At 08:53 98/11/27 +0700, you wrote:
> hallo teman-teman milis balita, mohon tips / saran dari teman-teman
> semua ... bagaimana caranya meninggalkan anak pertama saya yang baru
> berumur 3,5 tahun supaya tidak menangis sewaktu saya mau berangkat
> bekerja.
> Terima kasih.
> 

kebiasaan yang saya pakai untuk hal tersebut diatas  adalah :

semenjak umur 1 tahun(atau kalau sudah bisa mulai bicara) sewaktu kita pergi
di pamitin baik-baik, bahwa kerja itu mencari uang untuk beli makan adik dll,dll
................
sebisa mungkin jangan emosi untuk menghalangi kemauan anak, biarkan saja maunya
kalau dia sedang melakukan kemauannya diajak bicara baik-baik bahwa perbuatan
tersebut tidak boleh dll.dll.dlll.......

ini ada hasil seminar tentang potensi anak:

KERANGKA OPTIMALISASI POTENSI ANAK MUSLIM

Terdapat lima kerangka optimalisasi anak muslim :

1. Keteladanan
Adalah sarana pendidikan anak terpenting selain pembiasaan, pengawasan,
nasehat, dan konsekuensi. Janganlah kita berharap anak-anak kita
menteladani Rosululloh kalau kita sendiri tidak dapat dijadikan teladan
dalam menteladani Rosululloh.

2. Nilai
Keimanan, kebajikan, kebenaran dan kesabaran merupakan nilai-nilai yang
akan menentukan integritas, komitmen, eksistensi dan survival kita dalam
perjalanan sejarah. Semenjak dini si anak sudah harus diperkenalkan dan
dibiasakan dengan nilai-nilai yang baik terutama kejujuran dan sifat
realistis. Janganlah agar si anak menurut apa yang kita inginkan, kita
berbohong kepada si anak misal :
- nak, jangan kesana takut nanti ketemu hantu (ini membuat si anak jadi
penakut)
- nina bobo.....kalau tidak bobo digigit nyamuk (berbohong, padahal kalau
bobo justru digigit nyamuk) mestinya diganti :
  ade bobo.....sebelum bobo baca bismikallohuma ahya wa amut, dengan nama
Allah hidup dan mati ade
- Kalau anak jatuh terbentur maka jangan mejanya yang dipukul nanti si anak
terbiasa mencari kambing hitam,  tapi tanamkan bahwa itu adalah suatu
konsekuensi perbuatannya

3. Pola asuh
Tahukah anda bahwa berdasarkan survey pada anak-anak selama usia SD
(Sekolah Dasar), waktu yang dihabiskan di bangku sekolah adalah sebanyak
10.800 jam sedangkan waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi adalah
sebanyak 18.000 jam. Apakah kita bisa menjamin bahwa anak lebih diasuh oleh
sekolah dibanding diasuh oleh Televisi ?
Secara garis besar Pola asuh dibagi 3 :
- Pola asuh koersif / represif akan menghasilkan ketertiban tanpa kebebasan
- Pola asuh permisif akan menghasilkan kebebasan tanpa ketertiban
- Pola asuh dialogis akan menghasilkan kebebasan dan ketertiban

Mungkin kebanyakan kita terbiasa dengan pola asuh koersif ini sehingga
cenderung meneruskannya kepada anak-anak kita. Pola asuh ini hanya akan
melahirkan anak yang patuh hanya pada saat didepan orang tuanya, walaupun
itu dicapai dengan banyak melahirkan kebohongan.

Sedangkan Pola asuh permisif ini banyak ditemui di Negara-negara Barat
(atau Indonesia sedikit-sedikit telah terimbas). Ada suatu contoh kasus di
Belanda. Di negeri tsb Sex telah merupakan suatu kebutuhan biologis yang
levelnya setingkat dengan makan dan minum sehingga termasuk HAM, sehingga
siapapun yang melarang aktivitas sex seseorang termasuk itu orang tuanya,
maka dipandang sang penghalang itu melanggar HAM. Pada suatu hari seorang
remaja putri 17 tahun meminta ijin kepada orang tuanya untuk mengikuti
acara makan malam dengan pacarnya. Apa yang bisa dikatakan ibunya ? Jangan
lupa minum pil anti hamil nak !
itulah upaya maksimal sang ibu menasihati anak karena bila lebih dari itu
maka si ibu dipandang melanggar HAM !

Pola terbaik yang dicontohkan Islam adalah pola asuh dialogis, syaratnya
dibangun sifat jujur dan realistis dari seluruh anggota keluarga. Kita
lihat kisah Nabi Ibrahim sewaktu tiga kali bermimpi diperintah Allah untuk
menyembelih anaknya. Kita tahu mimpi seorang nabi adalah wahyu. Tapi apakah
Nabi Ibrahim saat itu tanpa ba bi bu lagi menyembelih anaknya ? Tidak. nabi
Ibrahim saat itu memanggil anaknya dan melakukan dialog dengan ismail
mengenai perintah Allah tsb.

4. Program Pembinaan
Program ini terdiri dari beberapa subprogram pembinaan
- Lifeskills merupakan keterampilan hidup yang dapat diterapkan di semua
bidang
- Emotional Quotien memiliki peranan 80% dalam sukses seseorang sedangkan
IQ hanya 20%
- Kreatifitas merupakan ciri setiap anak kemudian orang tualah yang
membunuhnya
- Physical Quotient yang tinggi akan menyebabkan seorang mukmin lebih baik
dan lebih dicintai Allah
- Critical Thinking terhadap Creative Thinking memiliki kedudukan serupa
seperti hanya EQ terhadap IQ

5. Lingkungan
Keluarga, Masyarakat dan sekolah seharusnya merupakan lingkungan kondusif
yang terintegrasi bagi pendidikan anak bukan merupakan bagian yang terpisah
dan paradoksal. Misalnya masyarakat menginginkan seorang anak yang sholeh,
tetapi pada saat dia benar-benar bertemu anak yang sholeh maka kadang
masyarakat malah sinis dengan memberikan beberapa julukan : sok alim-lah,
sok tua-lah, dll

Sekian semoga bermanfaat



---------------------------------------------------------------------
"Milis Bagi Orangtua Yang Menyayangi Balitanya"
To subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Kirim email ke