FYI..
Maaf yang udah pernah baca, just deleted it.

> > -----Original Message-----
> > From:       Budi Kuncoro [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > =====original message=====
> > Salam.
> > 
> > Tulisan di bawah ini cukup panjang, tentang isteri
> > saya yang sembuh dari benjolan tumor payudara karena 
> > "Keladi Tikus" yang pernah heboh di internet.
> > 
> > [Dwi Malistyo]
> > ---------------------------------------------------
> > 
> > E-mail ini saya tulis sebagai rasa syukur dan terima
> > kasih kepada orang-orang yang beberapa waktu lalu
> > menulis/memforward e-mail tentang tanaman ajaib ber-
> > nama Keladi Tikus (Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber).
> > 
> > Saya membaca posting tentang Keladi Tikus ini di
> > milis Kebunku <[EMAIL PROTECTED]>, yang ditulis
> > sdr Setio Hartanto <[EMAIL PROTECTED]>. Dan kedua
> > saya membaca lagi tentang Keladi Tikus ini di milis
> > Kristiani e-Ayahbunda <[EMAIL PROTECTED]> yang
> > diforward sdr  Budi Lewiyanto <[EMAIL PROTECTED]>.
> > 
> > Terima kasih untuk sdr. Setio dan sdr. Budi Lewiyanto.
> > 
> > Kebetulan sekali saat posting Keladi Tikus ini beredar
> > di internet, isteri saya mengeluhkan adanya benjolan
> > di payudara kanan sebelah atas. Dan jika bayi kami me-
> > nyusui atau tersenggol tangan bayi, maka akan mengaki-
> > batkan rasa sakit hebat.
> > 
> > Beberapa tahun sebelumnya, setelah lulus di SMEA, dia 
> > pernah menjalani operasi pengangkatan benjolan ini di
> > RSCM. Tapi dokter saat itu mengatakan bisa terjadi
> > beberapa tahun lagi akan muncul benjolan seperti ini
> > lagi walau sudah diangkat.
> > 
> > Terus terang, isteri saya mengatakan saat ini dia
> > takut untuk dioperasi lagi, walau biayanya sudah dijan-
> > jikan akan dicover oleh asuransi perusahaan saya. Apa-
> > kah ada jalan keluar lain yang tidak harus operasi ?.
> > 
> > Berhubung saya 'maniac' internet dan subscribe ke
> > banyak milis, maka posting mengenai Keladi Tikus di
> > milis Kebunku langsung saya perhatikan, saya print
> > dan saya bawa pulang.
> > 
> > Mertua saya adalah penggemar tanaman. Setelah membaca
> > artikel Keladi Tikus ini, dia menemukan ada salah satu
> > edisi majalah Trubus yang menulis tentang tanaman
> > ini. Langsung dibeli dan dipelajari lagi. Sejak itu
> > kami mencoba kontak ke sana-sini untuk mencari tanaman
> > ini, walau terus terang kami tidak tahu akan diapakan
> > tanaman ini setelah kami dapatkan nanti.
> > 
> > Akhirnya dari salah satu kontak, kami mendapat alamat
> > sebuah showroom tanaman obat di daerah Pondok Cabe,
> > Jakarta Selatan. Langsung saja kami meluncur ke sana
> > di hari Sabtu. Tanpa pikiran apapun, kecuali mendapat
> > kan tanaman Keladi Tikus.
> > 
> > Kami menemukan tempatnya cukup terpencil. Di komplek
> > milik Departemen Kesehatan. Ada satu rumah di ujung
> > komplek, dikitari kebun pohon-pohon singkong dan pisang.
> > Kami agak khawatir, benar nggak sih tempatnya disini ?.
> > Namun di halaman rumah tsb banyak ditanami pohon-pohon
> > obat-obatan. Ada tanaman sambiloto, tanaman kejibeling,
> > dll. Di setiap pohon ada tulisan nama pohon, bahasa latin-
> > nya dan bahkan kegunaannya bagi setiap penyakit.
> > 
> > Beberapa pegawai dengan rajin menyirami tanaman-tanaman
> > khusus obat tsb. Dan bahkan si empunya showroom, Ir Wi-
> > narto, dengan senang hati menjelaskan dengan gratis. Kami
> > katakan bahwa kami akan membeli pohon Keladi Tikus untuk
> > benjolan payudara isteri saya.
> > 
> > Pak Winarto, yang ternyata adalah insinyur pertanian IPB,
> > mengajak masuk untuk melihat 'lab'-nya. Ternyata disana
> > dia menyiapkan banyak jamu-jamu godokan dari tanaman obat
> > nya. Dia memiliki kebun obat di desa Karyasari, Pondok
> > Gede dan di Pondok Cabe. Karena itu nama showroomnya adalah
> > "Karyasari".
> > 
> > Selain jamu-jamu godokan, dia menulis buku-buku pelatihan
> > tanaman obat [ada juga tulisan Prof Hembing, si ahli obat 
> > tanaman], dan yang lebih hebat dia sudah meracik jamu-jamuan 
> > itu ke dalam kapsul agar praktis. 
> > 
> > Oh, jadi pak Winarto ini adalah alirannya Prof Hembing 
> > yang sering ceramah di TV itu. Terus terang tadi kami agak 
> > takut masuk ruangannya karena menyangka dia adalah 
> > "ahli supranatural" untuk pengobatan alternatif. Gawat khan
> > kalau dia "membaca-baca mantra" yang tidak sesuai dengan iman
> > kami. Ternyata pikiran kami salah. Dia adalah ahli tanaman
