Info donk .... gimana & di mana memeriksakan bahwa anak kita hiperaktif
atau tidak ?





"chida" <[EMAIL PROTECTED]> on 09/14/2000 12:57:14 PM

Please respond to [EMAIL PROTECTED]

To:   "Balita-Anda" <[EMAIL PROTECTED]>
cc:    (bcc: Lita Agustin/CON/PTTU)
Subject:  [balita-anda] Mengatasi Anak Hiperaktif




      Mengatasi Anak Hiperaktif

      Senang rasanya melihat si kecil aktif, bergerak ke sana-kemari seakan
tak ada letihnya. Namun, perlu juga diwaspadai, apakah si kecil hiperaktif?
Untuk itu deteksi sejak dini agar bisa ditangani sejak dini. Kalau tidak,
si hiperaktif akan sulit dikendalikan.
      "Hiperaktif dan gangguan perhatian bukan suatu gangguan yang dapat
"disembuhkan sepenuhnya," ujar dra. Shinto B. Adelar, M.Sc, psikolog anak.
Anak-anak hiperaktif bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang berhasil, tapi
ada pula yang sebaliknya hal ini terjadi karena tak ditangani sejak dini.

      Berdasarkan penelitian ternyata ada hubungan antara anak-anak
hiperaktif dengan mereka mereka yang pernah menghuni lembaga
pemasyarakatan. Kebanyakan yang tinggal di kawasan itu, masa kecilnya
mengalami hiperaktif. Mereka memiliki kenangan yang menyakitkan ketika di
sekolah.

      Ini akibat mereka tak ditangani sejak dini, mereka tumbuh dan
berperilaku merugikan dirinya maupun orang lain.

      Karena gangguan ini tak mampu disembuhkan. Orang tua dan pendidik
harus berusaha kuat membantu mereka dan perlu dibantu sejak dini sehingga
mereka bisa belajar mengatur hidup, mengatasi frustasi dan
kelemahan-kelemahannya.

      Bimbinglah si hiperaktif ini menemukan keunggulan atau kekuatan
sehingga mereka terlatih menghargai diri pribadi yang memiliki keunikan
yaitu kelebihan dan kekurangan.

      Jika tidak diberikan bantuan, anak akan berulangkali terperangkap
pada lingkaran kegagalan, frustasi, rendah diri dan akan membuat dirinya
selalu bermasalah.

      Penyebab Hiperaktif

        1.. Faktor Genetik

          a.. Anak laki-laki dengan eksra kromosom Y yaitu XYY.
          b.. Kembar satu telur lebih memungkinkan hiperaktif dibanding
kembar dua telur.
          c.. Faktor Lingkungan
          Racun atau limbah pada lingkungan sekitar bisa menyebabkan
hiperaktif terutama keracunan timah hitam (banyak terdapat pada asap
knalpot berwarna hitam kendaraan bermotor yang menggunakan solar).
          d.. Faktor Kultural dan Psikososial
          Si anak hiperaktif dan impulsif lebih banyak pada keluarga tanpa
ayah.
          e.. Faktor Neurologik
          Penelitian menunjukan, anak hiperaktif lebih banyak disebabkan
karena gangguan fungsi otak. Adanya brain damage akibat kesulitan pranatal
atau perinatal, penyakit berat, cidera otak.
      Cara Menangani Gangguan Perhatian & Hiperaktif

        a.. Ke dokter agar diberi obat tertentu untuk mengurangi
hiperaktivitas.
        b.. Pendisiplinan tingkah laku di rumah dan sekolah.
        c.. Anak diikutsertakan kegiatan fisik terutama yang bersifat
kompetetif seperti berenang, olahraga bela diri, aerobiks, sepatu roda dan
lain-lain.
        d.. Ketrampilan bergaul, ketrampilan menghadapi masalah dalam
kehidupan sehari-hari.
        e.. Orang tua dan anggota keluarga harus memahami gangguan yang
terjadi pada di hiperaktif sehingga bisa sama-sama menerima dan melatihnya.
      Membantu Si Hiperaktif Belajar

        1.. Orang tua dan anggota keluarga memiliki kesabaran pada si anak.
Tindakan yang menyebalkan yang ia lakukan bukan karena disengaja.
        2.. Menyediakan banyak waktu, sabar, tekun, konsisten, suportif,
karena si kecil butuh perhatian khusus.
        3.. Anak gangguan perhatian ini butuh bimbingan komunikasi,
instruksi, respon dari orang tua.
        4.. Jangan bernafsu mengajarkan anak. Berikan dia perintah sedikit
saja. Yang terpenting perhatiannya tidak lepas.
        5.. Jika si kecil sering mengalami kegagalan sehingga ia merasa
rendah, hati-hatilah, jangan sampai orang tua mengolok-ngolokwalaupun
maksud Anda bercanda.
      Membantu Memusatkan Perhatian Anak

