Bp. Rumadi Hartawan, Terima kasih atas artikelnya yang bagus. kalau adalagi artikel lain kirim2 lagi ya pak. Ibu Sofi. -----Original Message----- From: Rumadi Hartawan [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Tuesday, November 23, 1999 2:47 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [balita-anda] Membangun Anak Berprestasi MEMBANGUN ANAK BERPRESTASI dari: http://www.indomedia.com/intisari/1999/maret/prestasi.htm Mendidik anak di zaman serba kompleks nilai macam sekarang memang gampang-gampang susah. Ditangani dengan tangan besi, bisa-bisa ngambek. Kalau serba boleh, anak jadi manja dan semau gue. Lewat disertasinya, Dr. M. Enoch Markum membuktikan, pola asuh otoritatif sangat efektif untuk menunjang anak berprestasi tinggi. Apa kelebihan pola asuh ini? Sejak menikah, Anna (bukan nama sebenarnya) punya obsesi mempunyai anak yang cerdas. Maka, ketika hamil, ia sangat memanjakan janin dalam kandungannya. Setiap hari ia mengkonsumsi makanan bergizi, bervariasi, dan seimbang plus melahap berbagai makanan tambahan. Sementara itu Ibu Siska merasa cemas, anak perempuannya yang duduk di kelas I SD sering kedodoran dan selalu mendapat angka merah untuk setiap mata pelajaran ilmu pasti yang banyak dihantui murid itu. Maka ia pun mendatangkan guru di rumah untuk memberikan pelajaran tambahan demi mendongkrak nilai-nilai ilmu pasti anaknya yang hampir selalu jeblok. Kedua ibu itu hanya sedikit contoh dari hampir setiap orang tua yang memiliki keinginan dan harapan yang besar agar anak-anaknya tumbuh menjadi anak cerdas dan berprestasi tinggi di sekolah. Dalam contoh, ibu yang satu melakukan pendekatan dengan menekankan asupan gizi yang baik sejak dini. Sedangkan ibu yang lain dengan menambah porsi belajar melalui pemberian pelajaran tambahan. Namun, hal yang juga patut dicatat, prestasi di sekolah, juga yang lebih penting nantinya prestasi dalam karir ataupun dalam kehidupan bermasyarakat, sangat tergantung pada bagaimana orang tua menerapkan pola asuh yang tepat buat anak-anaknya. Melalui disertasinya untuk meraih gelar doktor, M. Enoch Markum melakukan studi tentang pola asuh pendukung prestasi tinggi. Atas dasar hasil studi yang pernah dilakukan oleh D. Baumrind, staf pengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini menggolongkan pola asuh anak menjadi tiga: pola asuh otoriter, permisif, dan otoritatif. Secara umum dalam pola asuh otoriter orang tua sangat menanamkan disiplin dan menuntut prestasi tinggi pada anaknya. Hanya sayang orangtua tidak memberikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pendapat, sekaligus menomorduakan kebutuhan anak. Kebalikan dari pola asuh otoriter adalah permisif. Dalam golongan ini orang tua bersikap demokratis dan penuh kasih sayang. Namun, di sisi lain kendali orang tua dan tuntutan berprestasi terhadap anak itu rendah. Anak dibiarkan berbuat sesukanya tanpa beban kewajiban atau target apa pun. Sementara itu pola asuh otoritatif muncul bila orang tua menerapkan kendali yang tinggi pada anak. Ia pun menuntut prestasi tinggi, tapi dibarengi sikap demokratis dan kasih sayang yang tinggi pula. Pola asuh model ini kuat dalam kontrol dan pengawasan, tetapi tetap memberi tempat bagi pendapat anak. "Peran ibu amat besar," kata Dr. M. Enoch Markum Untuk sampai pada kesimpulan akhir pola asuh mana yang paling efektif, Enoch yang mantan ketua Jurusan Psikologi Sosial Fakultas Psikologi UI, 1984 - 1986, itu mengumpulkan subjek penelitian dan membaginya ke dalam dua kategori. Kelompok pertama adalah mahasiswa berprestasi tinggi. Golongan ini adalah mahasiswa yang dinyatakan sebagai juara I dan atau juara II dalam pemilihan mahasiswa berprestasi utama tingkat nasional tahun 1996 dan 1997. Ia paling tidak duduk di semester VI dengan minimal indeks prestasi kumulatif 2,75. Kelompok kedua adalah mahasiswa berprestasi rendah. Di dalam kategori ini adalah mahasiswa yang tercatat tidak mengikuti pemilihan mahasiswa berprestasi utama tingkat perguruan tinggi, karena indeks prestasi kumulatif mereka pada semester VI kurang atau sama dengan 2,00. Hasil penelitian itu akhirnya ia tuangkan dalam disertasinya "Sifat Sumberdaya Manusia Indonesia Penunjang Pembangunan; Suatu Studi Tentang Prasyarat Sifat, Latar Belakang Keluarga dan Sekolah dari Individu Berprestasi Tinggi". Suami dari Judiawati Markum ini akhirnya sampai pada