Artikel ini mungkin berguna untuk rekan netter yang tidak bisa akses
langsung homepages http://members.tripod.com/infoanakindonesia/

regards

ibunya Ajie


Membesarkan Anak Yang Kreatif

  Ibu dan ayah yang ingin membesarkan 'Michelangelo' baru mungkin perlu
sedikit menahan diri. Riset baru   mengatakan bahwa anak-anak yang orang
tuanya benar-benar 'membiarkan mereka' akan menjadi lebih kreatif
dibandingkan anak-anak yang orang tuanya lebih banyak terlibat dalam
proses kreativitas mereka. Hasil temuan tersebut dipresentasikan oleh
Dr. Dale Grubb dari Baldwin-Wallace College di Berea, Ohio, dalam
pertemuan   tahunan American Psychological Society.
Para orang tua yang suka mengajari berbagai hal kepada anak-anak mereka,
cenderung mempunyai anak-anak  yang kurang kreatif, demikian ia
menjelaskan. Dan yang perlu digarisbawahi ialah kadang mereka terlalu
berlebihan mencoba untuk terlibat dalam proses kreativitas si anak.

? Biarkan kreativitas mereka berkembang
Dalam penelitian tersebut, mereka menggunakan berbagai metode pengujian
untuk menilai kreativitas 29 orang  anak yang berusia 3 - 6 tahun, dan
kreativitas salah satu orang tua anak-anak tersebut. Grubb menjelaskan
bahwa dalam satu tes mereka memberikan beberapa pertanyaan sederhana,
seperti "bagaimana anda dapat               menggunakan sepotong
kertas?" atau "bagaimana anda dapat menggunakan sebuah kotak?", dan
semakin  banyak ataupun semakin 'asing' jawaban yang diberikan, maka
mereka dianggap semakin kreatif.
Tidak mengherankan, orang tua yang lebih kreatif tampaknya mempunyai
anak-anak yang lebih kreatif. Namun Grubb mengatakan bahwa mereka masih
tidak jelas apakah hal ini terjadi karena faktor genetik atau cara
mereka mendidik. Dengan memusatkan perhatian pada cara orang tua
mendidik, para peneliti merekam interaksi antara orang tua dan anak
mereka saat sedang bermain. Mereka membuat asumsi bahwa orang tua dengan
cara mendidik yang paling mendukung dan 'memungkinkan', akan mempunyai
anak-anak yang paling kreatif.                "'Memungkinkan' berarti
bersikap sangat fokus pada anak, bertanya kepada si anak tentang apa
yang ingin ia  lakukan, mengapa begini atau begitu serta hal-hal lain
yang seperti itu," Grubb menjelaskan.
Tetapi asumsi yang mereka buat ternyata keliru. Gaya mendidik yang
'memungkinkan' bukan hanya tidak ada kaitannya dengan tingkat
kreativitas tertentu dari anak, akan tetapi malah ? meskipun tidak besar
? cenderung                menyebabkan berkurangnya kreativitas. "Malah
gaya 'Memungkinkan' ini dapat dengan mudah berkembang menjadi apa yang
disebut sebagai sikap 'memaksa', yang membuat orang tua sering berkata:
"jangan begitu, lakukan seperti ini", dan tidak memberikan banyak
pilihan kepada anaknya," kata Grubb.
Pesan yang dapat diambil, menurut Grubb, adalah bahwa kalau orang tua
menghargai kreativitas si anak dan  memberikan dukungan tanpa terlalu
mengarahkan dan kalau mereka sendiri memang kreatif, maka mereka
mungkin akan mempunyai anak-anak yang lebih kreatif.

