Pak Sianipar,

Boleh saya tahu bagaimana cara untuk penggunaannya lalu pasnya didaerah
pekalongan sebelah mana tanaman itu ada karena kebetulan kakak ipar orang
pekalongan. Atas informasi dan sharingnya terima kasih.

-----Original Message-----
From: Maranatha Sianipar [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Friday, April 28, 2000 11:06 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [balita-anda] Obat Kanker


Dear Netters,
Berikut dibawah adalah artikel yang barangkali ada manfaatnya bagi kita :

> Subject:      (poli-malang) Obat Kanker
> 
>  Satu Lagi, Tanaman Ajaib Penyembuh Kanker (1)  Keladi Tikus, Ditemukan di
> Pekalongan
>     
> Satu lagi tanaman ajaib ditemukan di Indonesia. Namanya ''keladi tikus''.
> Ia  terbukti bisa membunuh berbagai jenis sel kanker dalam waktu relatif
> singkat. Di Malaysia, tanaman ini sudah dikembangkan oleh seorang profesor
> ahli kanker dan telah berhasil membantu ribuan pasien di seluruh dunia. 
>  Dilly Wibowo, SURABAYA
> 
> Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat
> memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman
> ''keladi  tikus'' (Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber) sebagai tanaman
> obat yang  dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan
> berbagai 
> penyakit berat lain. 
> 
> Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 sentimeter ini
> hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung.
> 
>  ''Tanaman  ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa,'' kata Drs Patoppoi
> Pasau,  orang  pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia.  Tanaman
> obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H. Teo, Dip
> Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan
> juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang
> didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan  pasien dari Malaysia,
> Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura,  dan berbagai
> negara di dunia. 
> 
> Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan  oleh Patoppoi di Pekalongan,
> Jawa Tengah.
> Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus
> dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui
> operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk
> membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.
> ''Sebelum menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig
> (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakiban kerontokan rambut, selain
> kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," jelas Patoppoi.
> 
> Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha
> mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi
> mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. ''Saat
> itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut,"
> ujar Patoppoi yang juga ahli biologi.Ketika sedang berada di sebuah toko
> obat di Malaysia, secara tidak sengaja  dia melihat dan membaca buku
> mengenai pengobatan kanker yang berjudul  Cancer, Yet They Live karangan
> Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. ''Setelah  saya baca sekilas, langsung
> saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan    buku itu, saya malah
> tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang  ke  Indonesia,"
> kenang Patoppoi sambil tersenyum.
> 
>  Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.
> Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen
> Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah
> menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di
> Pekalongan, 
> > Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka > menemukan tanaman
> itu di sana.
> > Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi
> > menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang
> > ditemukannya itu. Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan
> > menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. ''Dr Teo 
> > mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,"
> lanjut >  > Patoppoi. (bersambung)
> > 
> Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai  >
> memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku >
> tersebut  > untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi
> putranya, Boni  > Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan
> tanaman tersebut. 
> > "Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di
> pinggir  > sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut
> tumbuh liar  > di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat
> itu.
> 
> > Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami  >
> penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti  >
> rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu
> >  > saya pun kembali normal," lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum
> obat 
> > tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil  >
> pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di
> > Jakarta," kata Patoppoi.
> > 
> Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan >
> pada  > isterinya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah
> memberikan dosis  > kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi. Setelah
> diterangkan mengenai > kisah  > tanaman Rodent Tuber, para dokter pun
> mendukung pengobatan dukungan > tersebut  > dan menyarankan agar
> mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya
> > yang  > tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras
> tersebut. Dan  > pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur
> menjadi enam bulan  > sekali. "Tetapi karena sesuatu hal, para dokter
> tersebut tidak mau > mendukung  > secara terang-terangan penggunaan
> tanaman sebagai pengobatan alternatif,"  > sambung Boni sambil tertawa.
> > 
> Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan
> > isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr. Teo
> > melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak
> terdapat > di  > Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan
> tanaman ini di 
> > Indonesia. "Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka >
> tidak  > tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,"
> sambung  > Patoppoi.
> > 
> Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa
> > Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar >
> kedua  > belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata
> membantu  > penderita kanker di Indonesia.
> > 
> Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai  >
> meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi
> > sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, >
> pengobatan  > yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu
> pengalaman 
> > pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. 
> 
> Dan  > eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien
> tersebut. > "Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa
> Pos," ujar  > Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar
> dugaan. Dalam  > sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat
> ini, sudah ada  > sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut Boni yang
> beralamat di Jl.  > KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang
> berhasil adalah  > penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah
> diperiksa, dokter 
> > mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan >
> sambil  > menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang
> setelah  > membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya,
> tidak lama  > kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa
> dia tidak perlu  > dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.
> Berdasarkan animo  > masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi
> berusaha untuk menemui Dr.  Teo secara langsung. Atas bantuan Direkt
> Jenderal Pengawasan Obat dan  > Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno,
> Patoppoi dapat menemui Dr.Teo di  > Penang, Malaysia. > Di kantor Pusat
> Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan  > lebih lanjut
> mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama  > Indonesia.
> Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live"  > edisi
> revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku  > tersebut,
> serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan  > kanker. 
> 
> Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi  > mendirikan
> perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara  > resmi,
> Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial  > Cancer
> Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care,
> yaitu di Jl. Kayu Putih Empat No. 5, Jakarta, telp. 021-4894745, dan di
> Buduran, Sidoarjo.
> > 
> Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara
> > lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam
> bentuk  > pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman
> lainnya  > dengan dosis tertentu. 
> 
> "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang  > diderita," kata Boni.
> Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus  > mengisi formulir yang
> menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan 
> > dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi
> disini,  > dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan
> mengirimkan > resep  > sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari
> Malaysia, sekitar 40-60  > Ringgit Malaysia," lanjut Boni. "Jadi pasien
> hanya membayar biaya fax dan  > obat, kami tidak menarik keuntungan,
> malahan untuk yang kurang mampu, > Dr.Teo  > bisa memberikan perpanjangan
> waktu pembayaran." tambahnya.
> > 
> Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu
> > dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal.
> Ada  > dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai
> > direktur  > salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini. Pasien
> pertama yang 
> > mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi
> tikus,  > karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah
> memiliki > reputasi. 
> > 
> Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami  >
> kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada
> > pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya
> sendiri  > dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses
> penyembuhan 
> > kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang >
> dialami  > penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal.
> Tetapi dokter  > ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan
> ini belum resmi  > diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika rekan-rekannya
> mengetahui bahwa
> > dia  > memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat
> sebagai  > "ter-kun" atau dokter-dukun. "Disinilah gap yang terbuka antara
> pengobatan  > konvensional dan modern," kata dokter tersebut.
> > 
> Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan
> bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan
> sabu-sabu di  Surabaya, yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat
> kanker paru-paru.  Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III,
> pasien tersebut 
> > mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, >
> karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari
> peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba
> tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi
> tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul
> resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung
> Boni sambil tertawa.
> >
>  Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan
> kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak
> mempan lagi.  Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat
> kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan. Menurut
> data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah
> berbagai kanker dan penyakit  berat seperti kanker payudara, paru-paru,
> usus besar-rectum, liver, prostat,  ginjal, leher rahim, tenggorokan,
> tulang, otak, limpa, leukemia, empedu,  pankreas, dan hepatitis. Jadi
> diharapkan agar hasil penelitian yang  menghabiskan milyaran Ringgit
> Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar  berguna bagi dunia kesehata.
> ------------------------------------------------------------------------
> Get 3 months FREE and a chance to WIN a trip to London, England when
> you receive, manage and pay your bills online with Paytrust.com!
> Stamps, checks and bills in your mailbox are history.  Enroll Today!
> http://click.egroups.com/1/3556/3/_/36675/_/956806931/
> ------------------------------------------------------------------------
> 
> 
> 

Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
->Aneka kado pilihan untuk anak, http://www.indokado.com/kado.html 
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]











Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
->Aneka kado pilihan untuk anak, http://www.indokado.com/kado.html 
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]











Kirim email ke