Selain berguna bagi kesehatan, kacang bisa berbahaya
lho, jadi untuk melengkapi artikel ini silakan baca
artikel berikut 

Mamanya Dafi

Di Balik Gurihnya Kacang
Kesalahan proses bisa membuat makanan berbahan baku
kacang-kacangan mengandung racun pemicu kanker dan
hepatitis. 
DIAM-DIAM ada "bom waktu" yang tersimpan di dalam
kacang atom�makanan dari kacang bersalut tepung.
Mengandung racun yang pengaruhnya tak segera
terlihat, kacang atom dan berbagai produk makanan dari
kacang lainnya menyimpan potensi bahaya yang mungkin
tak banyak disadari orang.
Tentu tak semua kacang beracun. Sebuah tim peneliti
menemukan mikotoksin alias racun pada kadar tinggi
dalam berbagai produk olahan dari
kacang-kacangan--termasuk kacang atom--yang beredar di
pasaran Yogyakarta.
Racun yang dihasilkan jamur itu memang tak membuat
orang keracunan. Namun, dalam jangka panjang,
mikotoksin bisa memicu munculnya kanker. Badan
Kesehatan Dunia, WHO, dan lembaga penelitian kanker di
Prancis telah lama merekomendasikan aflatoksin, salah
jatu jenis mikotoksin, sebagai penyebab kanker hati.
Di Amerika, lembaga pengawas obat dan makanannya
mematok batas mikotoksin dalam makanan 2-5 ppm (part
per million, bagian per sejuta). Lebih dari kadar itu,
makanan dianggap berbahaya untuk disantap. Di
Yogyakarta, ditemukan berbagai produk makanan yang
mengandung mikotoksin dengan kadar puluhan sampai
ratusan ppm. Kenyataan itu ditemui enam orang periset
Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta, dari berbagai
disiplin ilmu (kimia, pertanian, kedokteran,
peternakan, dan teknologi pertanian), yang meneliti
berbagai jenis makanan olahan yang beredar di pasaran
Yogyakarta. Makanan yang diteliti antara lain saus,
selai, mentega, margarin, tempe, dan berbagai produk
kacang-kacangan. 
Sayang, tim peneliti belum bersedia membeberkan
rincian penelitiannya karena mereka ingin
memublikasikannya dalam jurnal ilmiah lebih dahulu.
Begitu pula
daftar produk makanan yang mereka amati selama dua
tahun terakhir. Yang jelas, hasil penelitian yang
dikerjakan bersama Asea-Uninet (Asian-European
Academic
University Network) ini tak mengabarkan hasil yang
melegakan konsumen. "Anda mungkin akan kaget melihat
hasil analisis kami. Pada kacang-kacangan seperti
kacang atom, kandungan mikotoksinnya tinggi sekali,
lebih dari sepuluh kali lipat dari ambang batas yang
diperbolehkan," kata Ali Agus, doktor nutrisi ternak
yang menjadi salah satu anggota tim peneliti, kepada
TEMPO.
Apakah sebenarnya mikotoksin? Ditemukan pada 1960-an,
mikotoksin pertama kali terdeteksi di Inggris, tempat
terjadi kematian 100 ribu ekor kalkun. Setelah
diteliti, kematian itu ternyata disebabkan oleh
mikotoksin yang terdapat dalam pakan ternak bungkil
kacang tanah yang diimpor dari negara tropis.
Mikotoksin adalah toksin yang dihasilkan jamur. Di
daerah tropis, didukung oleh udara yang lembap, jamur
lebih gampang tumbuh. Umumnya jamur-jamur itu adalah
koloni Aspergillus, Penicillium, dan Fusarium. 
Ada berbagai jenis racun yang dihasilkan jamur. Hingga
kini para ahli telah berhasil mengidentikasi 200 jenis
mikotoksin. Salah satu jenis yang berbahaya adalah
aflatoksin--racun yang dihasilkan Aspergillus flavus.
Sedangkan aflatoksin sendiri terdiri atas lima
kategori: aflatoksin B1 (blue), B2, G1(green), G2, dan
M1(milk).
Di antara sederet racun itu, aflatoksin B1 dianggap
paling berbahaya karena kemampuannya merusak jaringan.
Yang paling gampang dan sering terkena adalah hati.
Itu sebabnya aflatoksin B1 sering dikaitkan dengan
kerusakan sel hati yang terjadi pada penderita
hepatitis.
Di banyak negara, peraturan pemerintah setempat sangat
ketat mengawasi mikotoksin. Kontrol mikotoksin ini
tidak hanya dilakukan pada bahan makanan, tapi juga
pakan ternak--sesuatu yang tampaknya belum ketat
dilakukan Indonesia. "Dibandingkan dengan
negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura,
Thailand, dan Malaysia, Indonesia yang paling
