----- Original Message -----
From: Rudy Sutadi, MD <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 30 Oktober 2000 10:20
Subject: Autisme, Vaksin, dan Mercury dalam Vaksin


> Hai semuanya,
> Semoga tulisan ini dapat menjawab, meluruskan dan menengahi diskusi
mengenai
> thimmerosal, mercury, dan vaksin/vaksinasi (DPT, Hepatitis B, MMR).
>
> THIMMEROSAL
> Vaksin bukan tercemar thimmerosal/mercury, tetapi thimmerosal memang
sengaja
> digunakan untuk mematikan/melemahkan bakteri/virus dalam pembuatan vaksin,
> serta sebagai bahan pengawet agar supaya tidak tercemar oleh bakteri/jamur
> (terutama pada vaksin yang multidose, yaitu vaksin yang satu vial dapat
> digunakan untuk beberapa kali suntikan).
>
> MERCURY DAN MERCURY DALAM VAKSIN
> Dosis maksimum paparan mercury adalah 0,1 ug/kgbb (EPA), 0,3 ug/kgbb
> (ATSDR), 0,4 ug/kg (FDA). EPA=Environmental Protection Agency,
ATSDR=Agency
> for Toxic Substances and Disease Registry, FDA=Food and Drug
Administration.
> Bila berat bayi baru lahir sekitar 3,0 kg, maka paparan maksimumnya adalah
> 0,3-1,2 ug.
> Sedangkan dalam vaksin per 0,5 cc-nya (per dosis, sekali suntik) terdapat
> ethyl-mercury sebanyak 25 ug (DPT, TT, beberapa HIB), 12,5 ug (Hepatitis
B).
> Sehingga per kali suntik saja anak mendapat ethyl-mercury 40-80 kali dosis
> maksimum !!! Bila imunisasi Hepatitis B dilakukan pada umur 1 hari (I), 1
> bulan (II), dan 6 bulan (III), serta DPT I, II, III pada umur 3, 4, 5
bulan,
> maka pada umur 6 bulan bayi telah mendapat 200-400 kali dosis maksimum !!!
> Kiranya terlalu berani bila kita mengatakan hal ini cukup aman.
>
> Mercury yang terdapat di alam dalam 3 bentuk yaitu metallic element,
> inorganic salts, dan organic compounds (misalnya methyl mercury, ethyl
> mercury, dan phenyl mercury). Toksisitas (daya racunnya) tergantung
> bentuknya, jalur masuknya ke badan, dosis, dan umur saat terpapar.
> Maka pemberian vaksin yang mengandung thimmerosal (ethyl-mercury) adalah
> sangat berbahaya, sebab
> 1. Ethyl-mercury lebih toksik dibanding methyl-mercury yang terdapat dalam
> ikan yang tercemar.
> 2. Diberikan langsung melalui injeksi (seratus persen masuk ke badan,
> dibanding makan ikan yang relatif lebih sedikit yang diserap usus).
> 3. Dosis yang didapat oleh bayi sungguh sangat mencengangkan (lihat
> keterangan di atas).
> 4. Usia bayi di mana otak sedang berkembang pesat (orang dewasa relatif
> tidak berkembang lagi) sehingga lebih dahsyat akibatnya.
> 5. Dan, bayi sampai usia 6 bulan fungsi eksresi/sekresi empedunya (untuk
> membuang mercury yang terdapat dalam tubuhnya) relatif belum baik sehingga
> terjadi penimbunan.
>
> Kalau memang sedemikian bahayanya, mengapa tidak semua bayi kompak
> beramai-ramai jadi autisme? Karena pada autisme terdapat faktor genetik
yang
> menyebabkan bayi tertentu rentan terhadap ethyl-mercury ini. Faktor
> kerentanan genetik ini sering saya contohkan pada DM (diabetes mellitus,
> kencing manis) dan alkoholisme.
> Oleh karena faktor genetik ini, sehingga bila 1 keluarga mempunyai anak
> autistik kejadian anak berikut autistik juga adalah 10-20%. Dan
> saudara-saudara sepupu, keponakan, dan yang mempunyai hubungan darah
lainnya
> kemungkinan juga autistik mencapai 2-3 sampai 9%.
> Oleh sebab itu, pada keluarga-keluarga yang high-risk seperti di atas,
> sangat bijaksana UNTUK PALING TIDAK MENUNDA imunisasi yang mengandung
> thimmerosal paling tidak sampai usia 6 bulan. Atau memberikan
> thimmerosal-free vaccines. Saat ini satu-satunya vaksin hepatitis yang
tidak
> mengandung thimmerosal yang FDA-Approved hanya COMVAX (dari Merck),
> sedangkan Engerix-B (dari SmithKline Beecham) masih dalam proses
permohonan
> (belum FDA-Approved). Tetapi COMVAX juga mengandung vaksin Hib, sehingga
> pemberiannya sebaiknya dittunda, mulai usia 2 bulan.
>
> Pemberian vaksin hepatitis I pada umur 1 sampai beberapa hari adalah
sangat
> tidak beralasan. Pemberian pada umur 1 hari itu bila Ibunya jelas-jelas
> positif HBsAg-nya (artinya mulai sakit atau sedang sakit Hepatitis B).
> Rekomendasi dari AAP (American Academy of Pediatrics), hepatitis-B pada
umur
> 1 hari juga diberikan bila status HBsAg Ibu tidak diketahui (positif atau
> negatifnya), pertanyaannya adalah berapa persen dari Ibu-Ibu DI INDONESIA
> yang status HBsAg-nya tidak diketahui kemudian terbukti positif? Mungkin
DI
> INDONESIA sangat kecil sekali. Entah di Amerika sana, yang seksnya bebas,
