Sumber : SWARA (5/8 1999) CIRI-CIRI & PENANGANAN AUTISME KETIKA putranya, Ikhsan (8) lahir pada tahun 1991, tak ada kelainan menyertainya. Baru pada perkembangan selanjutnya, bayi itu memerlukan pengawasan ketat karena ia alergi terhadap makanan, cuaca dan obat, sehingga harus menjalani terapi dan diet ketat. Ketika Ikhsan berusia sekitar 18 bulan, ibunya, Dyah Puspita, merasa ada sesuatu yang berbeda dengan putranya. Perkembangan bicara dan bahasanya tidak menunjukkan kemajuan berarti, dan ia tampak asyik dengan dirinya sendiri. Saya merasa ada tameng yang membatasi Ikhsan dengan dunia kami. Saat ia berusia sekitar 18-24 bulan, meski tidak rewel tetapi ia cenderung sulit dipegang baik secara fisik maupun psikis. Ia juga tak mau dipeluk, kontak matanya terbatas, pandangannya kerap menerawang, sering memasukkan benda ke dalam mulut dan ia tampak tertekan di tengah keramaian," cerita Dyah pada Seminar Autisme dan Penanganannya di Jakarta, Sabtu (31/7). Mengetahui anak laki-lakinya berbeda dengan anak-anak pada umumnya, Dyah pun berusaha mencari tahu apa penyebab dan bagaimana mengatasinya. "Saya sampai berhenti bekerja, karena saya ingin dia tahu bahwa saya adalah ibunya. Saya ingin ia sadar bahwa dunia luar sangat menarik, bahwa dunianya amat sepi dan tak bermakna. Saya sampai memberhentikan semua orang yang bekerja di rumah, agar ia hanya pergi kepada saya bila memerlukan sesuatu," kata Dyah yang juga psikolog itu. Ikhsan tak sendirian, penyandang autisme infantil dalam 10 tahun terakhir ini, menurut perkiraan dr Melly Budhiman, psikiater anak dan Ketua Yayasan Autisme Indonesia, meningkat luar biasa. "Bila 10 tahun yang lalu jumlah penyandang autisme diperkirakan satu per 5.000 anak, sekarang meningkat menjadi satu per 500 anak. Sayangnya, jumlah profesional yang mendalami bidang autisme tak sebanding dengan peningkatan jumlah penyandangnya. Ini menyebabkan sering terjadi kerancuan dalam menegakkan diagnosis." Di sisi lain, bila seorang anak sejak dini sudah diketahui menyandang autisme, penanganan dan terapinya bisa lebih terarah, sehingga kemungkinan si anak untuk bisa hidup "normal" pun jauh lebih besar. Berdasarkan pengalaman pribadinya, Dyah mengatakan," Intervensi dini amat penting, bahkan dapat menjadi penentu masa depan anak. Meski literatur menjelaskan bahwa autis adalah masalah seumur hidup, tetapi dengan tata laksana dan intervensi dini yang berkelanjutan, tanpa terputus, dapat membuat si anak tak tampak lagi perilaku dan ciri autisnya." Pembicara lainnya, dr Rudy Sutadi, Direktur Program Klinik Intervensi Dini Autisme - Jakarta Medical Center, mengutip hasil penelitian yang dilakukan Lovaas tahun 1987 di AS yang menggunakan metode modifikasi perilaku 40 jam seminggu selama dua tahun terhadap 19 anak autis berusia di bawah empat tahun dengan IQ rata-rata 60, ternyata 47 persen berhasil mencapai fungsi kognitif normal. "Saat ini anak-anak tersebut sudah berusia belasan tahun, 47 persen tampak normal. Penampilan mereka tidak dapat dibedakan dengan sebayanya, baik dari sudut keterampilan sosial maupun akademik. Sementara 42 persen memperoleh kemajuan pada berbagai bidang, tetapi tidak cukup untuk mengikuti secara penuh di kelas reguler, dan hanya 11 persen yang ditempatkan di kelas untuk anak retardasi mental." Gangguan perkembangan MENURUT Melly, austisme adalah gangguan perkembangan yang mencakup bidang komunikasi, interaksi dan perilaku yang luas dan berat. Gejala autis mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia tiga tahun. Penyebabnya adalah gangguan pada perkembangan susunan saraf pusat yang mengakibatkan terganggunya fungsi otak. "Autisme bisa terjadi pada siapa saja, tak ada perbedaan status sosial-ekonomi, pendidikan, golongan etnik maupun bangsa. Perbandingan antara pria dan perempuan penyandang autisme diperkirakan 3-4 banding satu," ujarnya. Gejala penyandang autisme antara lain bayi cenderung menghindari kontak mata, dengan ibunya sekalipun; senang melihat mainan yang berputar dan digantung di atas tempat tidur; terlambat bicara dan bahasanya tak dimengerti orang lain; tak mau menengok bila dipanggil namanya; cenderung tak mempunyai rasa empati; suka tertawa-menangis-marah tanpa sebab yang nyata; dan merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan yang kasar. Gangguan perilaku pada anak autis bisa berlebihan dan kekurangan. Perilaku berlebihan misalnya hiperaktif, melompat-lompat, lari ke sana-sini tak terarah, berputar-putar atau mengulang-ulang gerakan tertentu. Sedang perilaku kekurangan seperti bengong, tatapan matanya kosong, bermain dengan monoton, kurang variatif dan biasanya dilakukan secara berulang-ulang. Gejala-gejala tersebut tidak harus ada pada setiap anak autis. Pada anak autis yang berat mungkin semua gejala itu ada padanya, tetapi pada penyandang autisme ringan biasanya hanya terdapat sebagian saja dari gejala-gejala tersebut. Mengenai faktor