Ini baru bagian ke II

Makanan dan Pertumbuhan
     Setelah  anak berusia 2 tahun sebenarnya kehadiran susu bukan hal yang
wajib  dalam menu sehari-hari. Yang penting adalah aneka ragam makanan yang
dikonsumsi  secara  cukup.  Dengan memperhatikan 4 sehat saja (nasi, sayur,
lauk,  dan  buah), anak-anak setelah usia 2 tahun dapat tumbuh secara baik.
Namun  kenyataannya,  orang  tua seolah memaksa anak agar mengkonsumsi susu
banyak-banyak  dan membiarkan anak mengurangi porsi makannya. Padahal makan
dengan  porsi 3 kali sehari lebih penting dari pada minum segelas atau  dua
gelas  susu. Susu d banyak keluarga dianggap sebagai makanan dewa yang bisa
menggantikan  nasi,  sayur,  dan  lauk-pauk.  Susu  dari sudut pandang gizi
bukanlah  sumber  protein  tetapi  lebih  tepat  sumber kalsium dan fosfor.
Kalsium dan fosfor ini dengan mudah kita dapatkan dalam ikan teri atau ikan
sarden.  Sementara  sumber  protein utama kita adalah nasi serta lauk-pauk.
Jadi  dengan  konsumsi  4  sehat tanpa 5 sempurnapun anak-anak kita setelah
usia 2 tahun bisa tumbuh dengan optimal.
     Pada  era  globalisasi  ini berbagai formasi karir mensyaratkan ukuran
tinggi  badan  tertentu.  Bahkan  untuk  menjadi  pramuniagapun persyaratan
yinggi  badan  ini  juga menjadi kriteria penerimaan. Kalau dulu hanya ABRI
dan  awak  pesawat udara, maka kini semakin banyak sektor yang menginginkan
pegawainya berperawakan tinggi.
     Perawakan  tinggi  ditentukan  oleh banyak faktor. Faktor genetik atau
potensi  biologik  merupakan  modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses
tumbuh  kembang.  Tinggi  badan  seorang anak akan dipengaruhi tinggi badan
kedua  orang  tuanya.  Kita tidak bisa mengharapkan anak tumbuh tinggi dari
orang tuanya yang sangat pendek atau sebaliknya.
     Selain  itu ada pula faktor hormonal. Hormon yang sangat penting untuk
pertumbuhan  adalah  hormon  pertumbuhan,  hormon  tiroid  dan hormon seks.
Hormon pertumbuhan diperlukan untuk merangsang pertumbuhan tulang panajang.
Anak-anak yang menderita kekurangan hormon pertumbuhan hanya akan mempunyai
tinggi  akhir 10 cm pada masa dewasanya. Hormon tiroid berperan besar dalam
metabolisme  tubuh,  sedangkan hormon seks menentukan pertumbuhan anak pada
masa  pubertas.  Jadi  kalau  ada  anak  dikhitan  menjelang pubertas, maka
sesudahnya  dia  tumbuh  secara  lebih  cepat karena aktivitas hormon seks.
Bukan khitan yang menyebabkan seseorang tumbuh lebih cepat.
     Yang  ketiga  asalah  faktor gizi. Makan menyediakan segala jenis gizi
yang  diperlukan  tubuh seperti kalori, protein, vitamin, dan mineral. Bila
konsumsi  makanan  seorang  anak  adalah  normal  maka dia tidak memerlukan
suplemen.
     Ukuran  perawakan  tinggi  sebagai  manifestasi  ketiga faktor di atas
berbeda-beda  untuk setiap populasi. Terlalu tinggi untuk ukuran kita belum
tentu  demikian  untuk  orang  Eropa  atau  Amerika. Masyarakat kita bahkan
mungkin  belum  bisa mentolerir anak wanita yang tingginya 175 cm. Mengapa?
Karena anak wanita yang terlalu tinggi akan sulit memperoleh jodoh, apalagi
kalau tinggi badan pria di lingkungannya baru mencapai 160-165 cm.
     Pola  pertumbuhan  anak-anak  yang  secara rasial dulu dianggap pendek
terbukti  dapat diperbaiki dengan konsumsi gizi yang baik. Survei di Jepang
pada tahun 1962 menunjukkan bahwa remaja pria pada usia 14 tahun yang lahir
sesudah  Perang  Dunia  II  mempunyai  tinggi  badan  7,6  cm  lebih tinggi
dibandingkan   mereka   yang  dilahirkan  sebelum  PD  II.  Perubahan  pola
pertumbuhan ini disebabkan oleh meningkatnya konsumsi protein hewani.
     Bayi  lahir normal umumnya mempunyai bobot badan sekitar 3,0 

? 3,5 kg.
Bobot  lahir  ini  bisa  lebih rendah karena selama hamil pertumbuhan bobot
badan ibu juga rendah (misalnya, karena ibu kurang makan). Kurang gizi yang
merlangsung  lama  ketika  ibu  hamil  menyebabkan  panjang  bayi lahir dan
lingkar kepala juga rendah yakni berada pada 10% terbawah dari populasinya.
     Anak-anak  usia  pra  sekolah  kadang harus memasuki fase sulit makan.
Keadaan  sulit  makan  bila  berlangsung  lama  akan mengakibatkan gangguan
pertumbuhan  anak.  Oleh  karena  itu  wajar  bila orang tua menjadi sangat
khawatir bila anaknya tidak mau makan.
     Ada  banyak  cara  untuk  membuat  anak mau makan. Misalnya, orang tua
hendaknya  memperhatikan  porsi  yang  pantas untuk anak. Tidak perlu porsi
maksimum disajikan untuk sekali makan. Cobalah untuk menguranginya sehingga
ketika Anak berhasil menghabiskan porsi tersebut dia akan merasa bangga.
     Cara lain yang dianggap baik untuk membuat anak mau makan ialah dengan
mengijinkan  mereka  mengambil  sendiri  porsi  yang  dikehendaki. Ini akan
membuat  anak  merasa  dihormati dan mempunyai hak sama dengan orang tuanya
saat berada di meja makan.
     Untuk  memperkenalkan  jenis  makanan  baru  pada anak-anak, orang tua
harus memilih saat yang tepat. Makanan baru hendaknya disajikan ketika anak
lapar.  Kondisi  lapar  akan  membuat  anak  merasakan  bahwa  makanan baru
tersebut benar-benar memenuhi seleranya.


Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"

-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]
EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/ 
http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet





Kirim email ke