Rekans Netter,
Beberapa waktu lalu ada topik tentang anak yang suka
mengedipkan mata. Kebetulan saya temukan artikel ini,
semoga berguna.
Mamanya Dafi
Mengenal & Menangani Tiks
pada Anak
Oleh M. Ninik Handayani, S.Psi.
Tiks otot adalah gerakan tubuh yang
sekonyong-konyong,
berulang-ulang tanpa tanpa tujuan,
di mana otot-otot bergerak tanpa
tujuan, tanpa sengaja, impulsif,
dan terus menerus. Lazimnya, setelah
kedipan mata, diikuti gerakan muka,
leher, dan bahu. Tiks juga meliputi
kerutan dahi, juluran lidah, batuk,
sentakan kepala, mulut. Selain itu
ada juga tiks verbal berupa suara
yang diulang-ulang, kadang-kadang
berupa pengulangan frase (misalnya
"kau tahu").
Tiks biasanya lebih intens dan
lebih sering terjadi dalam kondisi
tertekan. Tiks tidak terjadi ketika
tidur, dan lebih banyak diderita anak
laki-laki daripada anak perempuan.
Biasanya tiks dimulai pada usia
4-12 tahun, dan paling sering
terjadi pada usis 7-9 tahun. Umumnya
tiks tidak berlanjut hingga anak
dewasa, kecuali tiks majemuk.
Anak yang mengalami tiks seringkali
gelisah, peka, mudah terpengaruh
keadaan, keras kepala, dan sangat
tergantung pada orang lain.
Pemerikasaan medis akan membedakan
tiks nervous dan tiks organik.
Tiks organik yang timbul karena
gangguan pada sistem saraf pusat
(fisik), biasanya tidak teratur,
sekilas, dan tidak stereotip. Sedangkan
tiks nervous terjadi berulang kali,
kadang-kadang ratusan kali sehari.
Selain itu tiks nervous tidak
terasa sakit dan tidak terjadi pengecilan
otot (atrofi).
Penyebab terjadinya tiks
Ketegangan
Banyak hal dapat mencemaskan anak,
terutama tekanan dari teman
sebaya (misalnya kelompok teman
yang kompetitif dan suka
mengejek) dan sekolah. Anak sering
merasa tidak mampu memenuhi
tuntutan yang dibebankan padanya.
Rasa tidak mampu yang disertai
rasa malu dan sadar diri ini dapat
menimbulkan tiks. Berkedutnya
(mengejangnya) otot merupakan
reaksi fisik alamiah bagi ketegangan.
Jika ketegangan berkepanjangan,
otot akan terbiasa berkedut, walau
tidak sedang tegang.
Tingkah laku orang tua
Anak yang menderita tiks ,
khususnya yang di bawah 6 tahun,
biasanya mempunyai orang tua yang
menderita tiks juga. Karakter
orangtua yang terlalu pencemas,
kaku dan keras, selain menjadi
contoh bagi anak, juga mendorong
timbulnya tiks karena mereka
mengasuh anak dengan tekanan atau
tuntutan yang tidak realistik.
Beberapa orangtua tanpa sengaja
memupuk kebiasaan tiks anak.
Ketika kedutan otot terjadi secara
alamiah, orangtua bereaksi
berlebihan (menunjukkan simpati,
perhatian, kegusaran, atau bahkan
marah-marah misalnya), yang justru
akan mempersering terjadinya
tiks.
Reaksi terhadap trauma
Khususnya kehilangan orang yang
berarti baginya. Berkedutnya otot,
semula merupakan reaksi menghindar
(misalnya memejamkan mata)
yang normal selama atau setelah
kejadian yang membingungkan anak
untuk menyalurkan ketegangan
ototnya. Namun seringkali gerakan ini
menjadi kebiasaan untuk mengalihkan
diri dari rasa tidak nyaman.
Konflik yang tidak terselesaikan
Tiks verbal (seperti mendengkur,
mendehem nyaring) merupakan cara
yang lebih aman daripada
memaki-maki untuk menyatakan kemarahan.
Ini secara tidak langsung juga akan
mengganggu orang lain. Sentakan
kepala dapat menjadi simbol untuk
mengatakan "tidak" atas
tuntutan-tuntutan yang menekan,
atau pikiran-pikiran buruk yang
ditabukan.
