Ini ada artikel yang kebetulan saya simpan, semoga bermanfaat.
Regards,
 <<...>> Ninin Kristanti
Network Operation & Maintenance Celullar
Telp. 021-5331993/4 Ext. 6418
Fax. 021-5332914
HP. 0816-804942
e-mail: n_kristanti@satelindo <mailto:n_kristanti@satelindo> . co.id

-----Original Message-----
From:   Khoerul Anwar [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
<mailto:[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]> 
Sent:   Monday, November 29, 1999 3:34 PM
To:     '[EMAIL PROTECTED]'
Subject:        [balita-anda] AUTISME ( 1 )

Sumber : SWARA (5/8 1999) 
CIRI-CIRI & PENANGANAN AUTISME 
KETIKA putranya, Ikhsan (8) lahir pada tahun 1991, tak ada kelainan
menyertainya. Baru pada perkembangan selanjutnya, bayi itu memerlukan
pengawasan ketat karena ia alergi terhadap makanan, cuaca dan obat, sehingga
harus menjalani terapi dan diet ketat. Ketika Ikhsan berusia sekitar 18
bulan, ibunya, Dyah Puspita, merasa ada sesuatu yang berbeda dengan
putranya. Perkembangan bicara dan bahasanya tidak menunjukkan kemajuan
berarti, dan ia tampak asyik dengan dirinya sendiri.
Saya merasa ada tameng yang membatasi Ikhsan dengan dunia kami. Saat ia
berusia sekitar 18-24 bulan, meski tidak rewel tetapi ia cenderung sulit
dipegang baik secara fisik maupun psikis. Ia juga tak mau dipeluk, kontak
matanya terbatas, pandangannya kerap menerawang, sering memasukkan benda ke
dalam mulut dan ia tampak tertekan di tengah keramaian," cerita Dyah pada
Seminar Autisme dan Penanganannya di Jakarta, Sabtu (31/7).
Mengetahui anak laki-lakinya berbeda dengan anak-anak pada umumnya, Dyah pun
berusaha mencari tahu apa penyebab dan bagaimana mengatasinya. "Saya sampai
berhenti bekerja, karena saya ingin dia tahu bahwa saya adalah ibunya. Saya
ingin ia sadar bahwa dunia luar sangat menarik, bahwa dunianya amat sepi dan
tak bermakna. Saya sampai memberhentikan semua orang yang bekerja di rumah,
agar ia hanya pergi kepada saya bila memerlukan sesuatu," kata Dyah yang
juga psikolog itu.
Ikhsan tak sendirian, penyandang autisme infantil dalam 10 tahun terakhir
ini, menurut perkiraan dr Melly Budhiman, psikiater anak dan Ketua Yayasan
Autisme Indonesia, meningkat luar biasa. "Bila 10 tahun yang lalu jumlah
penyandang autisme diperkirakan satu per 5.000 anak, sekarang meningkat
menjadi satu per 500 anak. Sayangnya, jumlah profesional yang mendalami
bidang autisme tak sebanding dengan peningkatan jumlah penyandangnya. Ini
menyebabkan sering terjadi kerancuan dalam menegakkan diagnosis."
Di sisi lain, bila seorang anak sejak dini sudah diketahui menyandang
autisme, penanganan dan terapinya bisa lebih terarah, sehingga kemungkinan
si anak untuk bisa hidup "normal" pun jauh lebih besar. Berdasarkan
pengalaman pribadinya, Dyah mengatakan," Intervensi dini amat penting,
bahkan dapat menjadi penentu masa depan anak. Meski literatur menjelaskan
bahwa autis adalah masalah seumur hidup, tetapi dengan tata laksana dan
intervensi dini yang berkelanjutan, tanpa terputus, dapat membuat si anak
tak tampak lagi perilaku dan ciri autisnya."
Pembicara lainnya, dr Rudy Sutadi, Direktur Program Klinik Intervensi Dini
Autisme - Jakarta Medical Center, mengutip hasil penelitian yang dilakukan
Lovaas tahun 1987 di AS yang menggunakan metode modifikasi perilaku 40 jam
seminggu selama dua tahun terhadap 19 anak autis berusia di bawah empat
tahun dengan IQ rata-rata 60, ternyata 47 persen berhasil mencapai fungsi
kognitif normal. 
"Saat ini anak-anak tersebut sudah berusia belasan tahun, 47 persen tampak
normal. Penampilan mereka tidak dapat dibedakan dengan sebayanya, baik dari
