Berikut berita dari Media Indonesia tanggal 17 Mei 2000

Anggota DPR Kecam Tindak Amoral dan Biadab. Pemerkosa Bayi Harus
Dihukum Berat
Media Indonesia - Jabotabek (5/17/00)

DEPOK (Media): Kalangan DPRD Depok mengecam tindakan amoral yang
dilakukan pemerkosa balita usia 1,5 tahun. Para wakil rakyat ini
mendesak aparat penegak hukum memberikan hukuman seberat-beratnya
kepada pelaku.
Demikian pendapat yang mengemuka yang dilontarkan Wakil Ketua DPRD
Depok
Hasbullah, Ketua Fraksi Partai Keadilan Imam Budi Hartono dan Ketua
Fraksi PDI
Perjuangan HM Limbong kepada Media, kemarin.

``Ini tindakan biadab yang tak bisa dibiarkan. Pelakunya harus dihukum
berat,`` ujar Hasbullah dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN).

Menurutnya, tindakan itu sangat memalukan warga Depok, sebelumnya di
kota itu
juga terjadi kasus aborsi yang melibatkan dua orang bidan.

Sebelumnya diberitakan, seorang balita berusia 1,5 tahun, Tiara,
menjadi
korban pemuas hawa nafsu Sud, 30, yang juga teman ayah korban.

Keluarga korban mengetahui anaknya diperkosa berdasarkan hasil
pemeriksaan
medis di Puskesmas Hambalun Pondok Labu, Jakarta Selatan. ``Dokter
bilang,
kemaluan anak saya rusak akibat dimasuki benda keras,`` ujar Eko, 35,
ayah
kandung korban (Media 16/5).

Menurut Hasbullah, jika melihat kehidupan sosial Kota Depok yang
merupakan
penyangga Jakarta, maka imbas budaya yang sudah jauh dari pengaruh
religius
sangat mewarnai kehidupan warga Depok. Dia berharap agar Pemda Depok
mau
memperhatikan dampak-dampak yang mengakibatkan perubahan moral
generasi muda
Depok, agar kecenderungan melakukan tindak kejahatan bisa lebih
ditekan.

``Misalnya dengan menambah pendidikan moral atau agama di sekolah-
sekolah,
atau menambah kegiatan ekstra kurikuler yang lebih positif bagi para
pelajar,`` katanya.

Masyarakat Depok, menurut dia, sangat rentan terhadap pengaruh
kehidupan
Jakarta. Sementara kondisi perekonomian sebagian besar warga Depok
kurang
berkecukupan, sehingga apabila mempunyai keinginan, dilampiaskan
dalam bentuk
perilaku negatif.

Sedangkan Ketua Frkasi PDI-P HM Limbong sangat menyesalkan kejadian
tersebut.
``Saya sendiri sedih membaca berita itu, kok tega-teganya anak
sekecil itu
dijadikan korban pemuas hawa nafsu. Kebiadaban macam apa lagi yang
sudah ada
di sini,`` ungkapnya.

Menurut dia, ini bukan semata-mata kelainan seks, karena sebelum
pelaku
berbuat keji terhadap anak kecil, dia juga berbuat sama kepada seorang
pembantu rumah tangga.

``Ini lebih mengarah pada pemikiran pintas yang cenderung lebih sering
dilakukan masyarakat kelas bawah. Padahal kalau dia berpikir sehat,
lebih baik
`jajan` daripada berbuat biadab begitu,`` katanya.

Menurut Limbong, jelas ini perbuatan yang tidak bisa dimaafkan,
sebelum
pelakunya mendapat hukuman berat. ``Sayangnya kita tidak mempunyai
perangkat
hukum seperti di Malaysia, Arab, atau Singapura. Pelaku tindak
kriminal berat
mendapat hukuman yang sangat berat, sehingga membuat orang menjadi
jera,``
ujarnya.

Sementara itu Ketua Fraksi Partai Keadilan Imam Budi Hartono
mengatakan
kejadian yang memalukan itu harus menjadi perhatian penuh aparat
penegak
hukum.

``Jangan sampai pelaku perbuatan bejat itu dihukum ringan. Kalau itu
terjadi,
jelas tidak akan mendidik masyarakat. Bahkan mereka tidak akan pernah
merasa
jera. Padahal hukuman itu untuk membentuk rasa jera para pelaku
kejahatan,``
ungkapnya.

Menurut dia, tindakan tersebut merupakan imbas dari perubahan sikap
mental
masyarakat yang lebih terpengaruh oleh derasnya arus budaya. Sementara
pendidikan agama sangat minim dan tidak mampu mengimbangi pengaruh
budaya
Barat yang cenderung lebih kuat mempengaruhi pola kehidupan
masyarakat.

Dia mengatakan, jika melihat prosesi kejadian pemerkosaan itu, tempat
orang
tua korban sering kali tidak ada di rumah, artinya sama dengan
kurangnya
pengawasan terhadap si anak. Apalagi ada orang ketiga yang mendapat
kepercayaan untuk menjadi pengasuh, yang akhirnya berkhianat dan tega
melakukan perbuatan tersebut.

``Dari sanalah, hendaknya orang tua lebih memperhatikan kehidupan
anak-anaknya, daripada harus mengorbankannya hanya untuk kepentingan
periuk
nasi,`` ungkap Budi Hartono.

Di berharap, Pemda Depok khususnya dinas sosial, dinas pendidikan,
dan dinas
kesehatan bisa membuat program pendidikan seks kepada para pelajar,
ibu rumah
tangga serta masyarakat umum. Tujuannya agar mereka mengetahui
bagaimana
bahaya dan pengaruh seks jika tidak diarahkan dengan benar, akan
terpengaruh
budaya asing. (Sht/J-3)

http://www.mediaindo.co.id/detail_news.asp?id=2000051708575317








>> Pusing milih POP3 atau web mail? mail.telkom.net solusinya <<
>> Belanja Info & Keperluan Balita? Klik, http://www.balitanet.or.id
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]












Kirim email ke