Sebab-sebab fisik
Tiks nervous berbeda dengan tiks
yang disebabkan oleh kekejangan
(spasmus), keracunan, penyakit
saraf, atau athetosis (anggota badan
atau bagian tubuh meliuk-liuk
lambat tanpa dikehendaki), dan demam
rematik. Untuk memastikan hal ini,
diperlukan pemeriksaan medis.
Masih diperdebatkan mengenai
sebab-sebab sindrom Tourette.
Sebagian ahli berpendapat tiks
tersebut adalah kebiasaan, atau
sesuatu yang dipelajari. Sementara
ahli lainnya berpendapat tiks
tersebut disebabkan faktor organik,
yakni adanya gangguan pada
sistem saraf pusat.
Pencegahan tiks
Dorong anak untuk
mengekspresikan perasaan dan
memiliki rasa percaya diri.
Anak memerlukan figur yang
dapat dipercayainya untuk
membicarakan semua perasaan
dan fantasinya tanpa ia harus
merasa malu atau takut.
Beberapa orangtua menolak
pembicaraan yang dianggap
"kotor" atau "aneh", padahal anak
perlu membicarakannya sebagai
fakta untuk mengatasi
kebingungannya. Orang tua juga
perlu melatih anak untuk
menyatakan kemarahannya, tanpa
menyakiti orang lain,
terutama bila anak Anda
cenderung pasif atau seing merasa tak
berdaya.
Hindarkan ketegangan.
Cara mengasuh yang terlalu
keras, terlalu kaku, atau terlalu
menghukum. Kecemburuan
terhadap saudara sekandung atau
pertengkaran-pertengkaran
dalam keluarga perlu dikurangi. Anda
juga perlu memastikan bahwa
anak cukup beristirahat setiap
hari. Yang tidak kalah
pentingnya adalah menenangkan dan
menentramkan hatinya. Katakan
kepada anak dan tunjukkan
dengan bukti-bukti bahwa Anda
mencintainya dan segala
sesuatu akan dapat diatasi.
Merasa sekelilingnya kacau dan
merasa tidak berdaya, adalah
sangat menakutkan bagi anak
yang sensitif.
Jangan bereaksi berlebihan.
Lazimnya tiks akan menghilang
(untuk sementara atau
seterusnya), tanpa ditangani.
Ketika anak baru menunjukkan
gejala awal tiks, jangan
mengomel ataupun membentak. Reaksi
berlebihan terhadap tiks
justru akan meningkatkan ketegangan
anak, sehingga semakin
membiasakan tiks tersebut.
Kebingungan, kemarahan, dan
perhatian berlebihan dari orang
tua, membuat anak takut. Bila
anak Anda mengalami kejadian
traumatis, bersikap hangat dan
mendukunglah. Jangan
merisaukan tiks yang terjadi
padanya, tetapi berikanlah rasa
aman, dan bangunlah rasa
percaya dirinya. Bila pada hari-hari
berikutnya tiks masih
berlanjut, barulah Anda tempuh
langkah-langkah di bawah ini.
Penanganan untuk anak yang
mengalami tiks
Beri imbalan dan abaikan.
Metode ini efektif terutama
bila kebiasaan tiks baru saja dimulai.
Caranya, abaikanlah tiksnya
dan berilah anak imbalan utnuk
waktu-waktu yang dilaluinya
tanpa tiks. Untuk menghindarkan
anak merasa malu dan marah,
bicarakan tiks sebagai fakta
(misalnya bahwa tiks tidak ada
guna/tujuannya). Memang lebih
bermanfaat bila Anda mendukung
anak bersikap santai, dan
tidak perlu menuntut anak
melakukan sesuatu pun atas
tiks-nya. Semakin
memperhatikan dan semakin keras mencoba
menghentikannya, justru
semakin parah tiksnya.
Latihan mengendalikan
kecemasan.
Latihlah anak mengatasi
kecemasan, bagaimana bersikap
santai dan tenang. Caranya
adalah dengan menunjukkan
bagaimana otot-otot
betul-betul rileks. Tentu saja pada awalnya
anak akan mengalami kesulitan.
