Seorang istri selalu bisa memaafkan suaminya dan melupakan kesalahannya, tapi jika suaminya jatuh cinta pada wanita lain kemudian insyaf, istrinya masih bisa memaafkan kesalahan suaminya tapi tidak akan pernah melupakannya...
salam --- [EMAIL PROTECTED] wrote: > > - > > ?/div>?**************************** > > Saat Cinta berpaling Darimu ( Pengalaman sejati > seorang istri ) > ( Asma > Nadia ) > *** > Apakah dia merasa putus asa ketika mengetahui bahwa > gaji > suaminya yang > masih kuliah itu hanya 200 ribu sebulan? > Apakah dia putus > asa ketika mereka harus berpindah-pindah kontrakan > dari > satu rumah mungil ke > rumah mungil yang lain? > Apakah perempuan itu mengeluh, ketika > berbulan-bulan > hanya makan tempe > dan sayur, yang masing-masing dibeli seribu rupiah > di > warung, ketika > sang suami tak bekerja cukup lama? > Jawabannya tidak. > > Perempuan berwajah manis, yang saya kenal itu > sebaliknya selalu > terlihat > cerah, seolah permasalahan ekonomi yang menerpa > keluarga kecil > mereka, > tak berarti apa-apa. > Pun ketika kesulitan hidup terus berlanjut. > Menjelang kelahiran anak > pertama mereka, suami masih belum memiliki > pekerjaan > yang mapan. Tapi > perempuan itu tidak putus asa. Sedikitpun dia tak > menyesali > telah > menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang dia > cintai > karena > kecerdasan dan kegigihannya. Lelaki yang amat dia > hormati, yang dia > tahu > selalu berupaya sungguh-sungguh untuk > membahagiakan, dan > membuatnya > merasa seperti seorang putri. > Dan kenyataan bahwa mereka > tinggal di rumah kontrakan yang nyaris mau > runtuh, dengan kamar mandi jelek, > dan serangga di mana-mana yang kerap > membuat menimbulkan ruam merah pada > kulitnya yang putih. Perempuan itu > tidak pernah sedikitpun mengeluh. > Lalu > anak pertama lahir. Gagah, dengan alis tebal nyaris > bertaut. Dia > dan suami > menerima kehadiran pangeran kecil itu dengan hati > berbunga. > Meski mereka > harus berhutang ke sana ke mari agar biaya > kelahiran yang > melalui prosedur > caesar itu, bisa dilunasi. Sekali lagi, perempuan > itu > tidak pernah > mengeluh. > Hidup baginya adalah rentetan ucapan syukur kepada > yang kuasa, > dari > waktu ke waktu. > Ketika anak kedua mereka lahir, roda ekonomi > keluarga telah jauh lebih > baik. Laki-laki yang dicintainya mendapatkan > pekerjaan yang mapan. > Mereka tak lagi bingung memikirkan kebutuhan > sehari-hari, makan, lalu > susu buat anak-anak. > Perempuan yang saya kenal > sejak lama itu, membantu suaminya dengan > bekerja paruh waktu bagi sebuah > taman bermain anak-anak yang cukup > prestise. Seiring kehidupan yang mulai > membaik, perempuan itu tak lagi > mengerjakan semua sendiri. Apalagi seorang > buah hati lagi telah hadir. > Sang suami memintanya lebih konsen kepada > pekerjaan paruh waktu yang > digeluti istrinya. Tahun ke empat pernikahan > mereka mulai menyewa baby > sitter, ketika itu si bungsu belum lagi berusia > sepuluh bulan. > Lalu datanglah kesempatan bagi sang istri. Lembaga > tempat dia > bekerja > paruh waktu, menawarkan program training ke luar > negeri. Awalnya > sang > istri ragu, sebab dia khawatir meninggalkan > anak-anak selama dua > pekan. > Tetapi lelaki yang dicintainya memberikan support > dan mendorongnya > untuk > pergi, > "Ini pengalaman bagus buat Ibu," kata lelaki itu. > Dan > ketika dia ingin membantah, lelaki itu > menggelengkan kepalanya, > "Perempuan > lain ingin mendapatkan pengalaman berharga seperti > ini. Ibu > harus pergi. Gak > apa. Ada mbak yang menjaga anak-anak." > Dengan setengah hati perempuan > berwajah manis itu meninggalkan > keluarganya. Selama dua pekan di sana > dilaluinya dengan rindu yang > menyiksa, dan perasan berat karena selalu > terbayang anak-anak. > Naluri keibuannya rupanya tidak bisa dibohongi. > Meskipun > sang suami > selalu berkata semua baik-baik saja, perempuan itu > merasakan ada > sesuatu > yang terjadi. Dan perasaannya benar. > Anak bungsu mereka dirawat di > rumah sakit karena demam berdarah! > Suaminya yang takut membuatnya panik baru > menjelaskan ketika istrinya > pulang ke tanah air. > "Maafkan ayah, ayah > takut ibu bingung." > Perempuan itu menangis. Syukurlah kondisi putri > mereka > membaik Tapi ada > hal lain yang terjadi. Hal yang tak pernah > diduganya, hal > yang membuat > jantungnya luruh. > Suaminya jatuh cinta. > Perempuan itu > sungguh tak percaya, ketika mendengarkan ibu > mertuanya > menangis tersedu-sedu > menjelaskan apa yang terjadi. > Dunia bahagia yang selama ini dibangunnya > seakan runtuh. Apalagi ketika > mengetahu gadis cantik yang membuat suaminya > jatuh hati, adalah baby > sitter yang mereka sewa. > Mereka hanya berpegangan > tangan. Tak lebih. Elak suaminya. > Tapi hati perempuan itu telanjur hancur. > Harapan-harapan yang > dibangunnya seakan menguap. > Suaminya berpaling. > Lelaki yang telah membuatnya merasa seperti seorang > putri, jatuh cinta lagi. > > Allah... apa maksudmu dengan ini semua? Batin sang > istri yang > terkoyak. > Dengan hati hempas, dia memanggil baby sitter > mereka. Baru kali ini > si > perempuan memandang lekat-lekat gadis berusia > sembilan belas tahun itu. > > Meskipun dari desa, wajahnya memang cantik dan ayu. > Kulitnya > bersih, > rambutnya yang panjang tampak begitu mengilat. Dulu > tak > dikiranya > kecantikan lugu itu akan memorakmorandakan rumah > tangga > mereka. > Perempuan itu duduk berhadapan dengan baby sitter > yang tertunduk > salah > tingkah. > "Sudah sejauh apa?' > Baby sitter itu mengelak. Tak mau > berbicara lebih jauh. > "Apakah kamu menyukai Bapak?" > Baby sitter itu > diam. Ragu. Lalu kepalanya pelan menggeleng. > "Saya tak keberatan jika bapak > menyukaimu, dan kamu menyukai bapak, > Kalian bisa menikah!" > Saya kaget. > Saya berada di sana, menemani perempuan yang telah > lama __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com AYO GALANG SOLIDARITAS UNTUK MEMBANTU KORBAN MUSIBAH DI ACEH & DAN SUMATERA UTARA !!! ================ Kirim bunga, http://www.indokado.com Info balita: http://www.balita-anda.com Stop berlangganan/unsubscribe dari milis ini, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED] Peraturan milis, email ke: [EMAIL PROTECTED]

