Assalamu'alaikum wr.wb.
Alhamdulillah ternyata pertanyaan saya sekitar penyakit ISPA dulu terjawab
sudah. terima kasih pak khoerul.
wasalam,
On Fri, 26 Nov 1999, Khoerul Anwar wrote:
> > From: NGSCOM <[EMAIL PROTECTED]>
> >
> > Masyarakat perlu mewaspadai pnemonia. Penyakit itu ternyata merupakan
> > pembunuh
> > balita nomor satu. Menurut data Unicef, tak kurang dari 12 juta bayi di
> > dunia
> > meninggal tiap tahun, 33,7 persen atau empat juta di antaranya akibat ISPA
> >
> > (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yang sebagian besar berupa pnemonia.
> >
> > Peringatan itu mengemuka dalam pertemuan media massa, kelompok profesi dan
> >
> > organisasi sosial dengan Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika (PPG)
> > Departemen
> > Penerangan Drs Dailami dan Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan
> > Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPM dan PLP) Departemen Kesehatan dr
> > Achmad
> > Sujudi, Kamis (4/2).
> >
> > Menurut Achmad Sujudi, di Indonesia ada 150.000 balita kehilangan nyawa
> > tiap
> > tahun atau satu tiap empat menit akibat pnemonia. Untuk itu ditetapkan
> > sasaran
> > Pelita VI angka kematian karena pnemonia bisa turun dari enam per 1.000
> > balita
> > menjadi empat per 1.000 balita.
> >
> > Ia mengungkapkan, hasil survei fasilitas kesehatan di Jawa Barat, Sulawesi
> >
> > Selatan, dan Sumatera Selatan tahun 1995 menunjukkan, hanya tiga persen
> > ibu
> > mengetahui kapan anaknya yang terkena ISPA harus berobat. Padahal 79
> > persen
> > antibiotika tersedia di Puskesmas.
> >
> > Selain itu, diakui AKB (angka kematian bayi) di Indonesia masih tinggi.
> > Tahun
> > 1996 tercatat 54 per 1.000 kelahiran hidup. Bandingkan dengan AKB
> > Singapura
> > yang hanya 4 per 1.000 atau Malaysia 11 per 1.000. Bahkan AKB Myanmar
> > sudah
> > lebih rendah, yaitu 49 per 1.000 atau Vietnam 38 per 1.000.
> >
> > Disebabkan kuman
> >
> > Menurut dr Mardjanis Said yang bertindak sebagai narasumber, ISPA
> > dibedakan
> > menjadi dua, ISPA atas dan ISPA bawah. Contoh ISPA atas adalah radang
> > tenggorokan yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini tak memerlukan
> > antibiotika, penderita cukup diberi obat penurun panas (parasetamol),
> > banyak
> > minum serta diberi obat tradisional seperti campuran jeruk nipis dan
> > kecap.
> >
> > Sedang contoh ISPA bawah adalah pnemonia yang bisa disebabkan kuman
> > Streptococcus pneumoniae (40 persen) atau Haemophilus influenzae tipe B
> > (20
> > persen). Penyakit ini perlu diobati dengan antibiotika. Jika masih ringan
> > bisa
> > diberi kotrimoksazol atau amoksisilin. Kalau sudah berat harus diobati
> > dengan
> > kloramfenikol. Pemberian obat dilakukan oleh dokter.
> >
> > Menurut Mardjanis, penderita pnemonia selain menunjukkan tanda-tanda umum
> > seperti batuk, pilek, panas, kadang-kadang disertai muntah atau diare,
> > juga
> > menunjukkan tanda khusus yang perlu diperhatikan, yaitu napas sesak dan
> > napas
> > cepat. Napas sesak ditandai dengan tarikan dinding dada bagian bawah ke
> > dalam.
> > Sedang napas cepat adalah lebih dari 60 kali per menit pada bayi kurang
> > dari
> > dua bulan, lebih dari 50 kali per menit pada usia dua bulan sampai satu
> > tahun,
> > serta lebih dari 40 kali per menit pada anak usia lebih dari satu tahun.
> >
> > "Penyakit ini perlu diwaspadai karena bersifat akut. Jika tak segera
> > dirawat
> > dan diobati dengan baik ketika tanda-tanda itu muncul bayi bisa tak
> > tertolong.
> > Kejadiannya sangat cepat, hanya dalam hitungan hari. Karenanya jika balita
> >
> > batuk pilek disertai napas sesak dan napas cepat, perlu segera dibawa
> > berobat
> > ke sarana kesehatan," jelas Mardjanis.
> >
> > Pemicu pnemonia antara lain paparan asap baik dari tungku atau rokok,
> > lingkungan yang kumuh dan kepadatan tempat tinggal sehingga kurang
> > sirkulasi
> > udara, kebiasaan membedong dengan ketat sehingga menyebabkan gangguan
> > bernapas
> > pada bayi.
> >
> > Sementara faktor risiko yang dapat meningkatkan angka kematian balita
> > akibat
> > pnemonia antara lain usia di bawah dua bulan, tingkat sosial ekonomi
> > rendah,
> > kurang gizi, berat badan lahir rendah (BBLR), tingkat pendidikan ibu
> > rendah,
> > tingkat jangkauan pelayanan kesehatan rendah, imunisasi tidak lengkap
> > serta
> > menderita penyakit kronis. Mardjanis menambahkan, di RSCM ada 25-30 persen
> >
> > kasus pnemonia yang didapat pasca-campak.
> >
> > Menurut Mardjanis, untuk mencegah akibat fatal dari pnemonia, sebenarnya
> > tidak
> > sulit. Antara lain memberi ASI (air susu ibu) pada bayi, karena ASI
> > mengandung
> > zat anti untuk meningkatkan kekebalan tubuh, memberi makanan bergizi
> > terutama
> > vitamin A yang berfungsi memperbaiki saluran napas serta memberi imunisasi
> >
> > lengkap.
> >
> > Interesting? Pick out the above subject and discuss with others at:
> > [EMAIL PROTECTED] or e-mail us: [EMAIL PROTECTED]
> > http://campus.fortunecity.com/cornell/210/index.html
> >
>
> Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
> "Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"
>
> -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
> Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
> Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
> EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/
> http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet
>
>
>
>
>
>
>
>
Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/
http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet