan 2 orang anak (laki dan perempuan), karir mas Dicky-pun selalu menanjak
sehingga kehidupan keluarga selalu berkecukupan adanya. Tak terasa
waktu terus bergulir, dan tibalah 10 tahun usia perkawinan mereka. Setelah
melakukan ritual yang sama, mas Dicky kembali membisikkan keinginannya sama
sang istri, betapa ia ingin tahu apa isi kandaga itu....tapi tetap saja
istrinya menolak dengan halus. Karena memang mas Dicky tidak ingin menyinggung
perasaan istrinya, maka ia juga tak memaksa.
Begitulah kembali hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tahun berganti
windu, sampailah saatnya mereka merayakan ulang tahun perkawinan Perak mereka.
Putri mereka yang pertama sudah menikah, malah mereka sedang bersiap-siap
menantikan kedatangan cucu mereka pertama. Namun karena mereka dulunya termasuk
pasangan yang cepat kawin, maka kondisi phisik mereka masih kelihatan
prima. Maklum saja lah, mas Dicky baru 50 tahun dan mbak Isye baru saja
berulang tahun ke 45. Apalagi pasangan ini termasuk mereka yang rajin merawat
kebugaran, mas Dicky tiap week end masih rajin main golf bersama relasi,
kalaupun mbak Isye 'nggak ikut menemani, paling-paling dia sibuk Fitness atau
beraerobic bersama teman-teman arisan atau kelompok-bermainnya sendiri.
25 tahun bukannya masa yang pendek, maka malam itu mereka sepakat untuk
mengadakan syukuran sekedarnya, dengan mengundang besan serta keluarga dan
kerabat dekat lainnya. Acara berlangsung meriah di rumah mereka yang asri dan
diakhiri dengan menikmati barbeque di kebun belakang.
Lewat tengah malam ketika tamu terakhir meninggalkan rumah pasangan ini.
Kembali ke kamar, "ritual" rutin pun berulang kembali. Lagi-lagi mas Dicky
menyatakan keinginannya untuk mengetahui apa isi kandaga itu. Kali ini, setelah
25 tahun, akhirnya sang Istripun luluh juga. Maka lantas terjadilah dialog
berikut:
"Papa memang benar-benar ingin mengetahuinya?"
"iyalah, Ma. Sekian tahun Papa penasaran ...."
"OK, tapi Papa harus berjanji, Papa tidak akan marah. Papa janji akan tetap
jadi Papa yang selama ini Mama kenal, apapun isi kandaga itu."
Mas Dicky mearasa jantungnya mulai deg-degan, tapi demi hasrat yang 25 tahun
terpendam, jadilah akhirnya ia mencoba untuk tetap tenang.
Maka hanya dengan sekedar ditutup selimut mbak Isye bangkit dari ranjang dan
berjalan ke arah lemari, mengeluarkan kandaga itu dan membawanya ketempat tidur
dimana mas Dicky menunggu. Pelan-pelan dia buka kandaga itu dan dia unjukkan
kedepan
suaminya. Alangkah terkejut mas Dicky ... isi kandaga itu ternyata cuma 3 biji
jagung dan uang receh 6,500 perak!.
Mas Dicky tak habis pikir, mengapa 25 tahun istrinya menjaga rahasia ini
rapat-rapat, hanya sekedar "menyembunyikan" 3 biji jagung dan uang yang tak
seberapa.
Melihat suaminya diam membisu, maka mbak Isyepun angkat bicara: "Pa, Mama
sadar bahwa Mama bukanlah seorang wanita yang sempurna. Mama juga bukanlah
seorang istri impian seperti yang selama ini Papa bayangkan"
Mas Dicky masih diam terpaku dan menyimak saja. "Mungkin Papa heran, apa arti 3
butir jagung ini. Sebenarnya Mama berat untuk mengatakan ini, tapi Mama juga
sadar, sampai kapan Mama harus hidup dalam dusta terhadap suami yang mencintai
Mama dengan begitu tulus" (mata mbak Isye mulai merebak, dan akhirnya air
matanyapun runtuh).
"Tapi karena Papa sudah berjanji untuk tidak marah, dan tetap akan menjadi Papa
yang dulu, maka Mama memberanikan diri untuk bicara." ....suaranya jadi berat,
tersendat ..."Mama bukanlah istri yang setia" akhirnya kalimat itu meluncur
dengan nada getir dan datar. "Selama rentang 25 tahun usia pernikahan kita,
Mama beberapa kali selingkuh dengan lelaki lain. Mama mulai melakukan ini di
tahun-tahun pertama perkawinan kita, ketika kita terlibat pertengkaran di rumah.
Disaat panik, stress, ada lelaki lain yang memberikan keteduhan sesaat, dan
Mama pun jatuh. Tapi tiap kali Mama melakukan itu, Mama benar-benar menyesal,
dan sebagai prasasti peringatan maka setiap kali Mama mengambil sebiji jagung
dan masukkannya ke dalam kandaga ini".
Mas Dicky terhenyak dan menarik napas panjang. Terasa berat sekali
timbang-menimbang dalam hatinya: 3 kali selingkuh dalam rentang waktu 25 tahun
memang bukan pertanda istri yang setia, tapi juga tak bisa begitu saja
dijadikan alasan untuk memulangkan mbak Isye ke rumah ortu-nya, karena mereka
berdua sekarang sudah sama-sama yatim piatu.
Dalam hati mas Dicky berpikir : " ya, sudahlah ... selama inipun aku bukannya
suami yang 100% steril, ada saja saat-saat yang sulit dihindarkan kalau lagi
larut bersama relasi .."
" Trus.. uang yang Rp. 6,500.00 itu apaan, Ma?"
"Itulah, Pa... setiap kali Mama melakukan selingkuh, mama tak lupa memasukkan
sebiji jagung ke dalam kandaga ini. Sampai saatnya butir jagungnya sudah begitu
banyak sehingga kandaga ini nyaris penuh ... maka mama jual jagung itu ke
warung sebelah. Mama jual murah sekali, Pa, cuma lima ratus perak per kilo ...
dan itulah uang hasil penjualan itu semua. Sepeserpun tak pernah Mama pakai
untuk belanja"
Mas Dicky terkulai lemas, dan beberapa jenak kemudian mbak Isye berteriak
kelu, 'mbangunin si bontot untuk telpon ambulans. Malam menjelang pagi itu mas
Dicky terpaksa dilarikan ke UGD, istilah medisnya kena stroke, rupanya depressi
yang kelewat berat tak tertahankan oleh jantungnya, betapapun selama ini selalu
beliau lulus dengan mulus setiap general check up 2 tahun sekali ....
CATATAN pinggir:
1 kg jagung @ Rp. 500.00, dus Rp. 6,500.00 = 13 Kg.
1 kg jagung = +/- 1450 butir (anggep aja jagung buat pop corn yg gedé-gedé, dus
13 kg x 1450 = 18.850 butir jagung = 18.850 kali selingkuh (dalam 25 tahun)
25 tahun = 25 x 365 hari = 9125 hari, dus AVERAGE SELINGKUH = 18.850 : 9125 =
2x selingkuh/hari