penyebabnya, lebih lanjut Melly menyatakan, ini disebabkan adanya kelainan pada struktur sel otak, yaitu gangguan pertumbuhan sel otak pada saat kehamilan trimester pertama. "Pada saat pembentukan sel-sel otak tersebut berbagai hal bisa terjadi sehingga menghambat pertumbuhan sel otak, misalnya karena virus (rubella, tokso, herpes), jamur (candida), oksigenasi (perdarahan), dan keracunan dari makanan." Akibatnya, fungsi otak jadi terganggu, terutama fungsi yang mengendalikan pemikiran, pemahaman, komunikasi dan interaksi. Oleh karena itulah, penyandang autisme biasanya sulit berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. "Secara medis kelainan yang terdapat di otak penyandang autis itu tidak bisa disembuhkan," kata Melly. Harapan bagi anak autis BERBICARA mengenai Tatalaksana Perilaku atau Applied Behavior Analysis (ABA) atau metode Lovaas, Rudy mengatakan, terapi yang di Indonesia mulai dipraktikkan sejak tahun 1997 ini, memberi harapan bagi anak autis, karena dapat menyebabkan anak autis mampu mencapai tingkatan yang sebelumnya merupakan hal mustahil. "Mereka dapat mengikuti sekolah reguler, berkembang dan hidup mandiri di masyarakat, tanpa menampakkan gejala sisa autis," kata Rudy yang juga Wakil Ketua Yayasan Autisme Indonesia. ABA atau Tatalaksana Perilaku adalah ilmu yang menggunakan perubahan perilaku untuk membantu individu membangun kemampuan dengan ukuran nilai-nilai yang ada di masyarakat. "Terapi ini menggunakan prinsip belajar-mengajar untuk mengajarkan sesuatu yang kurang atau tidak dimiliki anak autis. Misalnya anak diajar berperhatian, meniru suara, menggunakan kata-kata, bagaimana bermain. Hal yang secara alami bisa dilakukan anak-anak biasa, tetapi tidak dimiliki anak penyandang autisme," tutur Rudy. Semua keterampilan yang ingin diajarkan kepada penyandang autis diberikan secara berulang-ulang dengan memberi imbalan bila anak memberi respons yang baik. Pada awalnya imbalan bisa berbentuk konkret seperti mainan, makanan atau minuman. Tetapi sedikit demi sedikit imbalan atas keberhasilan anak itu diganti dengan imbalan sosial, misalnya pujian, pelukan dan senyuman. Dalam terapi ini terdapat lebih dari 500 tugas individual yang perlu diajarkan kepada anak autis. Pengajarannya berlangsung sekitar dua tahun, secara intensif selama 40 jam per minggu. "Anak-anak yang maju pesat, umumnya dapat masuk kelas prasekolah dalam 6-12 bulan setelah diterapi. Tetapi hasil terbaik umumnya pada mereka yang terapinya sudah dimulai sebelum usia tiga tahun." Untuk keberhasilan yang optimal, Rudy menyarankan agar selain tenaga terapis yang berpengalaman dan sabar, orangtua serta anggota keluarga lainnya diharapkan juga terlibat dalam proses ini. "Mereka bisa menggunakan waktu luang di luar terapi untuk mengembangkan kemampuan anak, misalnya dengan mengajaknya ke taman, pergi ke mal, mengunjungi keluarga dan sebagainya. Hal-hal yang biasanya dianggap kecil ini, bisa mambantu anak autis untuk mengembangkan kemampuan sosialnya. Selain itu, dengan cara ini seluruh hari anak menjadi bagian dari proses terapi, dan orangtua pun menjadi bagian integral dari terapi itu." Selain terapi Tatalaksana Perilaku, menurut Melly, ada beberapa terapi lain yang umumnya diterapkan pada penyandang autisme. Namun apa pun terapi yang dipilih orangtua, keberhasilannya antara lain tergantung dari berat ringannya gejala, umur si anak (umur yang paling baik untuk terapi antara dua sampai lima tahun, di mana sel otak masih bisa dirangsang membentuk cabang-cabang baru), kecerdasan anak, kemampuan bicara dan berbahasanya. Salah satu terapi bagi anak autis adalah terapi medikamentosa, misalnya dengan memberi beberapa vitamin terutama dari jenis vitamin B (B6, B15) dalam dosis tinggi. Terapi megavitamin ini pada sebagian anak berefek baik. Ditambahkannya, meski belum ada obat yang bisa menyembuhkan autisme infantil, tetapi dapat dipakai obat untuk menghilangkan gejala yang tak diinginkan seperti hiperaktif, agresif, menyakiti diri sendiri dan epilepsi. "Obat memang tidak menyembuhkan, tetapi hanya mengurangi gejala autismenya dan menimbulkan perilaku yang lebih terarah," tutur Melly. Namun diingatkannya, bahwa penyandang autisme itu biasanya unik, artinya setiap individu mempunyai gejala dan memerlukan penanganan masing-masing. "Vitamin atau obat yang bagus untuk penyandang autisme yang satu, belum tentu bagus pula hasilnya bagi penyandang autisme lainnya," Melly menambahkan. cp Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com "Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas" -= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =- Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Berhenti berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED] EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED] Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/ http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet
