Assalamu'alaikum wr. wb. maaf Saya baru ikutan milist ini, dan kebetulan sempat baca e-mailnya Ibu Surii, terus terang Saya jadi teringat kembali pengalaman pahit yang pernah Saya alami 3 tahun lalu, sebenarnya Saya ingin menguburnya tapi sekarang Saya berpikir lain, siapa tahu ini akan menjadi informasi yang berguna bagi rekan-rekan semua. Kejadiannya begini, waktu itu akhir Agustus 1996 Saya kebetulan dapat fasilitas general check-up di salah satu RS AD terkenal di Jakarta (bahkan di Indonesia juga ya, soalnya mantan presidenpun dulu sering dirawat disitu). Waktu itu Saya sudah hamil jalan 5 bulan. Dari pagi Saya sudah keliling ke beberapa dokter untuk periksa macam-macam, dan pelayanannya lumayan bagus dan menyenangkan (karena hampir setiap dokter yang periksa selalu nanya "Ibu lagi hamil ya ? mungkin karena lihat perutku agak buncit..). Tiba waktunya periksa bagian dalam oleh DSOG, waktu itu yang periksa dr K (sudah agak tua dan awalnya simpatik karena sebagaimana dokter-dokter lainnya, dia juga beramah-ramah dan sempat tanya "lagi hamil ya ?!) dan dengan sumringah dan bangga Saya selalu menjawab "Iya dok, jalan lima bulan". dr K lalu menyuruh Saya untuk ke tempat periksa, mau di papsmer. Terus terang Saya suka takut kalau diperiksa pake acara dicolok-colok (maaf) begitu. Sebelumnya Saya pernah diperiksa begitu waktu kandungan 1 bulan dan Saya mengalami flek (selama itu Saya pakai 2 dokter kandungan, satu dekat rumah satu dekat kantor, sepertinya keduanya tidak pernah periksa colok-colok begitu kalau tidak perlu seperti waktu saya kena flek). Tapi ya ampun hampir 10 menit lebih vagina Saya dicolok-colok dan dimasukkan alat semacam besi (Saya ngga tahu namanya), tapi tidak selesai-selesai sampai Saya merasa kesakitan dan mengaduh-aduh, dokternya nyeletuk, "ah ini sih ngga hamil, Saya ngga nemu mulut rahimnya". Coba bayangkan gimana kagetya Saya waktu itu. Dalam pikiran Saya sudah terbayang berbagai macam penyakit seperti kanker atau hamil anggur atau apalah yang jelek-jelek. Lalu Saya disuruh pindah tidur di ranjang biasa, dan tangan dr K itu menekan-nekan perut Saya yang sudah membuncit, agak lama juga nekan-nekannya bahkan dia agak ngomel, "Ibu jangan gembung-gembungkan perut ibu donk !" Lalu Saya dengan takut-takut berusaha menahan nafas agar perut Saya tidak begitu buncit (coba bayangkan lagi gimana nyeseknya perasaan Saya waktu itu). Suster disitu mencoba menawarkan agar menggunakan alat untuk mendengarkan detak jantung bayi setelah Saya bilang bahwa detak jantung Bayi Saya sudah terdengar oleh dokter yang memeriksakan Saya, eh dokter itu malah bilang "kamu saja, Saya yakin koq kalau dia itu ngga hamil !". coba bayangkan gimana kurang ajarnya dokter itu. Setelah diperiksa, Saya mencoba bertanya dengan baik-baik (dengan kondisi jantung yang sangat berdegup-degup dan perasaan sangat kacau, antara takut, ingin nangis, ingin teriak, malu dsb) kira-kira penyakit apa yang terjadi pada Saya. Dijawabnya "Saya belum tahu, tapi Ibu harus di USG" Waktu itu Saya minta di USG saat itu juga tetapi dokter itu bilang, katanya USG hanya bisa hari Senin dan tempatnya juga dibelakang gedung ini ! (waktu Saya kesitu hari Sabtu) Saya lalu diberi surat pengantar. 2 hari 2 malam Saya merasa ketakutan dan sangat sedih, walaupun suami Saya selalu menghibur Saya. Saya & Suami waktu itu memutuskan akan USG di RS itu lagi aja biar langsung ditangani oleh dr K yang menurut kami tahu permasalahannya. Selain kami awam, tidak tahu tentang masalah penyakit, apalagi itu adalah kehamilan pertama Saya. Ternyata Hari Senin itu yang bertugas USG adalah dr Yudi, dokter muda dan simpatik karena begitu sabarnya melayani pasiennya yang sudah down kayak Saya. Dan alhamdulillah, baru sebentar saja si jabang bayi sudah kelihatan di monitor. Setelah Saya cari tahu kepada pegawai RS yang mengantar-antar Saya, kenapa dr K itu bertindak begitu, ternyata katanya dokter itu mungkin lagi power sindrome karena menghadapi masa pensiunnya, karena selain Saya ada satu orang lain lagi yang divonis tidak hamil. Kejadian ini Saya laporkan ke Direksi tempat Saya bekerja dan pihak SDM-pun langsung men-stop kerja sama General Check-up dengan RS itu. dr K sama sekali tidak datang, hanya menyampaikan kata maaf melalui seorang dokter dan seorang suster (maaf namanya sudah lupa) yang datang ke kantor Saya (mewakili pihak RS katanya). Teman-teman Saya yang mendengar kasus Saya waktu itu, ada yang menganjurkan untuk menuntut, buat surat pembaca, dsb, tetapi semuanya tidak Saya lakukan, karena waktu itu Saya sangat trauma, takut dan sedih, apapun bagi Saya yang penting waktu itu janin Saya ada, dan tumbuh dengan baik. Waktu itu Saya tidak ingin neko-neko. Kalau dipikir-pikir memang koq Saya seperti di pihak yang lemah. Habis mau gimana lagi, proses hukum, pengadilan resmi atau ke IDI ?!, wah bakal lebih panjang lagi urusannya. Kalau menghadapinya sekarang, kali Saya juga mau (maaf, dendamnya jadi keluar lagi). Anak lelaki Saya sekarang sudah dua setengah tahun, alhamdulillah dia sehat-sehat aja. Demikian, mudah-mudahan pengalaman Saya dapat menjadi perhatian para calon Ibu lainnya. Terima kasih. Wassalamu'alaikum wr. wb. Anna Dwiyana From: Rika - Subject: [balita-anda] Re: Pengalaman seorang ibu kehilangan anak pertamanya]] Date: Thu, 19 Aug 1999 21:55:11 -0700 Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com "Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas" ------------------------------------------------------------------------ Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED] EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/
