Bagi-bagi pengalaman yah.......
Kebetulan saya nggak punya saudara di Jakarta ini dan orang tua saya juga jauh. Jadi
semenjak anak saya lahir sampai menjelang masuk kerja setelah cuti, saya kerjakan
semuanya sendiri. Tapi karena harus masuk kerja terpaksa saya ngambil pembantu.
Pembantu saya dicarikan oleh ibu saya dari kampung saya. Itu juga susah sekali
nyarinya (yang menurut ibuku cocok untuk ngasuh cucu pertamanya 8-)).
Pertama dateng saya tegaskan bahwa yang menjadi prioritas utama adalah anak saya.
Tolong bersih kalau pegang anak saya, dan jaga kebersihan anak saya. Perlakukan anak
saya seperti adiknya sendiri. Supaya kalau saya tinggal dia tidak melakukan kerjaan
apa-apa selain mengasuh anak saya, sebelum saya pergi semua pekerjaan harus sudah
beres. Tapi kalau saya ada di rumah anak saya sepenuhnya bersama saya.
Soal makanan, apa yang kami makan, itu juga yang dia makan. Kecuali makanan untuk anak
saya.
Dia bisa makan duluan atau belakangan tergantung sikon.
Saya kasih dia waktu tidur yang cukup (8 jam), kecuali memang betul-betul darurat (dan
selama ini syukurlah belum pernah terjadi). Dan kalau saya tidak kerja, dia boleh
bangun terlambat.
Selain gaji, tiap akhir pekan saya kasih uang jajan.
Saya mencoba mengajak dia untuk terbuka dan jujur kepada saya. Sering-sering ajak dia
ngobrol. Saya pikir dia juga butuh teman untuk bercerita. Daripada dia cari di luar
dan nanti anak saya terabaikan lebih baik saya melayani setiap cerita ataupun
rumpiannya. Saya bisa kasih komentar dan sekaligus mengajarkan pelajaran apa yang bisa
diambil dari cerita-cerita itu (sekarang dia malah tahu berita-berita hangat di tv
atau pun koran).Kalau saya membaca buku tentang perkembangan anak, saya baca
keras-keras dan saya katakan,"oh Mbak, ternyata anak seumur adek itu.......jadi kita
harus .....". Tiap ada tahapan baru yang akan dilalui anak saya, saya jelaskan
kepadanya. Dan ternyata dia memperhatikan juga apa yang saya lakukan untuk anak saya,
dan dia sering membuktikan 'teori-teori' yang pernah saya kasih tahu ke dia, dan nanti
dia akan cerita,"bener loh bu, tadi adek ....' atau malah "kok adek belum....". Saya
juga selalu bilang ke anak saya:, adek baik-baik sama Mbak yah. Dan bilang ke Mbak
nya: baik-baik sama adek yah.......
Dia juga harus melakukan apa yang saya ajarkan kepada anak saya. Misalnya, nggak boleh
jalan-jalan kalau belum mandi, dst.
Tetapi saya juga tegas kepadanya kalau memang dia nyerempet atau melakukan kesalahan.
Jelaskan kenapa itu salah,dan saya tunjukkan mana yang benarnya. dan saya minta dia
tidak mengulanginya lagi. Karena jelas alasannya, selama ini dia bisa terima.
Saya juga rajin mengingatkan (sampai dia bosen kali yah) apa saja yang harus dia
perhatikan kalau mengasuh anak saya, seperti selalu cuci tangan kalau mau pegang anak
saya, jangan sering-sering di gendong, hati-hati jangan sampai jatuh, dsb. Dari kantor
sering saya cek juga, terutama jam makan, jam mandi, dan jam tidur anak saya.
Saya pikir saya dan dia saling membutuhkan. Saya berusaha memberi pengertian bahwa
saya juga menghormatinya. Sejauh ini sih semuanya baik-baik saja. Tapi kayaknya emang
tergantung orang yang menjadi pembantu kita itu. Ada yang harus dikerasin baru ngerti,
tapi ada juga yang tahu salah langsung minta maaf. Macem-macemlah.......dan nyari yang
cocok dengan kita emang susah banget.
Itu sekedar pengalaman saya.......maaf nih terlalu detil......
gimana dengan netter yang lain ?
Bunda Gaiea