--

On Tue, 14 Dec 1999 16:07:56   maspri wrote:
>Teman saya menanyakan tentang masalah autisme pada balita ,berhubung anak
>tsb/penderita berumur sekitar 3 th.bagaimana metode penanganannya dan kalau
>ada pembimbing atau dimana harus kita hubungi .,kepada rekans yang dapat
>membantu tidak lupa kami sampaikan banyak terimakasih.
>

mungkin info ini untuk sementara bisa membantu;


>CIRI-CIRI & PENANGANAN AUTISME 
>
>KETIKA putranya, Ikhsan (8) lahir pada tahun 1991, tak ada kelainan
>menyertainya. Baru pada perkembangan selanjutnya, bayi itu memerlukan
>pengawasan ketat karena ia alergi terhadap makanan, cuaca dan obat, sehingga
>harus menjalani terapi dan diet ketat. Ketika Ikhsan berusia sekitar 18
>bulan, ibunya, Dyah Puspita, merasa ada sesuatu yang berbeda dengan
>putranya. Perkembangan bicara dan bahasanya tidak menunjukkan kemajuan
>berarti, dan ia tampak asyik dengan dirinya sendiri.
>
>Saya merasa ada tameng yang membatasi Ikhsan dengan dunia kami. Saat ia
>berusia sekitar 18-24 bulan, meski tidak rewel tetapi ia cenderung sulit
>dipegang baik secara fisik maupun psikis. Ia juga tak mau dipeluk, kontak
>matanya terbatas, pandangannya kerap menerawang, sering memasukkan benda ke
>dalam mulut dan ia tampak tertekan di tengah keramaian," cerita Dyah pada
>Seminar Autisme dan Penanganannya di Jakarta, Sabtu (31/7).
>
>Mengetahui anak laki-lakinya berbeda dengan anak-anak pada umumnya, Dyah pun
>berusaha mencari tahu apa penyebab dan bagaimana mengatasinya. "Saya sampai
>berhenti bekerja, karena saya ingin dia tahu bahwa saya adalah ibunya. Saya
>ingin ia sadar bahwa dunia luar sangat menarik, bahwa dunianya amat sepi dan
>tak bermakna. Saya sampai memberhentikan semua orang yang bekerja di rumah,
>agar ia hanya pergi kepada saya bila memerlukan sesuatu," kata Dyah yang
>juga psikolog itu.
>
>Ikhsan tak sendirian, penyandang autisme infantil dalam 10 tahun terakhir
>ini, menurut perkiraan dr Melly Budhiman, psikiater anak dan Ketua Yayasan
>Autisme Indonesia, meningkat luar biasa. "Bila 10 tahun yang lalu jumlah
>penyandang autisme diperkirakan satu per 5.000 anak, sekarang meningkat
>menjadi satu per 500 anak. Sayangnya, jumlah profesional yang mendalami
>bidang autisme tak sebanding dengan peningkatan jumlah penyandangnya. Ini
>menyebabkan sering terjadi kerancuan dalam menegakkan diagnosis."
>
>Di sisi lain, bila seorang anak sejak dini sudah diketahui menyandang
>autisme, penanganan dan terapinya bisa lebih terarah, sehingga kemungkinan
>si anak untuk bisa hidup "normal" pun jauh lebih besar. Berdasarkan
>pengalaman pribadinya, Dyah mengatakan," Intervensi dini amat penting,
>bahkan dapat menjadi penentu masa depan anak. Meski literatur menjelaskan
>bahwa autis adalah masalah seumur hidup, tetapi dengan tata laksana dan
>intervensi dini yang berkelanjutan, tanpa terputus, dapat membuat si anak
>tak tampak lagi perilaku dan ciri autisnya."
>
>Pembicara lainnya, dr Rudy Sutadi, Direktur Program Klinik Intervensi Dini
>Autisme - Jakarta Medical Center, mengutip hasil penelitian yang dilakukan
>Lovaas tahun 1987 di AS yang menggunakan metode modifikasi perilaku 40 jam
>seminggu selama dua tahun terhadap 19 anak autis berusia di bawah empat
>tahun dengan IQ rata-rata 60, ternyata 47 persen berhasil mencapai fungsi
>kognitif normal. 
>
>"Saat ini anak-anak tersebut sudah berusia belasan tahun, 47 persen tampak
>normal. Penampilan mereka tidak dapat dibedakan dengan sebayanya, baik dari