Mula-mula mintalah anak
menegangkan otot lalu
mengendurkannya perlahan-lahan, begitu
seterusnya sampai ia merasa
lemas dan semakin lama anak
mampu mempertahankan keadaan
ini. Gunakan stopwatch
untuk mencatat peningkatan
kemampuan ini (mula-mula
mungkin 10 detik). Akan lebih
baik bila dalam latihan ini anak
diminta juga membayangkan
sesuatu yang menyenangkannya
untuk memudahkan timbulnya
perasaan tenang. Selama ia
rileks, paparkanlah situasi
yang mencemaskannya itu (misalnya
masalah berbicara di muka
kelas). Lakukan pemaparan secara
bertahap, sampai anak mampu
mendengarkannya sambil tetap
rileks.
Memonitor diri sendiri.
Selama beberapa hari anak
dilatih menyadari dan mencatat
frekuensi terjadinya tiks.
Anda mungkin perlu menunjukkannya
setiap kali tiks terjadi,
semata-mata agar tak ada tiks yang
terlewatkan, disadari anak.
Hasilnya akan mengejutkan. Hanya
dengan menghitungnya,
seringkali tiks itu akan berkurang atau
bahkan menghilang dengan
sendirinya.
Melatih tiks.
Justru dengan sengaja
melakukannya kemudian sengaja pula
menghentikannya, tiks dapat
dihilangkan. Anak-anak dapat
melakukannya sampai lelah dan
mengaanggap ini sebagai
permainan. Sekurang-kurangnya
ini dilakukan tiga kali
seminggu, masing-masing selama
setengah jam. Agar maksud
latihan ini tercapai, anak
harus diajak memahami bahwa tujuan
latihan ini adalah menyadari
gerakan yang semula tidak
disadari, sehingga secara
sadar pula dapat menghentikannya.
Melawan kebiasaan.
Anak dilatih melakukan respons
yang menyaingi kebiasaan
tiksnya. Respons saingan ini
harus membuat anak lebih
menyadari kebiasaannya
sekaligus menghalangi kebiasaan
tersebut (tiks tidak dapat
terjadi bila respons saingan dilakukan),
serta dapat dipertahankan
untuk jangka waktu tertentu dan tidak
mengganggu aktivitas
normalnya. Misalnya untuk tiks
menyentakkan kepala, atau dagu
ditekankan dalam-dalam ke
dada.
Latihan menyadari.
Kepada anak, nyatakanlah
kebiasaan tiksnya, lalu mintalah ia
untuk mengamati dirinya
sendiri di depan cermin dan sengaja
melakukan gerakan tiks
tersebut. Perhatikan dan biarkan anak
menyaksikan ketika tiks
terjadi. Tujuannya adalah agar anak
mengenali tanda-tanda awal
yang mendahului tiksnya. Ingatkan
ia dengan sisi-sisi buruk
tiks: tidak enak dilihat, memalukan ,
dan tidak nyaman secara
psikologis. Ajaklah anak
membayangkan dirinya sendiri
dalam berbagai situasi di mana
ia terlibat di dalamnya tanpa
melakukan tiks. Ajari pula anak
Anda untuk meminta bantuan
orang lain untuk mengingatkannya
bila ia melakukan tiks.
Mungkin anak akan malu pada awalnya,
tetapi biasanya ini akan lebih
membantu karena orang
memperhatikannya. Kerabat dan
teman-teman anak perlu
membantunya dan memberi pujian
atas usahanya serta betapa
ia tampak lebih menyenangkan
tanpa tiks. Mereka juga dapat
mengingatkannya untuk melatih
respons saingan.
Obat-obatan.
Ada yang berpendapat bahwa
obat-obatan akan memperburuk
rasa tak berdaya anak. Namun
berbagai obat-obatan terbukti
berhasil menghentikan tiks.
Obat haloperidol berhasil
menghentikan tiks majemuk
seperti sindroma Tourette.
Sedangkan butyrophenes,
phenothiazine, methylphenidate,
dan dextro-amphrtamine
terbukti berhasil untuk tiks tidak
majemuk. Tentunya penggunaan
obat-obatan ini harus dengan
pengawasan dokter.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/
>> www.jajak.com >> Pilih jawabannya dan rebut hadiahnya <<
>> Kirim bunga ke-20 kota di Indonesia? Klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]