Fyi....

----------
From:  A. Deni Wardhaya [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] <mailto:[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]>

Sent:  04 Agustus 2000 8:00
Subject:  Demam Tifoid


Sekedar Informasi bagi yang punya anak dan ingin punya anak.
Lebih Banyak Menyerang Anak-anak. Demam Tifoid Bisa Membawa Kematian Media
Indonesia - Kesra (7/31/00)
JAKARTA (Media): Demam Tifoid sebagai penyakit yang cukup fatal malah sering
tidak dianggap serius oleh masyarakat. Padahal demam ini telah lama dikenal
dan selalu muncul sepanjang tahun di Indonesia, sehingga angka kejadiannya
tergolong paling tinggi di dunia. 
"Penyebabnya, kuman Salmonella typhi yang berkembang biak dalam sel-sel
darah putih di berbagai alat tubuh," ucap spesialis anak dr Narain H
Punjabi, di Jakarta, Sabtu, melalui simposium 'Demam Tifoid:Salah Satu
Masalah Kesehatan Anak di Indonesia'.
Kegiatan ini diadakan atas kerja sama Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang
Jakarta Raya (IDAI Jaya) dan Aventis Pasteur Indonesia. 
Menurut dia, demam tifoid merupakan penyakit endemis dengan penderita tiap
tahun mencapai 358 - 810 orang dari 100.000 penduduk dan 80% - 90% di
antaranya anak-anak berusia 2 sampai 19 tahun. 
Bahkan dengan kemungkinan muncul secara mendadak, dijelaskan bahwa penyakit
infeksi itu termasuk serius karena angka kematian yang cukup tinggi,
berkisar 1% hingga 5% dari penderita. 
Anak-anak, lanjutnya, mudah terserang demam tifoid karena mereka belum
mengetahui dan menyadari pentingnya kebersihan diri maupun lingkungan.
Selain itu, tambahnya, sistem kekebalan tubuh anak belum terbentuk dengan
kuat, sehingga mudah terpapar oleh berbagai kuman. 
Selaku Ketua Unit Kerja Infeksi IDAI Jaya, Narain mengungkapkan anak-anak
biasanya menerima saja makanan/minuman yang dianggap 'aman' dari orang
dewasa, padahal sudah tercemar kuman Salmonella typhi. 
Dia menuturkan kuman tersebut masuk lewat mulut ke saluran pencernaan, dan
bisa mencapai usus halus sebelum berupaya masuk tubuh. "Bila hal ini
terjadi,kuman akan ikut aliran darah hingga menuju organ hati dan berkembang
biak dalam sel makrofag (satu jenis sel darah putih)." 
Dikatakan, kuman yang keluar dari hati akan kembali ke peredaran darah, lalu
menyebar ke organ tubuh lain. Maka selain demam, ucapnya, muncul gejala
klinis antara lain berupa perasaan lemah, kurang nafsu makan, sakit kepala
termasuk perut, gangguan atau kesulitan buang air besar, diare atau bahkan
sembelit.
Narain menambahkan komplikasi yang dapat menyertai demam tifoid adalah
perdarahan maupun lubang di usus, gangguan kesadaran, atau serangan di organ
tubuh lain seperti jantung, paru-paru, dan sebagainya. 
Bisa kambuh 
Spesialis anak lainnya, dr Soedjatmiko mencatat bahwa pasien penyakit itu di
Bagian Ilmu Kesehatan Anak pada Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo yang paling
banyak umur 5 sampai 9 tahun dengan perbandingan anak perempuan 61,3% dan
laki-laki hanya 38,7%. 
Namun, dia mengakui 15% penderitanya akan kambuh meskipun penyakitnya telah
diobati dengan baik sedangkan 1% hingga 4% lagi masih dapat menyebarkan
kuman Salmonella typhi ke orang lain melalui tinja. 
"Walaupun tidak sakit lagi, anak umur lima tahun ke bawah serta orang dewasa
sering menjadi pembawa kuman, sementara peluang perempuan tiga kali lipat
dari laki-laki," tegasnya. 
Maka, diimbau untuk mencegah penularan dengan meningkatkan kebersihan diri
serta lingkungan, selain melindungi makanan/minuman jangan sampai dihinggapi
lalat. Soedjatmiko menyarankan supaya tangan dicuci bersih sebelum makan
maupun setelah buang air besar, disamping tidak membuang hajat sembarangan. 
Ironisnya, Manajer Medis Aventis Pasteur Indonesia dr Hudoyo Hupudio melihat
dalam beberapa tahun terakhir, kian banyak kuman Salmonella typhi yang
rupanya sudah kebal terhadap antibiotik, bahkan terhadap beberapa obat
antibiotik sekaligus. 
Kenyataan tersebut, dikemukakan bahwa bukan saja terjadi di Indonesia,
melainkan juga ditemukan di Thailand, Vietnam, Singapura, dan negara-negara
di Afrika maupun Amerika Latin. Diyakini, hal ini mengakibatkan pengobatan
demam tifoid menjadi sulit dan jauh lebih mahal. 
Apalagi, tandasnya, sangat sulit menegakkan diagnosis pada anak-anak karena
banyak penyakit infeksi yang menyerang kelompok usia muda itu dan gejala
klinisnya sering kali tidak khas. 
Jadi, dia berpendapat upaya lain untuk melindungi diri dari penularan kuman
tersebut adalah dibarengi dengan vaksinasi, cukup sekali suntik yang
mencapai perlindungan selama tiga tahun. (Rse/V-2)

>> www.jajak.com >> Pilih jawabannya dan rebut hadiahnya <<
>> Kirim bunga ke-20 kota di Indonesia? Klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]















Kirim email ke