Dear mbak Nining,

Kalau tepatnya sih saya kurang tahu tapi untuk informasi Mbak bisa telepon
ke yayasan :

CANCER CARE INDONESIA
JL. KAYU PUTIH 4 NO 5
JAKARTA TIMUR

TEL. 021-4894745

Dan info yang saya dapat yayasan ini diresmikan oleh DR Teo sendiri.

Semoga bermanfaat.

Ita Sianipar
Mama Natasha & Daniel.


> -----Original Message-----
> From: Nining [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: 28 April 2000 13:49
> To:   '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject:      RE: [balita-anda] Obat Kanker
> 
> Pak Sianipar,
> 
> Boleh saya tahu bagaimana cara untuk penggunaannya lalu pasnya didaerah
> pekalongan sebelah mana tanaman itu ada karena kebetulan kakak ipar orang
> pekalongan. Atas informasi dan sharingnya terima kasih.
> 
> -----Original Message-----
> From: Maranatha Sianipar [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Friday, April 28, 2000 11:06 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [balita-anda] Obat Kanker
> 
> 
> Dear Netters,
> Berikut dibawah adalah artikel yang barangkali ada manfaatnya bagi kita :
> 
> > Subject:    (poli-malang) Obat Kanker
> > 
> >  Satu Lagi, Tanaman Ajaib Penyembuh Kanker (1)  Keladi Tikus, Ditemukan
> di
> > Pekalongan
> >     
> > Satu lagi tanaman ajaib ditemukan di Indonesia. Namanya ''keladi
> tikus''.
> > Ia  terbukti bisa membunuh berbagai jenis sel kanker dalam waktu relatif
> > singkat. Di Malaysia, tanaman ini sudah dikembangkan oleh seorang
> profesor
> > ahli kanker dan telah berhasil membantu ribuan pasien di seluruh dunia. 
> >  Dilly Wibowo, SURABAYA
> > 
> > Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat
> > memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman
> > ''keladi  tikus'' (Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber) sebagai tanaman
> > obat yang  dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan
> > berbagai 
> > penyakit berat lain. 
> > 
> > Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 sentimeter ini
> > hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung.
> > 
> >  ''Tanaman  ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa,'' kata Drs
> Patoppoi
> > Pasau,  orang  pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia.  Tanaman
> > obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H. Teo,
> Dip
> > Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia
> dan
> > juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang
> > didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan  pasien dari Malaysia,
> > Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura,  dan berbagai
> > negara di dunia. 
> > 
> > Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan  oleh Patoppoi di
> Pekalongan,
> > Jawa Tengah.
> > Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan
> harus
> > dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat
> melalui
> > operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk
> > membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker
> tersebut.
> > ''Sebelum menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan
> wig
> > (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakiban kerontokan rambut,
> selain
> > kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," jelas Patoppoi.
> > 
> > Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus
> berusaha
> > mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi
> > mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker.
> ''Saat
> > itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut,"
> > ujar Patoppoi yang juga ahli biologi.Ketika sedang berada di sebuah toko
> > obat di Malaysia, secara tidak sengaja  dia melihat dan membaca buku
> > mengenai pengobatan kanker yang berjudul  Cancer, Yet They Live karangan
> > Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. ''Setelah  saya baca sekilas, langsung
> > saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan    buku itu, saya malah
> > tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang  ke  Indonesia,"
> > kenang Patoppoi sambil tersenyum.
> > 
> >  Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.
> > Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat
> Departemen
> > Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah
> > menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di
> > Pekalongan, 
> > > Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka > menemukan
> tanaman
> > itu di sana.
> > > Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi
> > > menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman
> yang
> > > ditemukannya itu. Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi
> dan
> > > menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. ''Dr Teo
> 
> > > mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,"
> > lanjut >  > Patoppoi. (bersambung)
> > > 
> > Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai
> >
> > memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku >
> > tersebut  > untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi
> > putranya, Boni  > Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan
> > tanaman tersebut. 
> > > "Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di
> > pinggir  > sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman
> tersebut
> > tumbuh liar  > di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya
> saat
> > itu.
> > 
> > > Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami
> >
> > penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti
> >
> > rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan
> ibu
> > >  > saya pun kembali normal," lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum
> > obat 
> > > tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil  >
> > pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter
> di
> > > Jakarta," kata Patoppoi.
> > > 
> > Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan
> >
> > pada  > isterinya. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah
> > memberikan dosis  > kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi. Setelah
> > diterangkan mengenai > kisah  > tanaman Rodent Tuber, para dokter pun
> > mendukung pengobatan dukungan > tersebut  > dan menyarankan agar
> > mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya
> > > yang  > tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras
> > tersebut. Dan  > pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur
> > menjadi enam bulan  > sekali. "Tetapi karena sesuatu hal, para dokter
> > tersebut tidak mau > mendukung  > secara terang-terangan penggunaan
> > tanaman sebagai pengobatan alternatif,"  > sambung Boni sambil tertawa.
> > > 
> > Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan
> > > isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.
> Teo
> > > melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak
> > terdapat > di  > Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan
> > tanaman ini di 
> > > Indonesia. "Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka
> >
> > tidak  > tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,"
> > sambung  > Patoppoi.
> > > 
> > Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam
> bahasa
> > > Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar
> >
> > kedua  > belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata
> > membantu  > penderita kanker di Indonesia.
> > > 
> > Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai
> >
> > meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos,
> Patoppoi
> > > sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, >
> > pengobatan  > yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu
> > pengalaman 
> > > pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. 
> > 
> > Dan  > eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien
> > tersebut. > "Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa
> > Pos," ujar  > Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar
> > dugaan. Dalam  > sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai
> saat
> > ini, sudah ada  > sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut Boni
> yang
> > beralamat di Jl.  > KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang
> > berhasil adalah  > penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah
> > diperiksa, dokter 
> > > mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan >
> > sambil  > menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka
> datang
> > setelah  > membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya,
> > tidak lama  > kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa
> > dia tidak perlu  > dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan
> negatif.
> > Berdasarkan animo  > masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi
> > berusaha untuk menemui Dr.  Teo secara langsung. Atas bantuan Direkt
> > Jenderal Pengawasan Obat dan  > Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno,
> > Patoppoi dapat menemui Dr.Teo di  > Penang, Malaysia. > Di kantor Pusat
> > Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan  > lebih
> lanjut
> > mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama  > Indonesia.
> > Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live"  > edisi
> > revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku  >
> tersebut,
> > serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan  > kanker. 
> > 
> > Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi  >
> mendirikan
> > perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara  > resmi,
> > Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial  >
> Cancer
> > Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care,
> > yaitu di Jl. Kayu Putih Empat No. 5, Jakarta, telp. 021-4894745, dan di
> > Buduran, Sidoarjo.
> > > 
> > Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut
> secara
> > > lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam
> > bentuk  > pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai
> tananaman
> > lainnya  > dengan dosis tertentu. 
> > 
> > "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang  > diderita," kata Boni.
> > Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus  > mengisi formulir
> yang
> > menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan 
> > > dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi
> > disini,  > dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan
> > mengirimkan > resep  > sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari
> > Malaysia, sekitar 40-60  > Ringgit Malaysia," lanjut Boni. "Jadi pasien
> > hanya membayar biaya fax dan  > obat, kami tidak menarik keuntungan,
> > malahan untuk yang kurang mampu, > Dr.Teo  > bisa memberikan
> perpanjangan
> > waktu pembayaran." tambahnya.
> > > 
> > Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah
> satu
> > > dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal.
> > Ada  > dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat
> sebagai
> > > direktur  > salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini. Pasien
> > pertama yang 
> > > mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi
> > tikus,  > karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah
> > memiliki > reputasi. 
> > > 
> > Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami  >
> > kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada
> > > pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya
> > sendiri  > dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses
> > penyembuhan 
> > > kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang >
> > dialami  > penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal.
> > Tetapi dokter  > ini menolak untuk diekspos karena menurutnya,
> pengobatan
> > ini belum resmi  > diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika
> rekan-rekannya
> > mengetahui bahwa
> > > dia  > memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat
> > sebagai  > "ter-kun" atau dokter-dukun. "Disinilah gap yang terbuka
> antara
> > pengobatan  > konvensional dan modern," kata dokter tersebut.
> > > 
> > Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan
> > bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan
> > sabu-sabu di  Surabaya, yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat
> > kanker paru-paru.  Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III,
> > pasien tersebut 
> > > mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan,
> >
> > karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari
> > peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba
> > tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan
> keladi
> > tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul
> > resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi,"
> sambung
> > Boni sambil tertawa.
> > >
> >  Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan
> > kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak
> > mempan lagi.  Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat
> > kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan. Menurut
> > data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan
> adalah
> > berbagai kanker dan penyakit  berat seperti kanker payudara, paru-paru,
> > usus besar-rectum, liver, prostat,  ginjal, leher rahim, tenggorokan,
> > tulang, otak, limpa, leukemia, empedu,  pankreas, dan hepatitis. Jadi
> > diharapkan agar hasil penelitian yang  menghabiskan milyaran Ringgit
> > Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar  berguna bagi dunia kesehata.
> > ------------------------------------------------------------------------
> > Get 3 months FREE and a chance to WIN a trip to London, England when
> > you receive, manage and pay your bills online with Paytrust.com!
> > Stamps, checks and bills in your mailbox are history.  Enroll Today!
> > http://click.egroups.com/1/3556/3/_/36675/_/956806931/
> > ------------------------------------------------------------------------
> > 
> > 
> > 
> 
> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
> ->Aneka kado pilihan untuk anak, http://www.indokado.com/kado.html 
> Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
> Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
> ->Aneka kado pilihan untuk anak, http://www.indokado.com/kado.html 
> Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
> Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
->Aneka kado pilihan untuk anak, http://www.indokado.com/kado.html 
Etika berinternet, kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Berhenti berlangganan, e-mail ke:  [EMAIL PROTECTED]











Kirim email ke