Mba' Yana,

Sebelumnya saya turut mendoakan agar si kecil segera sembuh, saya hanya
ingin memforward email dari rekan saya mudah-mudahan dapat memompa semangat
Mba; Yana dalam merawat si kecil.

Salam
Mamanya Adit - Tia

-----Original Message-----
From:   Dimas Novrianto 
Sent:   09 Mei 2000 9:25
Subject:        FW: [elektro87] FW: PELAJARAN TEKAD DARI RANI KECIL 

Jika kita memiliki tekad yg tinggi, insya allah cita-cita kita bisa tercapai
...
Salam,
Dimas
-----Original Message-----
From:   Yanuar Zuhriansyah [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
<mailto:[mailto:[EMAIL PROTECTED]]> 
Sent:   Friday, May 05, 2000 1:38 PM
To:     'Elektro87 Egroups'
Subject:        [elektro87] FW: PELAJARAN TEKAD DARI RANI KECIL 



PELAJARAN TEKAD DARI RANI KECIL (Sebuah catatan akhir untuk buku Aisyah
Putri)
"Rintangan tak dapat menghancurkanku. Setiap rintangan akan menyerah pada
ketetapan hati yang kukuh."
(Leonardo da Vinci)
Setiap kali saya merasa lelah dan tak mampu berkarya, saya segera teringat
pada Rani kecil.  Dulu, Rani kecil tinggal di sebuah bilik kayu mungil, di
pinggir rel kereta api Gunung Sahari. Ia sangat menyayangi keluarganya dan
suka mengarang. Ketika belum bersekolah, ia sudah mengarang sebuah puisi
yang dihafalnya dan kemudian dijadikannya sebuah lagu.  Kakakku manis
sekali, aku sayang padanya Ia pun sayang padaku, kakakku sayang....
Sebenarnya Rani ingin sekali punya abang, tetapi ia hanya memiliki seorang
kakak perempuan yang berusia dua tahun di atasnya. Dan gadis kecil itu
sangat mencintai kakaknya.
Rani kecil sangat suka membaca. Ia membaca semua. Buku cerita, buku
pelajaran, majalah, koran, bungkus cabai, bungkus bawang dan kertas-kertas
pembungkus sayur yang dibawa pulang Mama dari pasar. Gadis kecil berkepang
dua tersebut menjadi kesayangan ibu dan bapak guru.  Kelas satu SD ia
menjadi rangking kedua di sekolah.
Suatu hari, anak berusia tujuh tahun itu terjatuh.
Kepalanya terbentur ujung besi yang lancip. Berdarah!  Ia muntah-muntah
beberapa kali dan segera dibawa ke rumah sakit.
"Gegar otak!" suara dokter seperti gelegar petir di telinga keluarganya,
"Kita doakan saja semoga tidak ada pengaruh fatal di kemudian hari. Tapi
sungguh, saya tak dapat menjamin apa pun," sambung dokter tersebut prihatin.
Mama, papa, kakak dan adik Rani bersedih, tetapi gadis kecil itu tak pernah
mengeluh. Ia hanya tersenyum. Pun ketika kemudian dokter melakukan general
check up dan ia mendapat 'vonis';
"Ada kelainan pada otak bagian belakang."
"Paru-parunya kotor..."
"Jantungnya bermasalah..."
"Beberapa giginya membusuk dan tak beraturan. Kami harus mencabut 13
giginya..." "Kami sangat menyesal. Lima benjolan kecil di kepalanya ternyata
tumor..., harus diangkat."
Bertahun-tahun Rani kecil mondar-mandir dari satu rumah sakit ke rumah sakit
lain, dari satu dokter ke dokter lain dan meminum begitu banyak jenis obat
yang membuatnya mual, tetapi sekali lagi, sedikit pun ia tak pernah
mengeluh.
Ia masih suka mengarang, terutama mengarang lagu.  Kadang ia mengarang lagu
di rumah sakit, kadang sesaat sebelum tidur. Ia mengarang lagu tentang desa,
tentang alam yang indah, tentang seorang detektif kecil. Ia juga masih
senang membaca. Hanya saja kakaknya melihat sang adik sering memegangi
kepala beberapa saat sambil memejamkan mata. Ya, Rani kecil sering pusing
dan susah berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Tetapi ia tetap saja
penggembira, juga senang menyanyi.
Rani baru kelas dua SD, ketika pada suatu hari ia berkata, "Kak, aku ingin
sekali punya perpustakaan.  Aku juga ingin menyewakan buku-buku cerita kita
pada anak-anak lain."
Kakaknya, kelas empat SD, memandang sang adik dengan mata berbinar. "Kakak
setuju. Kita taruh saja buku-buku itu di atas meja kayu, di depan rumah.
Kita tawarkan pada mereka yang lewat. Kira-kira berapa harganya, ya?" "Yang
tipis sepuluh Rupiah. Yang tebal dua puluh lima Rupiah. Boleh dipinjam
selama tiga hari sampai seminggu."
Rani dan kakaknya hanya memiliki dua puluh buku cerita. Semuanya mereka
jejerkan pada sebuah meja kayu kecil di depan rumah kontrakan tempat tinggal
mereka yang baru, di daerah Kebon Kosong. Ternyata banyak anak tetangga yang
tertarik dan mau meminjam buku-buku itu. Uang hasil sewa buku pun mereka
belikan buku-buku baru.
"Suatu hari Kakak akan menulis buku-buku seperti ini," kata kakaknya sambil
memandang langit.  "Aku juga! Aku juga!" seru Rani kecil sembari tertawa
memperlihatkan kawat-kawat di giginya, sambil ikut-ikutan memandang langit.
Namun perlahan ia menunduk dan bertanya pelan, "Tapi apa aku bisa, Kak?  Aku
kan gegar otak?"
Kakaknya mengangguk, "Tentu, Dik. Tentu saja bisa!  Kamu bisa melakukan
apapun yang kakak kerjakan bila kamu mau!"
Rani kecil sering pusing, tetapi ia tak pernah berhenti belajar. Lalu Allah
menunjukkan kekuasaan-Nya! Anak gegar otak dan penyakitan yang tadinya
rangking dua di kelas itu tidak menjadi seorang yang idiot! Ia malah menjadi
juara satu, bahkan selalu juara umum di sekolahnya!  Rani kecil tak mau
hanya termangu atau terbaring di tempat tidur. Di sela-sela waktunya
bersekolah dan ke dokter, Rani kecil mengikuti berbagai kegiatan:
Pramuka, karate, teater, vokal grup, apa saja.
"Saya akan melawan penyakit saya dengan berkarya, Kak.  Dengan melakukan
sesuatu!" Kata Rani kecil sambil menengadah ke langit.  Maka setiap kali
saya lemah dalam melangkah, saya teringat pada Rani kecil.  Di tengah
penderitaannya menahan sakit, ia berhasil masuk SMA favoritnya, SMA 1 Budi
Utomo, mendapat PMDK untuk meneruskan kuliahnya di IPB, dan menjadi
kecintaan teman-temannya.
Rani kecil kini berusia 27 tahun, telah menikah dengan seorang wartawan dan
mempunyai seorang anak perempuan yang cantik dan pintar. Kini ia dikenal
sebagai direktur Yayasan Prakarsa Insan Mandiri, sebuah yayasan yang
bergerak di bidang sosial, budaya dan pendidikan. Ia juga seorang pengajar
dan pemerhati dunia anak serta sering diundang untuk berbicara dalam
berbagai forum diskusi dan seminar. Ia pengarang nasyid - beberapa lagunya
dibawakan oleh grup SNADA -dan sudah meluncurkan dua album bersama kelompok
Bestari. Ia menulis banyak artikel, cerpen dan cerita bersambung serta
memenangkan beberapa lomba mengarang tingkat nasional.  Ya, Rani kecil
adalah Asma Nadia. Dan si kakak adalah saya sendiri. Dan setiap kali saya
merasa lemah dalam melangkah saya akan selalu teringat saat-saat kami masih
kecil juga tekad Asma untuk melawan semua penyakitnya dengan berkarya.
'Apa saya bisa menjadi penulis, Kak? Saya kan gegar otak?" Pertanyaannya
dulu selalu kembali terngiang di telinga saya, kala saya menatap langit
malam dan melihat jutaan bintang yang berserakan, menyinari rembulan di
sana.
Tentu, anda boleh bangga jika kakek, bapak atau kakak Anda seorang
pengarang, penulis, sebab bakat tak ada arti tanpa doa, tekad dan usaha yang
sungguh-sungguh dalam mencapainya.
Maka, setiap kali saya lemah dalam berkarya, saya akan segera membandingkan
diri saya dengan Rani kecil, seraya memandang langit. Dan seperti biasa,
saya akan menemukan pendar cahaya itu. Cahaya mata seorang adik kecil yang
menjelma bintang di sana. Menyemangati saya setiap malam.
(Helvy Tiana Rosa)


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Send instant messages & get email alerts with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com/ <http://im.yahoo.com/> 



>> Pusing milih POP3 atau web mail? mail.telkom.net solusinya <<
>> Belanja Info & Keperluan Balita? Klik, http://www.balitanet.or.id
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]












Kirim email ke