Artikel ini saya peroleh dari majalah Intisari:
http://www.indomedia.com/intisari/1998/agustus/ogah.htm

ANAK OGAH MAKAN, SALAH ORTU

Kalau seorang anak ogah-ogahan makan, bisa jadi bukan faktor si anak tetapi
lantaran kesalahan ortu (orang tua) dalam menerapkan pola makan pada anak.
Lantas apa yang harus dilakukan? Berikut paparan Dr. Ali Khomsan, ahli gizi
yang juga dosen GMSK, Faperta IPB.

Asupan gizi yang baik sering tidak bisa dipenuhi oleh seorang anak karena
faktor dari luar dan dalam. Faktor luar lantaran keterbatasan ekonomi
keluarga. Sedangkan faktor internal ada dalam diri anak yang secara
psikologis muncul sebagai problema makan anak.

Problema makan ini misalnya dijumpai dalam bentuk anak enggan makan.
Perilaku ogah makan bukanlah persoalan sepele. Tidak ada obat mujarab yang
bisa segera memulihkan nafsu makan anak. Anak yang malas makan selalu
berusaha mencari-cari alasan untuk tidak makan. Misalnya dengan ngemut
makanan, mempermainkan, atau memuntahkan makanan.

Picky eater (pilih-pilih makanan) sering dijumpai pada anak yang membuat
orang tua bingung. Anak yang cenderung berperilaku picky eater akan
mengalami kesulitan dalam meramu variasi makanan untuk memenuhi kecukupan
gizinya. Makanan yang dikonsumsi sehari-hari cenderung seragam, padahal
keanekaragaman makanan merupakan cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Anak-anak ini pun bisa saja setelah besar tidak mau mengkonsumsi makanan
yang keras. Bahkan nasi pun harus diganti bubur.

Mengapa problema makan ini muncul pada anak? Secara psikologis dapat
diterangkan, perilaku makan timbul karena anak meniru atas apa yang
dilakukan oleh anggota keluarga lainnya. Anak yang tumbuh dalam lingkungan
keluarga yang enggan makan, lantaran diet misalnya, akan mengembangkan
perilaku enggan makan pula.

Perilaku sulit makan juga dapat timbul karena orang tua tidak mengakui ego
anak. Orang tua selalu memaksakan anak harus makan ini-itu dengan porsi yang
sudah ditentukan. Misalnya dengan mengharuskan menghabiskan makanan di
piring. Maksud orang tua mungkin benar mereka menginginkan anaknya tumbuh
sehat dengan gizi cukup. Tetapi mereka kurang menyadari kalau makan bukan
melulu persoalan gizi tetapi terdapat pula unsur psikologis.

Soalnya, anak balita dalam rangka menuju proses kemandirian sebenarnya ingin
pula diakui egonya. Jadi, sekali-kali beri mereka kebebasan untuk mengambil
makanan sendiri tanpa harus disuapi.

Ulah ortu
------------
Ada perbedaan mendasar bagaimana orang Barat mempersiapkan proses
kemandirian anak dibandingkan dengan orang Timur. Di sini kita selalu
cenderung meladeni anak, termasuk dalam hal makan karena tidak ingin makanan
tumpah berceceran. Membuang-buang makanan adalah tabu dan bisa kualat.
Sehingga dalam masyarakat kita bisa dijumpai orang tua masih menyuapi anak
yang sudah kelas V SD. Hal ini nyaris tidak kita temukan pada masyarakat
Barat yang sejak dini melatih anak untuk bisa makan sendiri.

Perilaku makan yang kurang pas sering kali muncul karena ulah orang tua.
Semisal kebiasaan untuk menenangkan anak yang sedang rewel dengan cara
membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.).
Anak yang sudah mengkonsumsi makanan padat kalori perutnya akan segera
kenyang sehingga ia tidak mau makan.