        1.. Tunjukkan sikap antusias pada Anak ketika menjelaskan atau
mengajarkan sesuatu.
        2.. Variasikan nada dan volume suara saat mengajar. Sebelum
mengajar agar ia memperhatikan Anda, bersuaralah keras.
        3.. Gunakan alat bantu untuk mempermudah menarik perhatiannya,
seperti gambar.
        4.. Biarkan anak membaca dengan bantuan jari atau alat lain untuk
menunjuk bacaan yang dibacanya sehingga perhatiannya lebih terarah.
        5.. Kreatiflah menemukan contoh-contoh yang ada dalam kehidupan
sehari-hari.
        6.. Berikan penjelasan dengan singkat dan jelas.
        7.. Ajak anak belajar mengisi atau melengkapi kalimat yang belum
selesai.
        8.. Ajukan pertanyaan sehingga anak berpikir dan bertanya.
        9.. Latihlah diskusi kelompok.
        10.. Berikan pertanyaan mudah sehingga, mereka bisa menjawab dan
tak lagi merasa bodoh, untuk memberinya pengalaman positif.
        11.. Berikan pertanyaah yang bisa dijawab anak bersama-sama
sehingga mereka bisa menjawab bersamaan.
      Agar Anak Tetap Tenang

        1.. Tempatkan anak di bangku yang dekat guru, di antara anak yang
tenang dan amat memperhatikan pelajaran.
        2.. Tataplah anak saat berkomunikasi.
        3.. Singkirkan perlengkapan yang tidak diperlukan di meja belajar
anak, supaya perhatiannya tidak pecah.
        4.. Gunakan kode tertentu yang disepakati anak untuk mempermudah ia
berkosentrasi seperti mengetuk dagu yang artinya lihat sini, perhatikan
baik-baik.
        5.. Sesekali gunakan kontak fisik, seperti memegang bahu atau
menepuk punggung anak.
        6.. Beri pujian bila anak tenang.
        7.. Pilih tempat belajar yang tenang, jauh dari televisi atau musik
keras.
        8.. Ingatkan anak agar melakukan kegiatan secara teratur saat waktu
tertentu (bangun, mandi, belajar, makan, tidur, baca buku, main dll).
        9.. Latih anak menyiapkan keperluan sekolah sebelum tidur, sehingga
tidak tergesa-gesa di saat akan berangkat sekolah.
      Sibukan Dia dengan Belajar Menulis

        1.. Gunakan kertas bergaris, ajari anak untuk menulis kalimat
dengan jarak satu baris.
        2.. Atur huruf tidak terlalu berdekatan, ajari anak untuk
menggunakan ujung jari kelingkingnya untuk mengukur jarak antar huruf.
        3.. Gunakan kertas tebal agar tidak mudah robek, bila anak sering
menghapus. Jika mudah robek ia akan cepat frustasi.
        4.. Ajari agar kertas tak bergerak dengan cara menahannya dengan
tangan lain.
        5.. Nyalakan musik lembut dengan volume sayup-sayup, supaya ia
lebih tenang.
        6.. Beri tugas sesuai dengan tingkat perhatiannya.Sedikit demi
sedikit beri tambahan pelajaran. Jangan ajarkan kata-kata mutiara.
      Anak Gemar Berbohong
      Berbohong sering dilakukan anak untuk menutupi sesuatu. Orang tua
perlu waspada bila anak mulai gemar berbohong, terlebih bila dia semakin
sulit membedakan antara kejujuran dan kebohongan. Dia menganggap bahwa
berbohong adalah sebagian kenyataan yang harus diterima orang lain.

      Kenapa Berbohong?