kesimpulan, pola asuh otoritatif yang dilakukan di rumah dan di sekolah merupakan lahan subur bagi munculnya individu berprestasi. Disertasi yang ia pertahankan dengan predikat cum laude di hadapan Senat Guru Besar Universitas Indonesia pada Desember 1998 lalu itu juga menyimpulkan, pola asuh otoritatif akan mendorong pembentukan sifat kerja keras, disiplin, komitmen, prestatif, mandiri, dan realistis pada individu. Sementara sifat yang paling besar kontribusinya bagi tinggi- rendahnya prestasi adalah sifat disiplin. Ruang tawar-menawar Lalu, bagaimana menerapkan pola asuh yang prospektif itu? Menurut mantan Direktur Kemahasiswaan Ditjen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ini, pola asuh otoritatif bisa dilakukan sejak dini. Misalnya saja dengan memberi target belajar. Taruhlah dua atau tiga jam setiap hari. Kalau ini sudah disepakati antara orang tua dan anak, maka penerapannya terserah pada anak. Mau dihabiskan dua jam sekaligus atau dibagi dua menjadi sejam-sejam. Atau barangkali anak mau menonton dulu acara TV kesukaannya. Bisa juga anak ingin pergi berenang sore hari dan baru mengerjakan PR malam harinya. "Dalam hal ini orang tua pun bisa memenuhi keinginannya asalkan janji anak untuk belajar dan mengerjakan PR tetap dilakukan," katanya. Dalam ilustrasi itu tampak bahwa pola ototritatif memberi ruang tawar-menawar antara orang tua dan anak. Orang tua bersedia mendengarkan keinginan anak, sementara anak tetap diberi suatu target yaitu belajar. Pada praktiknya, pola asuh ini juga memberikan "pendidikan" pada orang tua, misalnya mereka yang mendidik secara otoriter. Soalnya, ia harus belajar mengendalikan diri untuk tidak memaksakan kehendak dan siap bertukar pikiran dengan anak. Begitu pun orangtua yang selama ini permisif. Ia harus berani memberi batasan dan target yang realistis. Cuma perlu diingat, penerapan berbagai aturan itu tidak bisa disamaratakan. Aturan keluarga yang satu tidak bisa diterapkan begitu saja pada keluarga lain. Karena itu segala aturan yang akan diberlakukan sebaiknya dibicarakan dan disepakati lebih dulu antara orang tua dan anak. Kepekaan orang tua terhadap kebutuhan dan perasaan anak menjadi salah satu unsur sentral dalam pola asuh otoritatif. "Jangan sampai terjadi semua orang ada di rumah, tetapi tak ada komunikasi dan sibuk dengan dunianya sendiri. Ayah baca koran, ibu sibuk di dapur, sementara anak diam menonton televisi," tandas Enoch. Karena itu, menurut dia, kegiatan bersama menjadi teramat penting. Misalnya, makan malam bersama atau nonton TV bareng. Di situlah orang tua bisa menyerap keinginan si anak. Untuk melatih kepekaan tehadap kebutuhan orang lain, Enoch menyarankan para orangtua mengikuti pelatihan kepekaan (sensitiveness training) seperti yang kini tengah digalakkan di New York. Di banyak kota besar di Amerika orang merasa hanya berupa "nomor", tanpa sentuhan kemanusiaan yang memadai. Dalam kacamata Enoch untuk bisa menerapkan pola asuh ini idealnya orang tua memiliki latar belakang pendidikan yang memadai. Pasalnya, pola asuh model ini membutuhkan penalaran tertentu. Tidak bisa asal larang. Orang tua harus bisa menjelaskan mengapa ia melarang sesuatu atau memberi target tertentu secara rasional. Ini untuk menghindarkan debat kusir atau anggapan anak bahwa orang tuanya cerewet lantaran asal larang. Enoch pun menepis anggapan bahwa anak belum bisa menerima penjelasan yang masuk akal. "Justru itu persepsi orang tua yang salah lantaran selalu menganggap anak masih kecil sehingga tidak perlu diajak berembug soal apa pun," katanya. Pun keberhasilan pola asuh otoritatif harus pula ditunjang oleh peranan para guru di sekolah. Idealnya, pola asuh di rumah dan pembinaan para guru di sekolah tidak jauh berbeda. Sebab, sekolah merupakan lingkungan kedua setelah rumah, yang dapat membentuk sifat seseorang. Enoch memberi contoh, Dr. H. Arief Rachman, M.Pd., kepala sekolah SMU IKIP Jakarta (Lab School), sekaligus dosen luar biasa di Fakultas Psikologi UI, ia anggap sebagai guru "ideal". "Beliau tahu persis siapa muridnya," katanya. Menurut Enoch, Arief Rachman tahu jika si A, misalnya, suka dijemput ibunya sepulang sekolah. Ketika dilihatnya si A belum pulang, ia akan bertanya, "Belum dijemput ibu, ya?" Atau si B yang pernah mengeluh kesulitan dalam matematika. Saat bertemu, ia akan bertanya, "Bagaimana dengan masalah