ketinggalan. Mungkin karena sifat mikotoksin yang
residual dan long term, banyak orang jadi tidak
peduli," kata Ali.
Longgarnya pengawasan kualitas makanan memungkinkan
produsen  menggunakan bahan baku kacang yang kurang
berkualitas. Kacang yang sudah kisut--menandakan
berjamur--bisa saja dipergunakan produsen untuk
membuat
produk olahan semacam kacang atom atau sambal pecel.
"Lagi pula konsumen tidak tahu, karena kacang itu toh
dibungkus tepung," ujar Ali. 
Begitu pula dengan sambal pecel. Selain menggunakan
kacang yang mungkin sudah kisut, sambal diolah dengan
bumbu dan cabai rawit berkadar air tinggi, yang
merupakan lahan subur untuk pertumbuhan jamur. Kondisi
ini akan makin parah bila teknik pengemasannya tidak
sempurna, sehingga menghasilkan tingkat
kelembapan yang disukai jamur. Karena itu, sambal
bikinan sendiri memang lebih baik ketimbang sambal
jadi. "Lebih segar dan aman," kata Ali.
Selain sambal pecel dan kacang atom, beberapa produk
olahan kacang kedelai yang diteliti juga tidak luput
dari mikotoksin. Yang menarik, tim peneliti UGM tidak
menjumpai racun jamur pada tempe yang berbahan baku
kedelai. Hasil ini  memunculkan suatu kesimpulan bahwa
tempe sangat aman dikonsumsi. 
Mary Astuti, guru besar dan pakar nutrisi dari UGM
yang bertahun-tahun meneliti tempe, menduga aktivitas
peragian berperan penting menghindarkan tempe dari
mikotoksin. Pada tempe, jamur yang dominan adalah
Rhizopus sp. Sedangkan proses peragian yang terjadi
selama pembuatan tempe menimbulkan panas.
"Proses ini yang mungkin membuat mikroba lain tidak
bisa tumbuh dengan baik," kata Mary. 
Bahwa di pasar ditemukan produk mengandung mikotoksin
tinggi, itu tak  dimungkiri Direktur Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan, Sampurno.
Meskipun Departemen Kesehatan sudah mematok kadar
mikotoksin--Sampurno tak mengingat persis
angkanya--standardisasi ini belum berlaku untuk produk
industri rumahan. Tak mengherankan bila pengujian
sampel produk di pasar yang dilakukan Depkes setiap
tahun sering menemukan beberapa produk yang tak
memenuhi syarat.
Sayangnya, selama ini pemerintah tak pernah
memublikasikan temuannya kepada publik. Alasannya,
Depkes mempertimbangkan pula kelangsungan industri,
terutama industri rumahan. Alhasil, ketimbang
menyebarluaskan penemuan yang  mengancam kelangsungan
industri makanan, pemerintah lebih condong untuk
menyebarkan kesadaran masyarakat dalam memilih makanan
sehat. Menurut Sampurno, pengujian yang rutin
dilakukan Depkes memang berbeda dengan sebuah
penelitian di universitas yang bebas nilai.
Bagi Idral Darwis, ahli penyakit kanker dari Rumah
Sakit Dharmais, Jakarta, penelitian Ali dan
kawan-kawan itu jangan sampai menyulut
kanker-fobia--ketakutan berlebihan terhadap kanker.
Sebab, sesungguhnya daya
tahan tubuh dan kebiasaan hidup setiap orang punya
respons yang berbeda terhadap mikotoksin. Dengan
demikian, tidak otomatis makanan bermikotoksin
memicu penyakit kanker. 
Faktor pemicu kanker bukan hanya mikotoksin. Beragam
faktor�seperti pencemaran udara, makanan berlemak,
kebiasaan merokok, dan kurang olahraga--punya andil
pula dalam memunculkan kanker. Tapi peran berbagai
faktor itu pun belum diketahui persis. "Pengetahuan
kita tentang kanker masih sangat minim," kata Idral.
Meski begitu, tentu tak ada salahnya menjalankan hidup
sehat dan memelihara kesadaran untuk memilih makanan
yang berguna.Mardiyah Chamim, Arif Kuswardono
(Jakarta), L.N. Idayanie (Yogyakarta) 
-end----

--- Debby <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Manfaat Kacang Tanah Untuk Penyakit Kanker dan
> Jantung


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Photos - 35mm Quality Prints, Now Get 15 Free!
http://photos.yahoo.com/


### FREE DOMAIN [.COM|.NET|.ORG *] >> http://www.indoglobal.com << ##
>> Kirim bunga ke-20 kota di Indonesia? Klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]















Kirim email ke