        1.. Menutupi aktivitas yang belum dilakukan. Misal, anak belum
mengerjakan PR sementara orang tua mengharapkan anak sudah selesai
membuatnya. Meski pada akhirnya orang tua tahu juga, sebelumnya anak akan
melindungi diri dari kemarahan Anda dengan berbohong.
        2.. Menonjolkan harapan. Anak yang berharap ibunya bisa membuat kue
enak, meski ibunya tidak begitu ahli, ia akan berbohong pada teman-temannya
kalau ibunya pintar memasak.
        3.. Memutar-balikkan kebenaran dan fakta. Untuk melindungi diri,
anak akan berbohong dan akan menuduh orang lain yang melakukannya.
        4.. Menginginkan sesuatu yang belum tercapai. Sebagai contoh,
keinginan berlibur ke suatu tempat, sementara anak tahu kalau orang tuanya
tidak mampu atau belum memenuhinya. Dia akan berbohong pada orang lain
pernah ke tempat tersebut.
        5.. Berlindung, akibat kesalahannya. Anak akan menghindari
kemarahan orang tua dengan berbohong. Misal, anak yang memecahkan benda
kesayangan ibunya. Dia akan berbohong dan mengatakan tidak tahu karena
takut dimarahi.
        6.. Ingin diperhatikan. Berbagai upaya akan dilakukan anak untuk
menarik perhatian orangtuanya, walau dengan berbohong.
        7.. Konfabulasi yaitu bercerita yang sebagian ceritanya adalah
kebohongan. Tujuannya untuk melebih-lebihkan cerita agar orang lain
berminat mendengarkan.
        8.. Sulit membedakan antara kenyataan dan fantasi. Begitu seringnya
anak berfantasi, maka akan semakin banyak pula keinginan anak pada berbagai
hal. Kondisi ini kerap kali dijadikan bahan cerita sehari-harinya.
        9.. Menginginkan sesuatu. Berbohong dilakukan anak agar ia
memperoleh keinginannya dengan mudah.
        10.. Menutupi kenyataan yang sebenarnya. Misal, anak yang terluka
karena dipukul temannya sementara ia mengaku luka tersebut akibat jatuh.
        11.. Menolak penilaian orang tua. Penolakan ini karena anak tidak
senang dinilai suka berbohong. Semakin sering orang tua mengatakan anaknya
berbohong, anak justru akan semakin sering berbohong.
        12.. Mengangkat harga diri. Dengan cerita-cerita bohong anak merasa
harga dirinya terangkat. Ia akan menikmati karena mendapat sanjungan dan
pujian dari orang lain.
        13.. Diperlihatkan contoh-contoh yang salah. Sesungguhnya anak tahu
bahwa pernyataan atau kejadian itu salah. Karenanya ia akan memberikan
pembenaran dengan berkata bohong.
      Yang Harus Anda Lakukan
      Bila Anda mengetahui anak Anda berbohong segera lakukan tindakan.
Jangan sampai sifat ini menjadi kebiasaan yang terus menerus dilakukan,
yaitu dengan cara:
        a.. Tidak selalu memojokkan dan membuat anak merasa 'kecil'.
        b.. Memberi kepercayaan dengan sepenuh hati
        c.. Berdiskusi sesering mungkin
        d.. Memberi pengertian kalau berbohong adalah tindakan tidak
terpuji
        e.. Menghindari pemberian hukuman yang berlebihan, tidak
proposional, dan terlalu sering
        f.. Memberi contoh yang baik
        g.. Menanamkan kejujuran
        h.. Mengajarkan nilai-nilai moral
        i.. Memancing anak berani bercerita hal-hal yang nyata
        j.. Mengajak anak bercerita tentang keinginan dan fantasinya
        k.. Menyelidiki sebab-sebab anak berbohong
        l.. Bila Anda tidak menanangani lagi, mintalah bantuan pada
ahlinya.
      Mendongeng Untuk Anak
      Mendengarkan dongeng sangat disukai semua anak. Sebagai aktivitas
yang tidak mengeluarkan banyak energi, anak akan menikmati cerita-cerita
yang Anda sampaikan. Tentunya dengan "bumbu-bumbu penyedap" yang bisa
menarik minat anak mendengarkan hingga tuntas.

      Ciptakan rasa penasaran anak pada topik cerita. Rangkai dalam satu
bagian kisah yang membuat anak berpikir dan selalu ingin bertanya. Pilih
kalimat yang komunikatif dan imajinatif. Bila anak sangat berminat dengan
cerita Anda, pertajam lagi isi cerita.

      Banyak manfaat yang bisa diambil bila Anda rajin menceritakan dongeng
pada anak. Anak cenderung lebih imajinatif, komunikatif, kreatif, dan cepat
menangkap situasi disekitarnya. Anak juga akan memiliki kosa kata lebih
banyak, pintar menyusun kata-kata dengan intonasi nada yang teratur dan
lebih menarik.

      Pilih dongeng yang mendidik, memiliki nilai-nilai moral yang baik,
dan ringan sehingga cepat ditangkap anak. Sisipkan dengan kalimat humor
yang interaktif. Agar lebih menarik, ubah gaya bicara Anda sesuai tokoh
yang Anda tampilkan.

      Anda bisa memilih dongeng berlatar belakang cerita rakyat. Cerita ini
masih lazim digunakan orangtua sebagai bahan dongengan. Begitupun dengan
cerita sejarah, pahlawan ataupun asal muasal suatu daerah. Dongeng yang
mengambil tokoh-tokoh fiktif seperti binatang yang bisa berbicara, nenek
sihir, atau benda-benda mati yang 'dihidupkan' juga menarik menjadi bahan
cerita Anda.

      Buatlah dongeng menjadi cerita bersambung yang disampaikan pada anak
secara bertahap. Dengan begitu anak akan selalu mengingat-ingat cerita Anda
yang belum selesai. Anak juga akan terlatih untuk berpikir tentang
kelanjutannya. Fantasi anak akan terus berkembang sesuai dengan
imajinasinya.

      (sumber : satuwanita.com ; Witri/Tabloid Wanita Indonesia)











>> Kirim bunga ke-20 kota di Indonesia? Klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]















Kirim email ke