? Bagaimana hal ini dapat diterapkan ke dalam ruang bermain anak?
Pertama-tama, hindari alat-alat permainan yang memaksakan konsep
struktur atau membatasi kreativitas si anak. Berikan kepada mereka
kertas putih polos, bukan buku mewarnai (dengan gambar-gambar yang telah
ditetapkan sebelumnya) dan biarkan mereka menemukan sendiri kemana
mereka ingin pergi.
      Pilih alat-alat permainan yang bentuknya lebih mudah diubah-ubah
(seperti lilin mainan), ketimbang balok-balok yang saling disambung dan
hanya dapat membentuk bangunan persegi yang terbatas.
      Namun yang paling penting, selalu berikan pujian atas usaha yang
telah mereka lakukan. Mereka mungkin saja  menggambar sesuatu yang
konyol atau tidak masuk akal, namun tetap berikan pujian karena mereka
telah mencoba membuat sesuatu yang baru, demikian saran Grubb.



Sepuluh Perangkat Penting dalam Pengasuhan yang Positif

MENENTUKAN BATASAN.
               Perlu diyakini bahwa setiap anak itu memerlukan batasan.
Anak benar-benar membutuhkan aturan yang lentur dan ia akan mengalami
kebingungan tanpa peraturan. Dengan membuat batasan berarti kita telah
menyediakan                lingkungan fisik yang memberikannya rasa aman
dan dapat dijadikan tempat belajar. Setiap usia akan mempunyai batasan
tersendiri, dengan demikian kita sebagai orangtua juga harus siap untuk
memperluas batasan kita sesuai dengan perkembangan usia anak.
               Jika kita menentukan batasan tidak perlu banyak-banyak,
paling banyak 5 atau 6 saja. Letakkan di tempat yang  mudah dilihat
mereka, sepertinya di pintu kulkas adalah tempat yang tepat.

4 petunjuk tepat bagi keluarga mengenai bagaimana memperlakukan dan
diperlakukan anggota keluarga  dengan baik:
1. Pergunakan bahasa yang tepat dan sesuai untuk memberitahu bagaimana
perasaan kita terhadap  mereka. Kita tidak mempergunakan bahasa yang
kasar atau sebutan yang tidak menyenangkan bagi   mereka.
2. Tidak akan melukai orang lain baik secara fisik maupun mental.
3. Tidak akan merusak barang orang lain maupun miliki kita sendiri.

4. Berusaha untuk menyelesaikan masalah yang melanda kita, bukan
berkubang disana.

Jika masalah muncul, lihat kembali kepada petunjuk tadi, apakah ada yang
tidak beres?
Anak-anak kadang-kadang akan mencoba mengetes batasan-batasan yang sudah
diberikan, disini kita harus  bersikap konsisten untuk mendorong mereka
melakukan apa yang sudah digariskan. Ada batasan yang bisadinegosiasikan
ada yang tidak. Konsisten saja. Barangkali kita sering terlalu mudah
untuk mengatakan tidak dankemudian mengatakan ya. Oleh karena itu jangan
takut untuk mengatakan "Saya perlu pikirkan lagi tentang hal itu". Perlu
diingat bahwa batasan itu akan membuat anak kita merasa aman dan dapat
menjadi orang yang percaya diri. Terakhir yang harus diingat adalah
penting orangtua bekerjasama dan sama-sama menyetujui aturanyang dibuat,
jangan sampai terjadi pertentangan.

 TIME OUT dan PENDINGINAN.
  Kombinasi ini berlaku untuk orangtua dan anak. Ketika anak berbuat
tidak benar, dia merasa kecil hati dan  seringkali tidak bisa mengontrol
diri. Time out akan memberikan tempat dimana dia bisa mengatur dan
mendinginkan suasana. Anak usia di bawah 3 tahun memerlukan diri kita
untuk menenangkan, berada  didekatnya dan menentukan berapa lama anak
mengontrol dirinya. Anak di atas 3 tahun akan belajar berapa lama waktu
yang dibutuhkannya untuk Time out dan akan belajar menentukan kapan
mereka siap untuk kembali. Sikap positif dari orangtua dan cara
melaksanakan Time out akan menentukan apakah hal itu merupakanhukuman
atau cara positif untuk belajar mengontrol diri. Kitapun perlu mengenali
kapan kitapun memerlukan Time out. Semua orangtua dapat menggunakan
waktu pendinginan untuk meredakan kemarahan dan menghilangkan frustrasi
akibat perbuatan anak. Ketika kita melakukan pendinginan maka kita akan
menjaga diri dari berbicara atau berbuat sesuatu yang menyakitkan anak
yang kemudian akan disesali, dan kita dapat menjadi model bagaimana
mengontrol emosi diri sendiri bagi anak. Cara yang bisa kita lakukan
adalah menarik nafas dalam-dalam dan menghitungkan sampai seputuh,
meninggalkan anak dengan orang yang bisa dipercaya atau jalan-jalan atau
mengunci pintu sejenak untuk memberikan ruang pribadi bagi kita. Biarkan
anak tahu bahwa kita  akan menemui mereka kembali setelah merasa reda
atau anak-anak mau tenang. Jangan sampai mengesankan cara ini adalah
suatu bentuk penolakan kita terhadap anak.

BERWAJAH DINGIN (POKER FACE).
               Banyak ahli menggunakan istilah ini untuk mendefinisikan
sikap tenang, bahasa tubuh yang santai. Ketika kita menjaga wajah kita
lurus, hal itu memperlihatkan bahwa kita tidak terpengaruh dengan
kekacauan yang terjadi                dan tidak terpancing emosi. Jaga
alis kita ke atas dan anda tidak akan merengut. Jika kita bicara, jaga
suara kita tenang dan dingin. Hal ini merupakan cara yang sangat efektif
ketika tidak ingin memberikan perhatian yang tidak pantas terhadap
perilaku anak yang negatif tapi kita ingin tetap terlibat. Contohnya ada
seorang ibu yang ingin
mengajak anaknya Doni usia 2 tahun untuk tidur tapi selalu bangun lagi
dan turun dari tempat tidur, dengan cara yang ramah dan tenang, dengan
wajah dingin dan bicara beberapa patah kata. Pada hari pertama saya
tetap tenang dan ramah dan menyuruh Doni kembali ke tempat tidur
berulang kali sampai 35 kali (hal itu membantu saya untuk bisa
menghitung apa yang saya lakukan). Akhirnya dia tertidur di tengah ruang
di lantai. Pada hari berikutnya saya perlu mengajaknya sampai 15 kali,
dan kembali ia tertidur di lantai. Hari ketiga ia menangis untuk 5 menit
dan tidur di lantai dekat tempat tidurnya. Hari keempat ia menangis 5
menit dan tetap tinggal di tempat  tidur. Setelah itu ia pergi tidur
dengan senang hati dan tanpa disuruh. Hal ini merupakan sesuatu yang
berat untuk dilakukan, memerlukan kesabaran yang sangat tinggi. Ketika
Doni tidak mendapatkan keuntungan apa-apa, tidak ada kata-kata manis,
tidak ada teguran dan peringatan, tingkah laku itu dihentikannya.