>sudut keterampilan sosial maupun akademik. Sementara 42 persen memperoleh
>kemajuan pada berbagai bidang, tetapi tidak cukup untuk mengikuti secara
>penuh di kelas reguler, dan hanya 11 persen yang ditempatkan di kelas untuk
>anak retardasi mental." 
>
>Gangguan perkembangan
>
>MENURUT Melly, austisme adalah gangguan perkembangan yang mencakup bidang
>komunikasi, interaksi dan perilaku yang luas dan berat. Gejala autis mulai
>tampak pada anak sebelum mencapai usia tiga tahun. Penyebabnya adalah
>gangguan pada perkembangan susunan saraf pusat yang mengakibatkan
>terganggunya fungsi otak. "Autisme bisa terjadi pada siapa saja, tak ada
>perbedaan status sosial-ekonomi, pendidikan, golongan etnik maupun bangsa.
>Perbandingan antara pria dan perempuan penyandang autisme diperkirakan 3-4
>banding satu," ujarnya.
>
>Gejala penyandang autisme antara lain bayi cenderung menghindari kontak
>mata, dengan ibunya sekalipun; senang melihat mainan yang berputar dan
>digantung di atas tempat tidur; terlambat bicara dan bahasanya tak
>dimengerti orang lain; tak mau menengok bila dipanggil namanya; cenderung
>tak mempunyai rasa empati; suka tertawa-menangis-marah tanpa sebab yang
>nyata; dan merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan yang kasar. 
>
>Gangguan perilaku pada anak autis bisa berlebihan dan kekurangan. Perilaku
>berlebihan misalnya hiperaktif, melompat-lompat, lari ke sana-sini tak
>terarah, berputar-putar atau mengulang-ulang gerakan tertentu. Sedang
>perilaku kekurangan seperti bengong, tatapan matanya kosong, bermain dengan
>monoton, kurang variatif dan biasanya dilakukan secara berulang-ulang.
>
>Gejala-gejala tersebut tidak harus ada pada setiap anak autis. Pada anak
>autis yang berat mungkin semua gejala itu ada padanya, tetapi pada
>penyandang autisme ringan biasanya hanya terdapat sebagian saja dari
>gejala-gejala tersebut.
>
>Mengenai faktor penyebabnya, lebih lanjut Melly menyatakan, ini disebabkan
>adanya kelainan pada struktur sel otak, yaitu gangguan pertumbuhan sel otak
>pada saat kehamilan trimester pertama. "Pada saat pembentukan sel-sel otak
>tersebut berbagai hal bisa terjadi sehingga menghambat pertumbuhan sel otak,
>misalnya karena virus (rubella, tokso, herpes), jamur (candida), oksigenasi
>(perdarahan), dan keracunan dari makanan."
>
>Akibatnya, fungsi otak jadi terganggu, terutama fungsi yang mengendalikan
>pemikiran, pemahaman, komunikasi dan interaksi. Oleh karena itulah,
>penyandang autisme biasanya sulit berinteraksi dan berkomunikasi dengan
>orang lain. "Secara medis kelainan yang terdapat di otak penyandang autis
>itu tidak bisa disembuhkan," kata Melly.
>
>Harapan bagi anak autis
>
>BERBICARA mengenai Tatalaksana Perilaku atau Applied Behavior Analysis (ABA)
>atau metode Lovaas, Rudy mengatakan, terapi yang di Indonesia mulai
>dipraktikkan sejak tahun 1997 ini, memberi harapan bagi anak autis, karena
>dapat menyebabkan anak autis mampu mencapai tingkatan yang sebelumnya
>merupakan hal mustahil. "Mereka dapat mengikuti sekolah reguler, berkembang
>dan hidup mandiri di masyarakat, tanpa menampakkan gejala sisa autis," kata
>Rudy yang juga Wakil Ketua Yayasan Autisme Indonesia. 
>
>ABA atau Tatalaksana Perilaku adalah ilmu yang menggunakan perubahan
>perilaku untuk membantu individu membangun kemampuan dengan ukuran
>nilai-nilai yang ada di masyarakat. "Terapi ini menggunakan prinsip
