> Anakpun Perlu Diajari Berempati > > Tuntun untuk membantu teman, dan tunjukkan betapa hal itu membahagiakan > orang lain > > Pada bulan Ramadhan biasanya ada begitu banyak orang yang sengaja > menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk membahagiakan anak-anak yatim > piatu maupun kaum miskin. Alangkah tepat bila kesempatan seperti itu > digunakan juga untuk mengajari anak-anak kita sendiri, bagaimana > berempati > kepada orang yang kurang beruntung. Caranya, dengan > melibatkan mereka dalam kegiatan amal. > > Empati adalah wujud pemahaman anak terhadap apa yang dirasakan orang > lain. > Anak yang tumbuh dengan memiliki empati yang baik akan mudah bergaul, > pandai mengalah dan suka menolong teman. Tentu saja ia akan banyak > disukai > kawan-kawannya. > > Dalam al-Qur'an ada banyak ayat yang berbicara masalah pentingnya > mengasihi > anak-anak yatim, memberi makan orang miskin, juga perihal keutamaan > bersedekah untuk mereka. Di sekolah dan TPA, anak-anak sudah fasih dan > hafal melantunkan surat al-Ma'uun, salah satu surat yang berbicara > masalah > ini. Namun, sudah cukupkah hanya dengan menghafalnya, > mendengar ceritanya di kelas atau dengan berinfaq uang receh di kaleng > infaq masjid? > > Kalau berhenti sampai di sini, maksimal yang akan dihasilkan hanyalah > kebiasaan berinfaq semata. Namun hakekat infaq itu sendiri, yaitu > tumbuhnya > rasa empati, berupa pemahaman merasakan penderitaan orang lain, sulit > untuk > terwujud. Mengapa? Karena, dunia pemikiran > anak adalah dunia yang nyata dan kongkrit. Bukan sesuatu yang hanya > dilukiskan dengan kata-kata. > > Anak-anak harus dipertemukan dengan kondisi langsung di depan matanya, > kondisi kehidupan yang lebih sengsara dan menyedihkan dibanding dirinya. > Berikut beberapa hal yang dibutuhkan untuk menumbuhkan empati pada diri > anak. > > 1. Memperhatikan perasaan anak lain > > Orang tua harus sering berbicara kepada anak-anak mereka tentang berbagai > macam perasaan yang sedang dihadapi orang lain. Katakan sesering mungkin > dengan bahasa yang benar. Ketika di perempatan jalan melihat seorang anak > jalanan sedang kepanasan, katakan, "Ya Allah, lihat peluh anak itu. > Tentunya ia sedang kelelahan sekali. Wajahnya sampai > memerah terpanggang matahari." > > Sebutlah jenis perasaan yang sedang dialami anak lain. "Rudi jelek sekali > kalau sedang marah. Emosinya tak bisa dikendalikan." Juga semisal, > "Lihat, > adikmu kecewa sekali karena susunya tumpah." Atau demikian, "Ibu sedih > sekali, mendengar kabar seorang kawan ibu > meninggal dunia." > > Dengan cara ini, orang tua mengajak anak untuk terbiasa memperhatikan > perasaan anak lain. Selain itu juga mendidik mereka untuk mengenal > bermacam-macam perasaan yang bisa muncul mengiringi beragam peristiwa > yang > menjadi penyebabnya. > > 2. Memposisikan diri > > Ajaklah anak untuk membayangkan seandainya dirinya yang sedang mengalami > penderitaan seperti yang ia lihat. Rangkailah kalimat yang bisa menggugah > perasan anak sehingga dia bisa membayangkan hal itu dengan mudah. > > "Pipit, lihat betapa anak itu memandang permenmu tanpa berkedip! Kasihan > sekali. Dia tak punya uang untuk bisa beli sendiri. Kemarin kau menangis > minta dibelikan coklat seperti yang dimakan adik." > > "Cbaa bayangkan, jika tinggal di rumah yang hanya seluas kamarmu, dihuni > empat orang, didingnya cuma triplek, kalau hujan bocor dan badanmu > kedinginan, suka kemasukan air juga kalau deras. Itu yang dirasakan Said > di > rumahnya." > > "Kau tahu perasaan putra tamu itu? Dia sangat ingin bermain. Seperti > kalau > kau sedang pergi tanpa membawa bis kesayanganmu, kemudian di rumah teman > kau lihat mereka asyik mainan mobil-mobil yang serba bagus, tetapi mereka > tidak mau mengajakmu! Tentunya kau kecewa sekali." > > 3. Mengorbankan sesuatu > > Melatih anak untuk terbiasa memberikan sesuatu dari barangnya sendiri > kepada orang lain memang perlu dilakukan. Daripada bersedekah menggunakan > uang dari tas ibu, lebih baik beri anak-anak uang saku yang sedikit lebih > banyak, dengan catatan harus disisihkan beberapa persen untuk amal. Jadi > mereka merasa telah beramal dengan uang mereka sendiri. > > Saat anak memperoleh rezeki dalam jumlah banyak dan tak terduga, jangan > lupa untuk mengingatkan mereka agar menyisihkannya sebagiannya untuk > berinfaq. Saat membuka tabungan, ketika memperoleh uang saku lebaran dari > kakek nenek, biasakan untuk mengajak mereka mensyukuri rezeki ini dengan > menyisihkan sedikit untuk teman-teman mereka yang kesusahan. > > 4. Membahagiakan orang lain > > Ketika anak mulai bisa menyisihkan sebagian miliknya untuk orang lain, > lengkapi peristiwa itu dengan hasil akhir yang baik, yaitu menunjukkan > kepada mereka akibat dari perbuatannya itu. Ya, bukankah pengorbanan anak > mengakibatkan orang lain merasa bahagia? Tunjukkanlah hal ini kepada > anak-anak. > > Ibu bisa katakan, "Oh, senangnya pengemis itu. Lima ratus rupiah > pemberianmu bisa ia gunakan untuk makan siang nanti." Beri kesempatan > bagi > anak untuk menikmati kebanggaan dari upayanya berbuat sesuatu yang > ternyata > membahagiakan orang lain. Dengan cara ini, akan tumbuh kepercayaan diri > mereka untuk membiasakan diri membahagiakan orang lain, > dalam bentuk apapun, yang lebih luas. > > Sumber: Suara Hidayatullah > > > > eGroups Sponsor > > > > ========================================================================== > =================== > Untuk berlangganan kirimkan e-mail kosong ke > [EMAIL PROTECTED] > > Untuk berhenti kirimkan e-mail kosong ke > [EMAIL PROTECTED] > (Jangan lupa me-reply e-mail konfirmasi yang dikirimkan sistem) > > Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Iktiar > ========================================================================== > =================== > > > >>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<< >> Kirim bunga ke-20 kota di Indonesia? Klik, http://www.indokado.com >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED] Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