sudut keterampilan sosial maupun akademik. Sementara 42 persen memperoleh
kemajuan pada berbagai bidang, tetapi tidak cukup untuk mengikuti secara
penuh di kelas reguler, dan hanya 11 persen yang ditempatkan di kelas untuk
anak retardasi mental." 
Gangguan perkembangan
MENURUT Melly, austisme adalah gangguan perkembangan yang mencakup bidang
komunikasi, interaksi dan perilaku yang luas dan berat. Gejala autis mulai
tampak pada anak sebelum mencapai usia tiga tahun. Penyebabnya adalah
gangguan pada perkembangan susunan saraf pusat yang mengakibatkan
terganggunya fungsi otak. "Autisme bisa terjadi pada siapa saja, tak ada
perbedaan status sosial-ekonomi, pendidikan, golongan etnik maupun bangsa.
Perbandingan antara pria dan perempuan penyandang autisme diperkirakan 3-4
banding satu," ujarnya.
Gejala penyandang autisme antara lain bayi cenderung menghindari kontak
mata, dengan ibunya sekalipun; senang melihat mainan yang berputar dan
digantung di atas tempat tidur; terlambat bicara dan bahasanya tak
dimengerti orang lain; tak mau menengok bila dipanggil namanya; cenderung
tak mempunyai rasa empati; suka tertawa-menangis-marah tanpa sebab yang
nyata; dan merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan yang kasar. 
Gangguan perilaku pada anak autis bisa berlebihan dan kekurangan. Perilaku
berlebihan misalnya hiperaktif, melompat-lompat, lari ke sana-sini tak
terarah, berputar-putar atau mengulang-ulang gerakan tertentu. Sedang
perilaku kekurangan seperti bengong, tatapan matanya kosong, bermain dengan
monoton, kurang variatif dan biasanya dilakukan secara berulang-ulang.
Gejala-gejala tersebut tidak harus ada pada setiap anak autis. Pada anak
autis yang berat mungkin semua gejala itu ada padanya, tetapi pada
penyandang autisme ringan biasanya hanya terdapat sebagian saja dari
gejala-gejala tersebut.
Mengenai faktor penyebabnya, lebih lanjut Melly menyatakan, ini disebabkan
adanya kelainan pada struktur sel otak, yaitu gangguan pertumbuhan sel otak
pada saat kehamilan trimester pertama. "Pada saat pembentukan sel-sel otak
tersebut berbagai hal bisa terjadi sehingga menghambat pertumbuhan sel otak,
misalnya karena virus (rubella, tokso, herpes), jamur (candida), oksigenasi
(perdarahan), dan keracunan dari makanan."
Akibatnya, fungsi otak jadi terganggu, terutama fungsi yang mengendalikan
pemikiran, pemahaman, komunikasi dan interaksi. Oleh karena itulah,
penyandang autisme biasanya sulit berinteraksi dan berkomunikasi dengan
orang lain. "Secara medis kelainan yang terdapat di otak penyandang autis
itu tidak bisa disembuhkan," kata Melly.
Harapan bagi anak autis
BERBICARA mengenai Tatalaksana Perilaku atau Applied Behavior Analysis (ABA)
atau metode Lovaas, Rudy mengatakan, terapi yang di Indonesia mulai
dipraktikkan sejak tahun 1997 ini, memberi harapan bagi anak autis, karena
dapat menyebabkan anak autis mampu mencapai tingkatan yang sebelumnya
merupakan hal mustahil. "Mereka dapat mengikuti sekolah reguler, berkembang
dan hidup mandiri di masyarakat, tanpa menampakkan gejala sisa autis," kata
Rudy yang juga Wakil Ketua Yayasan Autisme Indonesia. 
ABA atau Tatalaksana Perilaku adalah ilmu yang menggunakan perubahan
perilaku untuk membantu individu membangun kemampuan dengan ukuran
nilai-nilai yang ada di masyarakat. "Terapi ini menggunakan prinsip
belajar-mengajar untuk mengajarkan sesuatu yang kurang atau tidak dimiliki
anak autis. Misalnya anak diajar berperhatian, meniru suara, menggunakan
kata-kata, bagaimana bermain. Hal yang secara alami bisa dilakukan anak-anak