Variasi makanan sangat menunjang tumbuh kembang anak.
--------------------
Karena itu kegiatan makan bagi seorang anak harus dibuat dalam suasana yang
menyenangkan. Jangan ada unsur paksaan sehingga timbul kesan saat makan
menjadi sesuatu yang menjengkelkan atau bahkan merupakan hukuman. Kebiasaan
makan bersama yang sudah mulai ditinggalkan ada baiknya dihidupkan lagi.
Anak balita pun bisa merasakan nikmatnya makan bila semua anggota keluarga
duduk bersama-sama di meja makan.

Problema makan pada anak dapat berakibat buruk bagi tumbuh kembang anak.
Sedikitnya makanan yang masuk ke dalam perut anak dapat menjadi indikasi
bahwa anak itu mempunyai peluang besar untuk menderita kurang gizi.
Indikator status gizi kurang dicerminkan oleh berat badan atau tinggi badan
anak di bawah standar.

Dengan menggunakan ukuran standar sebagai pembanding kita dapat mengetahui
status gizi seorang anak. Di dalam Kartu Menuju Sehat (KMS), yang dibagikan
secara gratis bagi peserta program Posyandu, tergambar grafik pertambahan
berat badan berdasarkan usia anak. Melalui penimbangan anak balita setiap
bulan dapat diketahui kecenderungan status gizi seorang anak.

Mereka yang mengalami kegagalan pertumbuhan (berat badan tetap atau turun
dalam penimbangan bulan berikutnya) sering disebabkan oleh kekurangan gizi
atau sakit. Anak-anak itu mengalami kekurangan gizi karena kurangnya makanan
di tingkat rumah tangga.

Anak balita memang sudah bisa makan apa saja seperti halnya orang dewasa.
Tetapi mereka pun bisa menolak bila makanan yang disajikan tidak memenuhi
selera mereka. Oleh karena itu sebagai orang tua kita juga harus berlaku
demokratis untuk sekali-kali menghidangkan makanan yang memang menjadi
kegemaran si anak.

Faktor psikososial yang bisa mempengaruhi nafsu makan anak bisa timbul
karena pemberian makan yang terlalu tergantung pada seseorang. Misalnya,
anak balita yang biasa disuapi pembantu mungkin nafsu makannya berkurang
ketika harus makan bersama-sama ibunya yang selama ini selalu sibuk di
kantor. Yang paling baik adalah menciptakan suasana sosial yang seimbang di
dalam rumah tangga sehingga anak balita merasa dekat dengan semua anggota
rumah tangga dan mau makan dengan siapa saja.

Susu tidak wajib
------------------
Asupan gizi yang baik tentu berperan penting dalam mencapai pertumbuhan
badan yang optimal. Pertumbuhan badan yang optimal ini mencakup pula
pertumbuhan otak yang sangat menentukan kecerdasan seseorang.


Makanan siap saji cenderung tak seimbang kandungan gizinya.
----------------------
Masa pertumbuhan otak tercepat adalah pada trisemester ketika janin berada
dalam kandungan sampai bayi berusia 18 bulan. Setelah itu otak masih tumbuh
dengan kecepatan yang semakin berkurang sampai usia lima tahun. Oleh karena
itu usia balita ini sangat rawan terhadap kondisi-kondisi kurang gizi.

Pada usia rawan ini banyak orang tua yang mempunyai persepsi keliru mengenai
makanan untuk anaknya. Misalnya, bayi sampai usia empat bulan sebenarnya
cukup kalau hanya diberi ASI oleh ibunya tanpa tambahan makanan apa pun. Hal
ini sesuai dengan sistem enzim dalam pencernaan bayi yang masih didominasi
oleh enzim laktase untuk memecah laktosa susu.