WAKTU UNTUK BERLATIH.
Banyak tingkah laku tidak sesuai yang kerap muncul dapat dicegah.
Asalkan kita tahu cara menghindarinya. Kesalahan yang kerap terjadi
adalah kita punya harapan bahwa anak kita tahu semua yang kita tahu
padahal dalam kenyataanya tidak begitu. Dengan kita memberi kesempatan
pada anak untuk belajar dan menjelaskan  alasan-alasannya, anak dapat
berbuat sesuatu dengan lebih baik. Jika kita punya masalah, coba ingat
apakah kita sudah pernah mengajarinya tentang hal itu. Jika kita punya
masalah dengan anak kita yang secara sembrono lari ke jalan raya, coba
minta ia berdiri di pinggir jalan tentunya di awasi oleh orang dewasa
lainnya dan mengawasi anda mengendarai mobil sambil melindas
mobil-mobilannya atau sepotong semangka. Katakan  "Coba lihat berat
sekali mobil ini ya? Bisa menghancurkan sesuatu" Dari situ katakan
mengapa kita harus berjalan di pinggir jalan. Walaupun kita sudah
memberitahu anak, tentunya kita harus terus mengawasi anak kalau
berada                di jalan. Dan anakpun akan mempunyai pemahaman
yang lain mengapa kita tetap mengawasi mereka. Alasan anda dekat dengan
dia, bukan semata-mata karena mengkhawatirkan dirinya tapi untuk
menunjukkan bahwa kita tahu bahwa anak kita sudah mampu dan bisa
memahami aturan tersebut.
Kalau anak kita suka berbuat keonaran di toko mainan, luangkan waktu
untuk mengajarinya dengan cara  membuat 'perjalanan' ke toko sebagai
latihan. Anak kita tidak akan menyadari bahwa itu latihan. Katakan
kepadanya sebelum kita pergi ke toko apa yang akan kita lakukan jika ia
menangis atau merengek. "Nina, kita  akan pergi cari kado untuk adik
Ari. Kita akan memilih kado terus ke kasir untuk membayar dan langsung
pulang.
Kalau kamu merengek dan menangis kita akan langsung kembali ke mobil
tanpa beli kado". Lakukan seperti    yang anda bicarakan. Latihan ini
akan menghemat waktu anda di kemudian hari, karena anak anda akan yakin
bahwa anda akan melakukan apa yang anda katakan akan anda lakukan . Jika
berpakaian jadi masalah, ingat jangan pernah melakukan sesuatu pada anak
mengenai hal yang bisa                dikerjakan anak sendiri.
Kebanyakan anak usia 2,5 tahun bisa pakai baju sendiri asal dilatih.
Luangkan waktu untuk membeli baju yang gampang dipakai, ajarkan
bagaimana mengenakannya dan biarkan mereka   mengenakanya sendiri.
               Coba buat papan latihan. Cara ini akan mengajarkan anak
untuk belajar tentang perilaku yang baik dan bertanggung jawab. Hal ini
bukan sistem hadiah. Anda hanya membantu anak memvisualisasikan metode
monitoring perilakunya sendiri. Coba kita buat papan membereskan tempat
tidur.
               Setelah menjalankan hal itu pada akhir minggu, kita
rayakan keberhasilan tersebut dengan pergi bersama atau aktifitas lain
bersama yang menyenangkan.

BERBUAT TANPA BANYAK BICARA.
               Anak-anak akan bosan dengan ceramah dan pengamatan yang
terus menerus. Lama-lama anak akan 'menulikan'   telinga terhadap omelan
kita. Seringkali anak akan menuruti orangtua setelah ia tahu apa
sebenarnya yang  dimaksud oleh orangtua atau sampai melihat kita lepas
kendali dan marah. Katakan apa yang ingin anda katakan 1 kali dengan
pesan positif, dari pada kita bilang "jangan lari" Coba katakan "coba
jalan dengan tenang" dan   kemudian lakukan. Hentikan mengingatkan terus
menerus. Jika anak tidak mau berhenti berlari, hentikan secara   halus
dan tegas.

PILIHAN.
               Kalau ingin mendorong tumbuhnya tanggung jawab, tawarkan
pilihan-pilihan yang masuk akal jangan menuntut. Memberdayakan pilihan
memberikan rasa pada anak untuk mengontrol apa yang terjadi pada
dirinya, hal ini penting untuk penghargaan terhadap diri sendiri. Ketika
kita memberikan pilihan bukan untuk dinegosiasikan tapi untuk membawa
kan wawasan anak dan menjadikan anak yang bertanggungjawab,
mengembangkan kerjasama. Harus diingat pilihan yang diberikan harus
dapat diterima anak.

WAKTU KHUSUS.
               Anak kita membutuhkan waktu khusus dengan kita atau
pengasuhnya dalam keseharian hidupnya. Kita tidak   perlu memanjakan
dengan aktivitas yang mahal. Kita bisa lakukan sesuatu yang murah tapi
menyenangkan. Hanya main-main dirumah atau jalan-jalan keliling komplek
ini juga bisa dilakukan. Waktu itu benar-benar khusus   untuk anak tidak
boleh diselingi kegiatan lain. Yang paling penting dalam kegiatan ini
adalah anak tahu kapan hal ini akan diadakan. Selain itu adalah kita
melakukan apa yang dipilih dan disukai anak. Hal ini akan terus diingat
anak, merasa dicintai dan tidak akan mencari perhatian lewat perilaku
buruk.

MEMBESARKAN HATI.
               Merupakan sesuatu yang kita pergunakan untuk membuat
perubahan yang positif, membantu anak untuk  mengembangkan kepercayaan
dirinya. Belajar memisahkan antara apa yang dilakukan anak dengan jati
diri  anak. Jangan menggunakan kata anak baik dan anak nakal. Berbuat
kesalahan itu wajar karena itu merupakan proses belajar. Cinta itu tidak
bersyarat. Berikan pesan positif dengan antusiasme secara tiba-tiba
ketika anak  tidak mengharapkan. Perhatikan pada perbuatan anak yang
positif daripada perbuatan negatif. Temukan                kebaikannya.
Fokuskan pada proses yang terjadi bukan pada hasilnya. Pertahankan sikap
yang positif dengan  cara "melihat gelas separuh sebagai gelas ? penuh
dari pada ? kosong" Coba melucu, hidup ini jangan terlalu serius. Dari
pada menyalahkan, coba untuk mencari cara penyelesaikan masalah. Buat
harapan yang sesuai  dengan tingkat usia. Terlalu over protektif dan
selalu menolong itu akan mengecilkan arti anak. Dari pada terus menerus
memaksa, lebih  baik memberdayakan mereka dengan meninggalkannya,
misalnya: "Sita, ibu tinggalkan kamu di kamar mandi ya. Kalau kamu cepat
sikat gigi saya akan ajak kamu membaca buku".  Bersabarlah dan tunjukan
minat akan proses dari diri anak. Gunakan "ya" daripada "tidak". Katakan
"letakan kaki
kamu dilantai" lebih baik daripada "jangan taruh kaki disofa, kotor!".
Gunakan pertanyaan "apakah" "mengapa" atau "bagaimana" untuk melihat
apakah persepsi anak kita sama dengan persepsi kita. Gunakan kata
"tolong"    dan "terima kasih".

PERTEMUAN KELUARGA.
               Pertemuan keluarga merupakan pendekatan kelompok dan
langsung antara orangtua dan anak untuk    menghubungkan dan melatih
ketrampilan yang dimiliki. Dan pertemuan keluarga anak bisa merasakan
bahwa  kontribusinya itu diperlukan.

MENYELESAIKAN MASALAH.
Dengan berbicara dan mendengarkan anak akan membantu anak
untuk                mengembangkan ketrampilan membuat keputusan yang
baik dan mendorong kerjasamanya. Sebelum anak mau mendengarkan kita, ia
ingin kita mau mendengarkan mereka dahulu . Hal ini tidak akan berfungsi
pada saat kita                marah. Agar poses ini berhasil beberapa
hal yang bisa dilakukan :
Sebutkan perasaannya. Tunjukan perhatian yang sungguh-sungguh, misalnya:
"Susi, sepertinya kamu  sedih sekali karena Tuti pindah rumah". Beri
jeda dan dengarkan dan refleksikan.
                   Berempati
        Ekspresikan perasaan anda
                   Solusi sumbang saran
                   Laksanakan, buat evaluasi


Kalau anda merasakan terlalu banyak chaos dan anda ingin anak menunjukan
tanggung jawab. Coba buat   batasan, pergunakan time out dan pendinginan
dengan wajah dingin dan atau beraksi dangan menggunakan  beberapa kata
atau mungkin waktu untuk berlatih. Kalau anak mengabaikan kita, coba
buat pertemuan keluarga               dan selesaikan masalah dan ketika
kita ingin membangun kepercayaan diri anak buat kegiatan khusus dan
memberikan banyak dorongan. Peralatan ini harus dikombinasikan dengan
kesabaran, konsistensi dan rasa  cinta akan membantu anda menjadi
orangtua yang positif.

(sumber, Positive Parenting from A to Z, karen Renshaw Joslin, 1994)

Kirim email ke