matematikanya?" Ibu pegang peranan Agaknya, bila pola asuh otoritatif ini dilakukan, peranan ibu sangatlah besar dalam menanamkan kebiasaan yang baik. "Bukannya ayah tidak berperanan tetapi peran ibu lebih nyata," jelas bapak tiga putri yang semuanya sarjana sastra itu. Coba perhatikan saja betapa ibu lebih peduli dengan tetek-bengek sehari-hari. Mulai dari soal gosok gigi, ganti baju, menaruh sepatu di rak, kemudian makan sepulang sekolah. Jadi, ibulah yang lebih banyak peranannya dalam menanamkan segala tindakan yang nyata sehari-hari, termasuk juga cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur, dan kebiasaan lain. Kalau kebiasaan-kebiasaan yang baik seperti gosok gigi, cuci tangan sebelum makan, cuci kaki sebelum tidur terus-menerus ditanamkan lama-kelamaan akan terbentuk sifat bersih. Sifat ini akan melekat, bahkan bisa menjadi aktif dalam bentuk mengoreksi atau paling tidak mempertanyakan mengapa orang lain tidak melakukan hal seperti dia dalam soal kebersihan. Lewat penanaman kebiasaan ini pun kedisiplinan bisa ditanamkan karena kedisiplinan juga merupakan produk kebiasaan. Misalnya, kebiasaan menyeberang jalan pada tempatnya, tepat waktu dalam berjanji, atau antre ketika membeli karcis di loket. Berhubung pembentukan sifat itu merupakan proses yang memerlukan waktu, maka kebiasaan-kebiasaan baik itu idealnya mulai ditanamkan sejak dini. Dengan bertambahnya umur dan penalaran, anak akan makin menyadari, misalnya manfaat gosok gigi pada waktunya, mencuci kaki sebelum tidur, mencuci tangan sebelum makan. Bagaimana besarnya peranan ibu, penyandang Satya Lencana Penegak '66 itu mengambil contoh kesuksesan negara Jepang. Menurut dia, sukses Negeri Sakura itu adalah sukses anak-anak di bawah didikan ibu Jepang yang amat peduli pada pendidikan anak. Kaum ibu di Jepang bukan hanya sibuk di dapur, tetapi mereka juga aktif terlibat dalam proses pendidikan anak-anaknya. Demikian besar pelibatan diri ibu di Jepang sampai-sampai mereka rela tidak menonton TV. Tetapi justru ikut bersekolah pada "sekolah untuk ibu", membantu pekerjaan rumah anaknya, dan bila diperlukan mencari pekerjaan paruh waktu untuk membiayai les tambahan anaknya. Ibu yang seperti ini di sana dijuluki sebagai kayoiku mama, ibu pendidik. Ibu yang bekerja atau berkarir, menurut Enoch, pun tidak ada masalah. "Yang penting harus ada komunikasi. Ibu bisa saja mencek kebutuhan anak lewat telepon. Bukankah sekarang eranya komunikasi canggih, ada handphone?" jelas pria kelahiran Cirebon tahun 1942 ini. Enoch Markum mengakui beratnya tantangan yang harus dihadapi para orang tua di zaman sekarang lebih-lebih di kota-kota besar. Karena itu tak ada salahnya bila orang tua juga ikut "belajar" dan mengembangkan diri secara informal dengan bertukar pikiran dan pengalaman antarsesama orang tua, atau secara formal mengikuti Parent Effectivness Training. (Anglingsari SI SK/G. Sujayanto) Tabel Pola Asuh Orang Tua menurut D. Baumrind ( maaf format tabel sulit ditampilkan, harap langsung dilihat pada homepage: http://www.indomedia.com/intisari/1999/maret/prestasi.htm) Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com "Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas" -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =- Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED] EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED] Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/ http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet ********************************************************************** This e-mail and any attachment contains information which is private and confidential and is intended for the addressee only. If you are not an addressee, you are not authorised to read, copy or use the e-mail or any attachment. If you have received this e-mail in error, please notify the sender by return e-mail and then destroy it. ********************************************************************** Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com "Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas" -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =- Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED] EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED] Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/ http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet
