Mungkin berguna, soalnya beberapa waktu yang lalu yang tidak puas dengan
pelayanan dokter, di bawah ini saya forward kan alamat untuk mengadunya,
yang di bahas di millis lain juga.
wassalam
bapaknya fakhri+alika
>
> Date: Sat, 15 Apr 2000 11:13:07 -0700
> X-eGroups-From: "Zunilda" <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "Zunilda" <[EMAIL PROTECTED]>
> Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [medifa-l] KASUS MAL PRAKTEK ?
>
> Menyedihkan sekali memang !
> Saya anjurkan Anda atau siapapun yang merasa diperlakukan tidak benar dan tidak adil
>oleh dokter manapun,TULISLAH SURAT KE Majelis Kode Etik Kedokteran PB IDI, Jl
>Samratulangi 29 - Jakarta Pusat.
>
> Surat Anda ini akan saya Fw-kan ke Prof. Farid Moeloek
> Saya sangat ingin agar masyarakat lebih kritis menghadapi dokter
> Salam,
> Nilda
>>
>> ----- Original Message -----
>> From: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>Riasto Widiatmono
>> To: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED]
>> Sent: Thursday, April 13, 2000 4:14 PM
>> Subject: [medifa-l] KASUS MAL PRAKTEK ?
>>
>> Tetangga didepan saya kemarin mengalami pendarahan (urusan ginekologi) sejak
>tanggal 20 Maret 2000 sampai hari ini dan hari kemarin tanggal 14 April mengeluarkan
>gumpalan putih (seperti telur yang sudah jadi atau mungkin calon embrio). Tetangga
>saya tersebut memang baru saja mengalami keguguran dan katanya sudah dikiret sama
>dokternya yang bernama Dokter Adiyono yang punya RSB Anugerah di Semarang. Istri saya
>dan saya bertanya-tanya, sampai seberapa benar pekerjaan "kiret" atau "couret" itu
>dilakukan, biasanya setelah kiret ya tidak mungkin terjadi terus menerus pendarahan
>dan apalagi mengeluarkan gumpalan yang ternyata belum bersih kandungannya. Dokter
>Adiyono memang dikenal agak banyak masalah sebab jika ada pasien kritis ya tetap
>berusaha ditangani sendiri padahal posisinya sangat dekat dengan RS Kariadi. Rekan
>saya yang bernama Pak Arifin, Istrinya juga meninggal sehabis melahirkan ditangan Dr
>Adiyono tersebut. Istri Pak Arifin memang sudah punya penyakit ja
ntung bawaan, sudah punya anak satu, sewaktu melahirkan anak ke dua dibantu oleh obat
pemicu melahirkan, anak keduanya lahir jam 8.00 pagi tetapi pada jam 11.00 sang Ibu
krisis dan tubuhnya membiru. Saya yang orang awam juga bertanya-tanya apakah tidak ada
efek obat pemicu terhadap jantungnya ? Tetapi Pak Adiyono itu menag sudah banyak orang
mengetahui terutama "kekukuhan" beliau untuk mengoperkan pasien ke RS jika si pasien
dalam keadaan kritis, berbeda dengan RSB lainnya yang biasanya dioperkan ke RS yang
lebih lengkap jika pasien dalam keadaan kritis. Sekali lagi karena tidak adanya UU
masalah malpraktek dan dunia kedokteran tidak berusaha mensosialisasikan kasus-kasus
yang menurut logika orang awam merupakan malpraktek maka sampai hari ini semua
masyarakat seperti saya juga hanya mencurigai.
>> Tetangga saya sudah saya arahkan ke Dokter lain yang saya kenal baik dan
>profesional. Belum lagi masalah biaya, kebetulan Istri saya juga sedang memulai
>program anak kedua, masak obat yang sama yang dibeli tetangga saya sangat berbeda
>harganya, saya cuma bayar kurang dari Rp 90.000,- di apotik tetapi tetangga saya
>harus beli di apotiknya RSB Anugerah senilai Rp 250.000,-, belum lagi biaya kiret
>dengan 5 hari menginap mencapai Rp 5,5 juta. Biaya dokter spesialis di seluruh
>Semarang Rp 40.000,- kalau di RSB Anugerah 5 x harga umum. Lha hal seperti ini
>bagaimana tanggapan dunia kedokteran Indonesia ?
>>
>> ----------
>
