Pak Maswir,

Saya anjurkan sebaiknya Bapak langsung periksa ke RSB tsb; bukan saja soal 
tarif, tapi juga lihat kamar bayinya (termasuk bagaimana para suster 
meng-'handle' bayi tsb), periksa kamar pasiennya, kamar bersalinnya, juga 
bisa di-cek langsung ttg kesiapan dan keramahtamahan para dokter dan 
susternya. Juga bisa ditanyakan bagaimana prosedur melahirkan normal maupun 
dg tindakan (spt caesar, vacuum dlsb), dlsb. Mungkin dg begitu Bapak bisa 
kemudian menentukan pilihan RS tsb atau malah ingin pindah ke tempat lain.

Saya memberikan saran ini berdasarkan pengalaman saya waktu mau melahirkan 
dulu. Saya selalu periksa rutin di RS Mitra Keluarga Bekasi. Pd usia 
kandungan hampir 8 bulan, kami memutuskan utk melihat-lihat suasana RS tsb 
(Juni 98) dan mengetahui lebih banyak ttg RS tsb. 

Ternyata, kamar bayinya dipisahkan dr kamar ibu/pasien. Kamar bayi berada 
di lantai 1, berdekatan dg tangga keluar/masuk dan langsung ke jalan tempat 
mobil lalu lalang dan parkir (bayangkan kebisingan mobil, polusi, banyaknya 
orang yg keluar masuk). Sedangkan jika saya pilih kamar VIP (lantai 4 atau 
5) maka setiap menyusui atau waktu berkunjung (tidak ada rooming in dalam 
arti bayi ditinggal bersama Ibu selama 24 jam), bayi akan dibawa dr kamar 
bayi, melalui aula besar (tempat receptionist umum serta banyak pasien 
mengantri serta orang menunggu), lewat lift (juga dipakai utk membawa 
pasien dan pengunjung umum), baru ke kamar Ibu. Bayangkan, bayi yg masih 
rentan melewati begitu banyak 'sumber penyakit' (dalam arti pasien-pasien 
yg ada mengantri maupun menggunakan fasilitas umum tsb) dan kebisingan RS. 
Juga, ketika kami melihat kamar bayinya, cukup besar (dg banyak bayi) tapi 
kok suster jaganya hanya 2 orang (jadi rasio bayi banding suster sangat 
besar). Kamar bersalinnya juga tertutup dan kami tidak dibenarkan utk 
melihat-lihat.

Oleh krn itu, kami putuskan utk pindah ke Rumah Sakit Ibu dan Anak (jadi 
'lingkungan penyakitnya' hanya Ibu dan Anak dan bukan penyakit umum 
lainnya), di mana kamar bayinya lebih kecil (biarpun hanya ada 2 suster, 
tapi jumlah bayi per suster lebih sedikit), dan hanya beda 1 lantai dg 
kamar pasien/ibu (bisa lewat tangga tanpa harus melalui jalan utk umum). 
Keadaan spt inipun masih saya sesali krn ternyata juga tidak rooming in 
bersama bayi saya, sehingga produksi ASI saya tidak selancar kalau saya 
diberi kesempatan bersama bayi saya selama 24 jam.

OK deh, sekian input dari saya. Happy exploring dan semoga semuanya 
berjalan lancar.Salam, 

Zullia Saida
OFfice of Transition Initiative (OTI)
United States Agency for International Development (USAID)
American Embassy
Jl. Merdeka Selatan 3-5,Jakarta 10110
Phone : (62-21) 344 2211 ext. 2356
Fax   : (62-21) 3483 0916
e-mail: [EMAIL PROTECTED]


-------------
Original Text
From: "Andrie MASWIR" <[EMAIL PROTECTED]>, on 10/28/99 12:29 PM:
To: internet[<[EMAIL PROTECTED]>]

Dear All,

Terima kasih buat yang sudah reply pertanyaan saya tentang RSB Bunda, and 
sekarang saya mau tanya lagi kepada bapak & ibu yang punya pengalaman di 
RSB Bunda berapa harga untuk kamar VVIP

THX

Andrie MASWIR
[EMAIL PROTECTED]




Kunjungi:
http://www.balita-anda.indoglobal.com
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"

------------------------------------------------------------------------
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]
EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/ 
http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet






Kirim email ke