biasa, tetapi tidak dimiliki anak penyandang autisme," tutur Rudy.
Semua keterampilan yang ingin diajarkan kepada penyandang autis diberikan
secara berulang-ulang dengan memberi imbalan bila anak memberi respons yang
baik. Pada awalnya imbalan bisa berbentuk konkret seperti mainan, makanan
atau minuman. Tetapi sedikit demi sedikit imbalan atas keberhasilan anak itu
diganti dengan imbalan sosial, misalnya pujian, pelukan dan senyuman. 
Dalam terapi ini terdapat lebih dari 500 tugas individual yang perlu
diajarkan kepada anak autis. Pengajarannya berlangsung sekitar dua tahun,
secara intensif selama 40 jam per minggu. "Anak-anak yang maju pesat,
umumnya dapat masuk kelas prasekolah dalam 6-12 bulan setelah diterapi.
Tetapi hasil terbaik umumnya pada mereka yang terapinya sudah dimulai
sebelum usia tiga tahun."
Untuk keberhasilan yang optimal, Rudy menyarankan agar selain tenaga terapis
yang berpengalaman dan sabar, orangtua serta anggota keluarga lainnya
diharapkan juga terlibat dalam proses ini. "Mereka bisa menggunakan waktu
luang di luar terapi untuk mengembangkan kemampuan anak, misalnya dengan
mengajaknya ke taman, pergi ke mal, mengunjungi keluarga dan sebagainya.
Hal-hal yang biasanya dianggap kecil ini, bisa mambantu anak autis untuk
mengembangkan kemampuan sosialnya. Selain itu, dengan cara ini seluruh hari
anak menjadi bagian dari proses terapi, dan orangtua pun menjadi bagian
integral dari terapi itu."
Selain terapi Tatalaksana Perilaku, menurut Melly, ada beberapa terapi lain
yang umumnya diterapkan pada penyandang autisme. Namun apa pun terapi yang
dipilih orangtua, keberhasilannya antara lain tergantung dari berat
ringannya gejala, umur si anak (umur yang paling baik untuk terapi antara
dua sampai lima tahun, di mana sel otak masih bisa dirangsang membentuk
cabang-cabang baru), kecerdasan anak, kemampuan bicara dan berbahasanya.
Salah satu terapi bagi anak autis adalah terapi medikamentosa, misalnya
dengan memberi beberapa vitamin terutama dari jenis vitamin B (B6, B15)
dalam dosis tinggi. Terapi megavitamin ini pada sebagian anak berefek baik. 
Ditambahkannya, meski belum ada obat yang bisa menyembuhkan autisme
infantil, tetapi dapat dipakai obat untuk menghilangkan gejala yang tak
diinginkan seperti hiperaktif, agresif, menyakiti diri sendiri dan epilepsi.
"Obat memang tidak menyembuhkan, tetapi hanya mengurangi gejala autismenya
dan menimbulkan perilaku yang lebih terarah," tutur Melly.
Namun diingatkannya, bahwa penyandang autisme itu biasanya unik, artinya
setiap individu mempunyai gejala dan memerlukan penanganan masing-masing.
"Vitamin atau obat yang bagus untuk penyandang autisme yang satu, belum
tentu bagus pula hasilnya bagi penyandang autisme lainnya," Melly
menambahkan. cp

Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
<http://www.balita-anda.indoglobal.com> 
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com
<http://www.indoglobal.com>  =-
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email:
[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
Panduan Menulis Email yang Efektif http://hhh.indoglobal.com/email/
<http://hhh.indoglobal.com/email/>  
http://pencarian-informasi.or.id/ <http://pencarian-informasi.or.id/>  -
Solusi Pencarian Informasi di Internet






Kunjungi: http://www.balita-anda.indoglobal.com
"Untuk mereka yang mendambakan anak balitanya tumbuh sehat & cerdas"

-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]
EMERGENCY ONLY! Jika kesulitan unsubscribe, email: [EMAIL PROTECTED]







Kirim email ke