> > lulusan pertanian IPB yang berspesialisasi di tanaman obat.
> > 
> > Kata pak Winarto, "Prof Hembing di TV sering mengatakan 
> > bahwa carilah obat lewat tanaman di kebun". Wah, lanjut
> > pak Winarto, "kebun mana ? apa di kebun ada tanaman obat
> > seperti Bidara Upas dan Sambiloto ?". Karena itulah pak
> > Winarto tertarik untuk mengembangkan tanaman obat sendiri.
> > Pastilah banyak yang kelak akan mencari tanaman-tanaman ini.
> > 
> > Banyak cerita penderita-penderita kanker, kegemukan, dan
> > beberapa penyakit lain ternyata bisa sembuh dengan obat-obat
> > dari tanaman. Baik diminum dengan cara digodok atau lewat
> > kapsul. Penyembuhan dengan cara "back to basic" ke tanaman 
> > obat ini diminati banyak pasien yang tidak mampu untuk mem-
> > biayai operasi rumah sakit. Bayangkan untuk benjolan di
> > payudara isteri saya, hanya membutuhkan kapsul tanaman yang
> > diminum 2 kapsul 3 kali. Masing-masing kapsul hanya seharga
> > Rp 500. Kira-kira total pengeluaran sebulan adalah Rp 225.000.
> > 
> > Saya berpikir, boleh deh minum kapsul jamu dulu. Kalau
> > nanti tidak sembuh saya akan bertekad membawa ke RS UKI lagi.
> > Toh biaya operasi akan dibiayai asuransi.
> > 
> > Pak Winarto ternyata tidak menyarankan memakai obat tanaman
> > Keladi Tikus. Padahal tanaman ini lah yang ramai di diskusikan
> > di internet. Ada tanaman warisan nenek moyang yang juga terca-
> > tat manjur yaitu [kalau tidak salah] Jombang, Rumput Mutiara
> > dan Sambiloto. Dia memberi literatur masing-masing tanaman
> > untuk dibaca-baca tentang bagaimana pembibitan serta khasiatnya.
> > 
> > Mertua saya yang kebetulan ikut, membeli Keladi Tikus, daun
> > Dewa dan beberapa tanaman lagi yang saya tidak tahu namanya.
> > Dia senang menanam, jadi biarlah beberapa tanaman itu dibawa
> > pulang. Harga satu Keladi Tikus di dalam polybag adalah Rp
> > 8000. Adik Ipar saya, wanita, agak gemuk. Dia membeli tanaman
> > obat-dalam kapsul juga-untuk mengurangi kegemukan.
> > 
> > Setelah pulang, --dan dua minggu kemudian--, isteri saya
> > mengatakan bahwa rasa sakit di payudara sudah hilang. Dan
> > benjolan besar sudah mengecil. Saat ini sudah satu bulan
> > sejak minum kapsul jamu tsb. Benjolannya sudah tidak teraba
> > sama sekali dan tidak ada rasa sakit. Saya heran luar biasa,
> > tapi saya setuju agar isteri saya memeriksakan di Rumah Sakit
> > untuk difoto lagi. Saya tidak tahu istilahnya, mamografi atau 
> > apa gitu.
> > 
> > Adik ipar saya yang minum kapsul kegemukan mengatakan bahwa
> > efek kapsul jamu itu membuat dia seharian tidak merasa lapar.
> > Kalau dulu dia makan/ngemil terus, saat ini dia malahan harus
> > memaksa makan agar ada makanan masuk. Sementara mertua saya
> > yang makan daun Dewa segar yang saat ini ditanam dirumah, ber-
> > tambah nafsu makannya. Wah...saya ada rencana nih. Kalau bulan
> > depan adik ipar saya bisa turun berat badan, saya mau ikutan
> > juga minum kapsul kegemukan.
> > 
> > 
> > Ternyata bermula dari posting Keladi Tikus di internet
> > saya belajar bahwa warisan catatan pengobatan nenek moyang
> > kita ternyata juga manjur. Saya tidak mengatakan bahwa tumor
> > isteri saya sembuh lho, saya masih akan membawa dia ke dokter
> > di RS UKI lagi. Namun keluhan sakitnya memang hilang dan
> > benjolannya hampir tidak berbekas. Sekarang saya baru percaya
> > cerita pak Winarto bahwa ada seorang wanita yang parah tumor
> > payudaranya. Sudah ada lubang-lubang dan berdarah. Mungkin
> > karena putus asa, dia mencoba tanaman obat ini. Dan saat ini
> > kondisinya jauh lebih baik. Paling tidak, jamu nenek moyang
> > kita ini bisa memberi harapan baru.
> > 
> > Saya menulis kisah ini tanpa maksud apa-apa. Dulu posting
> > mengenai Keladi Tikus saja bisa menolong saya dan isteri
> > menemukan jamu obat ini. Barangkali kisah ini memberi harapan
> > bagi penderita tumor payudara atau tumor lainnya yang tidak
> > mampu secara ekonomis. Siapa tahu tanaman obat menjadi jalan
> > keluar kesembuhan bagi banyak orang.
> > 
> > Bagi saya sendiri, obat tanaman atau apapun namanya hanyalah
> > sekedar perantara. Tuhan yang empunya kesembuhan lah yang sudah
> > berkenan mengurapi 'alat' ini agar si sakit boleh sembuh
> > dan merasakan berkatNya.
> > 
> > 
> 


>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
>> Kirim bunga ke-20 kota di Indonesia? Klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]















Kirim email ke