Tetapi sebagian orang tua menganggap bayi akan kelaparan tanpa makanan
tambahan sehingga mereka memperkenalkan pisang, bubur, dan sebagainya.
Padahal jenis makanan ini memerlukan kehadiran enzim maltase untuk memecah
maltosa (karbohidrat) pada pisang atau bubur. Enzim maltosa umumnya belum
banyak diproduksi oleh bayi di bawah usia empat bulan. Kesalahan dalam
memberikan makanan ini tentu membuat tubuh bayi tidak dapat mencerna dengan
sempurna makanan yang diberikan oleh ibunya sehingga sari makanan tidak
dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Akhirnya, bayi bisa terhambat kecerdasannya.

Setelah anak berusia dua tahun sebenarnya kehadiran susu dalam menu
sehari-hari bukanlah hal wajib. Yang penting aneka ragam makanan dikonsumsi
dengan cukup. Dengan memperhatikan 4 sehat saja (nasi, sayur, lauk, dan
buah), anak-anak setelah usia dua tahun dapat tumbuh secara baik.

Namun kenyataannya, orang tua seolah memaksa anak agar mengkonsumsi susu
banyak-banyak dan membiarkan anak mengurangi porsi makannya. Padahal makan
dengan porsi tiga kali sehari lebih penting daripada minum segelas atau dua
gelas susu. Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan dewa yang bisa
menggantikan nasi, sayur, dan lauk pauk.

Susu dari sudut pandang gizi bukanlah sumber protein tetapi lebih tepat
sumber kalsium dan fosfor. Kalsium dan fosfor ini dengan mudah kita dapatkan
dalam ikan teri atau ikan sarden. Sementara sumber protein utama kita adalah
nasi serta lauk-pauk. Jadi, dengan konsumsi 4 sehat tanpa 5 sempurna pun
anak-anak kita setelah usia dua tahun bisa tumbuh dengan optimal. Juga
pertumbuhan tinggi badannya.

Perawakan tinggi ini ditentukan oleh banyak faktor. Faktor genetik atau
potensi biologik menjadi modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses
tumbuh kembang. Tinggi badan seorang anak akan dipengaruhi tinggi badan
kedua orang tuanya. Kita tidak bisa mengharapkan anak tumbuh tinggi bila
orang tuanya pendek atau sebaliknya.

Selain itu ada pula faktor hormonal. Hormon yang sangat penting untuk
pertumbuhan adalah hormon pertumbuhan, hormon tiroid, dan hormon seks.
Hormon pertumbuhan diperlukan untuk merangsang perkembangan tulang panjang.
Anak-anak yang menderita kekurangan hormon pertumbuhan hanya akan mempunyai
tinggi akhir 120 cm pada masa dewasanya. Hormon tiroid berperan besar dalam
metabolisme tubuh. Sedang hormon seks menentukan pertumbuhan anak pada masa
pubertas. Jadi kalau ada anak disunat menjelang pubertas, sesudahnya dia
tumbuh secara lebih cepat karena aktivitas hormon seks. Bukan khitan itu
yang menyebabkan seseorang tumbuh lebih cepat.

Ukuran perawakan tinggi sebagai manifestasi ketiga faktor di atas
berbeda-beda untuk setiap populasi. Tinggi untuk ukuran kita belum tentu
demikian untuk orang Eropa atau Amerika. Masyarakat kita bahkan mungkin
belum bisa mentoleransi anak perempuan yang tingginya 175 cm.

Tapi pada era globalisasi ini tinggi badan menjadi sesuatu yang tidak bisa
diabaikan. Soalnya, berbagai formasi pekerjaan mensyaratkan ukuran tinggi
badan tertentu. Kalau dulu hanya ABRI dan awak pesawat udara, kini semakin
banyak sektor yang menginginkan pegawainya berperawakan tinggi. Nah, ada
baiknya para orang tua lebih memperhatikan perlaku makan putra-putrinya.


� 1996 - 1998 Intisari Online



Himbuan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang !

---------------------------------------------------------------------
"Milis Bagi Orangtua Yang Menyayangi Balitanya"
To subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Kirim email ke