> pre-marital intercourse tinggi, ceplak-ceplok cipok-sana cipok-sini,
> buktinya GUDANG AIDS/HIV juga ada di Amerika sana.
>
>
> HUBUNGAN MMR DAN AUTISME
> Fakta menunjukkan bahwa late-onset autism (autisme yang mulai sekitar usia
> 18 bulan ke atas) meningkat tajam setelah tahun 80-an, yaitu tahun di mana
> vaksin/vaksinasi MMR mulai diberikan.
> Hati-hati untuk mengutip kalimat yang mengatakan bahwa TIDAK ADA hubungan
> antara imunisasi MMR dengan autisme. Sebab penelitiannya sendiri bukan
> mengatakan tidak ada hubungannya, tetapi hubungan ini INCONCLUSIVE
> (TIDAK/BELUM dapat disimpulkan).
> Untuk yang mengerti statistik, tentunya faham bahwa sesuatu hipotesis
> penelitian dikatakan berbeda bermakna (significant different) adalah bila
> p<0,05. Artinya secara sederhana yaitu suatu hal terjadi bersamaan
> kemungkinannya kurang dari 5%. Nah, bila dari 10.000 anak, yang tidak
> mendapat MMR dan menjadi autistik adalah 20 orang, sedangkan yang mendapat
> MMR dan menjadi autistik adalah 80 orang, dari perhitungan didapat p=0,55.
> Maka akan disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara anak-anak
> yang mendapat MMR atau tidak mendapat MMR dengan terjadinya autisme.
> Statistik tinggal statistik, tapi jelas sekali bahwa yang mendapat MMR
> kemudian jadi autisme 80 orang dibanding 20 yang tidak mendapat MMR. Di
> samping itu, kemungkinan 5,5% dengan <5% kan perbandingannya sangat
tipis?!
> Satu atau 2 orang saja dalam statistik mungkin tidak ada artinya, tetapi
> adalah SUNGGUH SANGAT BERARTI adanya 1 penyandang autisme saja dalam suatu
> keluarga. Mungkin memang bagi dokter-dokter yang tidak mempunyai anak
> autistik, yang tidak mempunyai empathy, tidak begitu mempermasalahkan beda
> angka 1 atau 2 orang saja dalam statistik. Kalau orang Inggris bilang "If
> you were in my shoes....." Makanya ada seorang Ibu di pengadilan Jakarta
> pernah menyambit seorang hakim dengan sepatunya, mungkin seakan-akan
> mengatakan "If you were in my shoes, Judge. Nih eloe rasain sepatu
gue....."
> Jadi hati-hatilah para pakar/dokter untuk tidak dengan gagah perkasa
> mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara MMR dengan autisme, salah-salah
> banyak sepatu melayang, supaya sang pakar/dokter bisa merasakan sepatunya
> orangtua penyandang autisme. Just joking, itu kan kiasan saja. Tetapi
mohon
> para dokter untuk tidak gegabah dengan mudah sekali mengemukakan hal
> tersebut. Jangan lagi terjadi seperti dulu-dulu, tidak tahu/ngerti
autisme,
> jelas-jelas autistik tapi diberi komentar yang tidak bertanggung jawab
> seperti "ah engga apa-apa"/ "anak laki memang lebih lambat ngomongnya" /
> "dia kan lebih cepet jalan jadi ngomongnya lebih lambat" / "cuma terlambat
> ngomong aja" / dll. Sehingga tidak segera mendapat penanganan yang tepat.
> Tentunya paling tidak minus Dr. Hardiono, karena beliau yang pertama kali
> mencurigai autisme pada anak saya kemudian dirujuk ke Dr. Melly.
>
> Selain itu, bukti dari penelitian juga ada, yaitu bahwa MMR itu toksik
> terhadap otak, penelitian lain menunjukkan hubungan vaksin measles
(campak)
> dengan G-Alpha Protein Defects, dll.
>
> Lalu kenapa pemerintah berbohong? Mungkin itu white-lying, untuk menutupi
> kepentingan yang lebih besar lagi memang sering pemerintah (beserta
ahlinya,
> apakah itu dokter, ahli ekonomi, kepolisian, dll. Ya di Indonesia, ya di
> Amerika) menutup-nutupi kebenaran. Ingat kontroversi antara hubungan KB
> dengan kanker waktu dulu?
> Hal ini juga terjadi, yaitu selama belum tersedianya thimmerosal-free
> vaccines dengan harga terjangkau serta stock cukup. Serta bahayanya
epidemi
> (wabah) bila masyarakat menolak vaksinasi (termasuk MMR), seperti yang
> terjadi pada wabah campak di Amerika (tahun 1989-1991), pertusis di
Jepang,
> Swedia dan Inggris (akhir tahun 70-an), serta difteri di Uni Soviet.
> Namun bila yang menolak atau paling tidak menunda vaksinasi hanyalah yang
> autism high-risk, tentunya tidak apa-apa, karena dikenal kekebalan yang
> disebut herd-immunity.
>
> Last but not least, hati-hati dalam membaca hasil penelitian ilmiah,
karena
> kadang statistik bisa diplintir, bisa diutak-atik supaya sesuai dengan
> pesanan. Silahkan baca buku HOW TO LIE WITH STATISTIC.
>
> Dr. Rudy Sutadi, SpA
>
>
>



>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
>> Kirim bunga ke-20 kota di Indonesia? Klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]















Kirim email ke