>belajar-mengajar untuk mengajarkan sesuatu yang kurang atau tidak dimiliki
>anak autis. Misalnya anak diajar berperhatian, meniru suara, menggunakan
>kata-kata, bagaimana bermain. Hal yang secara alami bisa dilakukan anak-anak
>biasa, tetapi tidak dimiliki anak penyandang autisme," tutur Rudy.
>
>Semua keterampilan yang ingin diajarkan kepada penyandang autis diberikan
>secara berulang-ulang dengan memberi imbalan bila anak memberi respons yang
>baik. Pada awalnya imbalan bisa berbentuk konkret seperti mainan, makanan
>atau minuman. Tetapi sedikit demi sedikit imbalan atas keberhasilan anak itu
>diganti dengan imbalan sosial, misalnya pujian, pelukan dan senyuman. 
>
>Dalam terapi ini terdapat lebih dari 500 tugas individual yang perlu
>diajarkan kepada anak autis. Pengajarannya berlangsung sekitar dua tahun,
>secara intensif selama 40 jam per minggu. "Anak-anak yang maju pesat,
>umumnya dapat masuk kelas prasekolah dalam 6-12 bulan setelah diterapi.
>Tetapi hasil terbaik umumnya pada mereka yang terapinya sudah dimulai
>sebelum usia tiga tahun."
>
>Untuk keberhasilan yang optimal, Rudy menyarankan agar selain tenaga terapis
>yang berpengalaman dan sabar, orangtua serta anggota keluarga lainnya
>diharapkan juga terlibat dalam proses ini. "Mereka bisa menggunakan waktu
>luang di luar terapi untuk mengembangkan kemampuan anak, misalnya dengan
>mengajaknya ke taman, pergi ke mal, mengunjungi keluarga dan sebagainya.
>Hal-hal yang biasanya dianggap kecil ini, bisa mambantu anak autis untuk
>mengembangkan kemampuan sosialnya. Selain itu, dengan cara ini seluruh hari
>anak menjadi bagian dari proses terapi, dan orangtua pun menjadi bagian
>integral dari terapi itu."
>
>Selain terapi Tatalaksana Perilaku, menurut Melly, ada beberapa terapi lain
>yang umumnya diterapkan pada penyandang autisme. Namun apa pun terapi yang
>dipilih orangtua, keberhasilannya antara lain tergantung dari berat
>ringannya gejala, umur si anak (umur yang paling baik untuk terapi antara
>dua sampai lima tahun, di mana sel otak masih bisa dirangsang membentuk
>cabang-cabang baru), kecerdasan anak, kemampuan bicara dan berbahasanya.
>
>Salah satu terapi bagi anak autis adalah terapi medikamentosa, misalnya
>dengan memberi beberapa vitamin terutama dari jenis vitamin B (B6, B15)
>dalam dosis tinggi. Terapi megavitamin ini pada sebagian anak berefek baik. 
>
>Ditambahkannya, meski belum ada obat yang bisa menyembuhkan autisme
>infantil, tetapi dapat dipakai obat untuk menghilangkan gejala yang tak
>diinginkan seperti hiperaktif, agresif, menyakiti diri sendiri dan epilepsi.
>"Obat memang tidak menyembuhkan, tetapi hanya mengurangi gejala autismenya
>dan menimbulkan perilaku yang lebih terarah," tutur Melly.
>
>Namun diingatkannya, bahwa penyandang autisme itu biasanya unik, artinya
>setiap individu mempunyai gejala dan memerlukan penanganan masing-masing.
>"Vitamin atau obat yang bagus untuk penyandang autisme yang satu, belum
>tentu bagus pula hasilnya bagi penyandang autisme lainnya," Melly
>menambahkan. cp
>Sumber : SWARA (5/8 1999) 
http://www.balita-anda.indoglobal.com/autisme.html


LYCOShop is now open. On your mark, get set, SHOP!!!
http://shop.lycos.com/

Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"

-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]
EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
http://pencarian-informasi.or.id/ - Solusi Pencarian Informasi di Internet







Kirim email ke