mbak Anna, sedih sekali rasanya saya membaca kisah ini.
saya baca ketika menjelang maghrib dan saya masih asyik di kantor........
tiba-tiba banyak hal yang terlintas di benak saya tentang apa-apa yang saya
janjikan kepada anak-anak dan saya belum sempat menepatinya.
Saya percaya memang semua itu adalah takdir, tapi utk balita dan anak yg
masih SD apakah dia sudah paham dengan takdir?
Marilah kita sediakan waktu yang cukup untuk buah hati kita...........

----- Original Message -----
From: Anna Dwiyana <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 23 March 2000 13:52
Subject: [balita-anda] FW: Mandikan aku Bunda


> Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
>
> Rekan Netters, Saya dapat cerita dibawah yang benar-benar bikin Saya
nangis
> (ingat si kecil di rumah).  Mudah-mudahan ada hikmahnya.  Maaf kalau udah
> pernah baca.
>
> Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.
> Anna Dwiyana
>
> -----Original Message-----
> From: Rish Triyati
> Sent: Thursday, March 23, 2000 11:20 AM
> Subject: FW: Mandikan aku Bunda
>
>
> U/ dibaca dan sebagai bahan renungan bagi para orang tua.
>
> Wass
>
> Rish
>
>
> Subject: MANDIKAN AKU, BUNDA
>
> Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya.Sebut saja Rani
> namanya.  Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki
> idealisme yang  tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas :
> meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi
> yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari
> Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, di negerinya bunga tulip,
> beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan
> pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan
perundangan.
> Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara " dengan dirinya,
> sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
>
> Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai
staf
> Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Konon nama
> putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan huruf
> terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar : Alifya. Tentunya filosofi
> yang mendasari pemilihan nama ini seindah namanya pula.
>
> Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani
> semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan
> dari satu negara ke negara lain makin meninggi. Saya pernah bertanya ,
> "Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?"Dengan sigap Rani
menjawab
> : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Everything is ok." Dan itu
> betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih
> banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh
> menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian.
>
> Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu
> tentang ibu-bapaknya. " Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti."
> Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng
menjelang
> tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau
cucu
> yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia
3
> tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya
> menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum
> memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah
> kecil ini "dapat memahami" orang tuanya.
>
> Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua
> orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif
selalu
> menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat
> kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua
> sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya
menginginkan
> anak seperti Alif.
>
> Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak
> dimandikan baby-sitternya. " Alif ingin bunda mandikan." Ujarnya. Karuan
> saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi
> gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante
> Mien, baby-sitternya. Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan,"
Bunda,
> mandikan Alif " begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin
> karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta
> perhatian.
>
>  Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. " Bu
dokter,
> Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency". Setengah terbang,
saya
> pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain.
> Alif, si Malaikat kecil keburu dipanggil pemiliknya.
>
> Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor
> barunya,shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah
> memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si
kecil
> terbaring kaku. " Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif." Ucapnya lirih,
namun
> teramat pedih.
>
> Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri
> mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata, " Ini sudah
> takdir, iya kan ? Aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau
sudah
> saatnya, dia pergi juga kan ? ". Saya diam saja mendengarkan. " Ini
> konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat.
> Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani
tertunduk.
> " Aku ibunya !" serunya kemudian, " Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan
Alif.
> Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif". Rintihan itu begitu
menyayat.
> Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-kais tanah merah
>
> Sekali lagi, saya tidak ingin membahas perbedaan sudut pandang pembagian
> tugas suami isteri. Hanya saja, sekiranya si kecil kita juga bergelayut :"
> Mandikan aku, Bunda ." Akankah kita menolak ? Ataukah menunggu sampai
> terlambat ?
>
> Wassalam,
>
> >
>
> Denna Raning Tanur
> PT. MOTOROLA Indonesia
> Phone : 62 21 251 3050
> Fax :    62 21 571 9064
>
>
>
> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
> Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta http://www.indokado.com
> Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
> Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
> Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta http://www.indokado.com 
Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]










Kirim email ke