Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Insya Allah berguna untuk bahan bacaan dan renungan.�
�
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
�
Anna Dwiyana
�


-----Original Message-----
From: Ummu Ja'far - [mailto:[EMAIL PROTECTED]] 
Sent: Tuesday, February 15, 2000 12:34 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Keluarga-Sakinah] Ibu yang dibenci


http://www.ummigroup.co.id/ummi/index.html

Ibu yang Dibenci

Suatu sore di bulan Ramadhan, depan Metropolitan Mall Bekasi. Langit masih 
menyisakan gerimis setelah hujan lebat  mengguyur bumi. Air sungai 
Kalimalang yang keruh naik ke permukaaan. Aroma selokan mampet menyeruak. 
Seorang perempuan berdiri di perempatan jalan sambil menggendong bocah 
berbilang bulan. Tangan kanannya menyeret paksa anak perempuan usia tujuh 
tahunan.  "Ayo, cepet! Goblok, mau makan apa, lu!" tangannya mendorong keras

kepala si anak. "Dasar anak engga tau diri. Sialan, tolol, awas lu!" 
teriakannya memecah udara ketika sang anak malah lari menjauh sambil 
memeletkan lidahnya. "Ini, lagi. Diam, brengsek!" mulutnya kembali memaki 
ketika bayi dalam gendongannya menangis, mungkin karena kaget.  Acuh tak 
acuh dilangkahkan kakinya menuju antrian mobil di lampu merah. Tangannya 
mengetuk kaca mobil sambil menadahkan tangan. Wajahnya dingin. Barangkali 
begitu pula
hatinya. ???

Hari itu 22 Desember. Perempuan Indonesia memperingatinya sebagai hari Ibu. 
Begitu mulianya perempuan sebagai ibu, hingga Rasulullah menaikkannya tiga 
derajat di atas sang ayah dan meletakkan surga di bawah tapak kakinya. Ibu 
adalah sosok mulia. Kepadanya Allah nisbatkan sifatNya yang agung  -ar 
rahiim- sebagai  wadah mengandung anak-anaknya. Ini adalah isyarat, 
seyogyanya perempuan dapat bersikap halus, lembut dan welas asih, setidaknya

bagi anak-anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri. Ikatan batin selama 
sembilan bulan lebih adalah modal dasar baginya untuk mengolah rasa dan 
emosi sang anak. Wajar, bila kemudian ibu seperti sekolah. Bermain dan 
bercengkrama dengan ibu adalah bersekolah. Senyum, tutur kata, bahkan rasa 
kesal dan sedihnya adalah pembelajaran hakiki. Beruntunglah bila kita 
mempunyai ibu sejati.  Keteduhan jiwa ibu adalah tempat berlabuh yang mampu 
mengobati segala lara.  Bagaimana dengan bocah perempuan tujuh tahun yang 
berani memantati dan memeletkan lidah kepada ibunya? Bisa jadi ia pun dulu 
adalah bayi dalam gendongan yang selalu dihardik dan dikasari, diajak 
berpanas dan berhujan-hujan, bahkan dimanipulasi untuk sesuap nasi....
   Kemiskinan dan kesengsaraan memang membuat manusia kehilangan nurani. 
Seorang ibu pun bisa kehilangan nurani karena kepahitan hidup. Hanyakah ibu 
yang berlimpah materi yang dapat melimpahi kasih sayang sejati pada anaknya?

  Jika begitu, kasihan sekali para ibu papa. Ia akan menuai kebencian  dari 
anak yang dikandung dan dilahirkannya sendiri.... ???

Seorang perempuan miskin dengan dua putrinya yang masih kecil datang ke 
rumah Aisyah ra. Karena iba,  istri Rasulullah itu memberikan tiga biji 
kurma. Dengan penuh kasih disuapinya mulut mungil putrinya
yang memang sedang lapar. Tinggal sebiji kurma untuknya. Baru saja mulutnya 
membuka, putrinya merengek. Sambil tersenyum, dibelahnya sebiji kurma itu 
lalu  diserahkan pada anak-anaknya. Ia sendiri
menanggungkan lapar.  Aisyah menceritakan hal itu pada Nabi. "Sungguh Allah 
telah menentukan baginya surga atau Allah akan membebaskannya dari api 
neraka disebabkan anaknya...." (DSW)
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com



_______________________________________________
Keluarga-Sakinah mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://www.halteknet.com/milis/listinfo/keluarga-sakinah

Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta http://www.indokado.com 
Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]









Kirim email ke