for info
---------------------- Forwarded by Lita Agustin/CON/PTTU on 11/08/2000
02:22 PM ---------------------------
(Embedded (Embedded image moved to file:
image moved to pic16788.pcx)
file: Arif Prawira
pic11330.pcx) (Embedded image moved to file:
pic10318.pcx)
11/08/2000 12:44:00 PM
(Embedded image moved to file:
pic09725.pcx)
To: Bondan Setyarini/FOR/PTTU@PTTU, Lita Agustin/CON/PTTU@PTTU, Wenna
Prasetyo/FOR/PTTU@PTTU, Dwi R Pangestuti/CON/PTTU@PTTU, Nia
Kaniawati/FOR/PTTU@PTTU, Rizkinar Roza/CON/PTTU@PTTU
cc:
Subject: [Pelita] Hati-hati Menggunakan Obat Salesma
Hati-hati Menggunakan Obat Salesma
Setiap orang, baik tua maupun muda dipastikan pernah menderita salesma
(common cold) atau
lebih dikenal dengan flu atau pilek. Penyakit ini menyerang tidak mengenal
batas waktu dan bisa
menyerang siapa saja, kapan saja. Meskipun bukan golongan penyakit yang
berbahaya dan
biasanya dapat sembuh dengan sendirinya selama 1 minggu, tetapi
gejala-gejalanya sangat
membosankan dan bisa mengalami komplikasi lanjutan bila penanganannya tidak
tepat.
Salesma didefinisikan sebagai gabungan berbagai gejala yang mengganggu
saluran napas bagian
atas, terutama pada selaput lendir hidung, yang disebabkan oleh beberapa
macam virus, namun
yang paling dominan adalah rhinovirus. Daya tahan tubuh yang lemah sehabis
sakit atau keadaan
gizi yang jelek serta terjadinya pergantian musim, akan memacu timbulnya
salesma ini.
Di negara-negara yang telah maju, salesma merupakan penyakit tunggal yang
termahal. Karena
penyakit ini menimbulkan hilangnya banyak waktu kerja dan sekolah
dibandingkan penyakit
lainnya. Di negara tersebut para penderita salesma disarankan untuk tidak
masuk sekolah atau
kerja, karena salesma bisa menular langsung tanpa melalui media penularan,
seperti makanan, air
atau binatang. Pencegahan penularan dilakukan dengan mengisolasi penderita,
namun biasanya
pada saat salesma bisa terdeteksi, virus penyebabnya telah berpindah ke
orang lain.
Gejala salesma akan diawali dengan keluarnya cairan encer dari hidung.
Kemudian cairan
berubah menjadi pekat, yang mengandung sel epitel yang mati dan sel-sel
darah putih, akibatnya
hidung terasa tersumbat. Kombinasi kedua gejala ini akan diikuti dengan
iritasi pada selaput lendir
hidung sehingga meningkatkan frekuensi bersin. Gejala lain yang timbul
adalah tenggorokan terasa
kering dan sakit, yang kemudian disusul dengan batuk. Biasanya suara
penderita berubah menjadi
serak akibat pelebaran infeksi atau iritasi sekunder dari nasofaring. Badan
penderita salesma
akan menjadi hangat, namun jarang terjadi demam. Keluhan sakit kepala juga
sering timbul akibat
peradangan saluran napas.
Karena salesma merupakan penyakit simptomatis yang bisa sembuh dengan
sendirinya, maka
pengobatannya ditujukan untuk meringankan gejala-gejala yang timbul.
Gejalanya yang terlihat
biasanya bervariasi dan merupakan perluasan dari gejala yang timbul
sebelumnya. Oleh
karenanya tidak semua gejala harus diobati. Keseringan dan intensitas
gejala yang dirasakan
paling berat merupakan dasar dari penyembuhannya.
Gejala yang dirasakan paling berat adalah hidung tersumbat dan keluarnya
cairan dari hidung.
Bila kedua gejala ini dapat diatasi sebelum iritasi menyebar, maka
timbulnya gejala berikutnya,
seperti sakit kepala, batuk, demam, dan sebagainya, akan dihambat pula.
Obat pilihan yang sering digunakan dalam menangani kedua gejala di atas
adalah golongan
simpatomimetika sebagai dekongestan. Obat ini akan menyebabkan konstriksi
pada pembuluh
darah yang mengalami dilatasi dan akan mengurangi sumbatan di hidung.
Dekongestan yang telah direkomendasikan oleh Food and Drug Administration
adalah
fenilpropanolamin, karena lebih aktif sebagai vasokonstriktor dan efek
stimulasinya terhadap
susunan syaraf pusat, lemah. Simpatomimetika ini tidak menyebabkan tekanan
darah naik, tetapi
tidak boleh digunakan pada penderita hipertensi karena dapat menstimulasi
jantung. Penderita
diabetes melitus yang tergantung insulin juga tidak boleh menggunakan obat
ini, karena akan
menaikkan kadar gula dalam darah.
Tidak Rasional
Saat ini telah beredar di pasaran sekitar 100 merek obat salesma yang dapat
dibeli secara bebas.
Banyaknya merek ini akan membingungkan konsumen dalam memilih obat yang
tepat.
Ketidaktepatan dalam pemilihan obat akan berakibat pada peningkatan efek
samping serta
pemborosan biaya pengobatan. Apalagi produk obat salesma yang beredar
tersebut banyak yang
tidak rasional. Sehingga konsumen pun akan semakin dirugikan.
Untuk dapat menilai suatu produk obat apakah rasional atau tidak, kita bisa
menggunakan
kriteria yang keluarkan oleh FDA. Yakni (1) aman, baik masing-masing
komponen maupun
komposisi obat tersebut secara keseluruhan, (2) manjur, masing-masing
komponen harus teruji
secara klinis dan atau farmakodinamis, (3) tepat dosis, setidaknya dosis
yang tertera pada label
merupakan kadar efektif menimalnya dan dosis untuk anak menyesuaikan, (4)
kelompok
farmakologis, masing-masing hanya boleh diwakili oleh satu jenis komponen,
(5) batas
komponen penyusun, paling banyak tiga komponen, (6) kombinasi rasional,
tujuan terapi
masing-masing komponen tidak berlawanan, (7) sifat terapi, hanya
meringankan gejala, dan (8)
masa kerja, lebih kurang sama untuk masing-masing komponen.
Jika kita amati maka sediaan obat salesma yang beredar saat ini banyak yang
tidak memenuhi
persyaratan di atas. Banyak produk salesma yang mempunyai komponen penyusun
lebih dari
tiga. Hal ini selain menyebabkan pemborosan, efek samping yang harus
diderita konsumen juga
bertambah. Selain itu dosis yang tertera pada label masih banyak yang
berada di bawah dosis
terapi, sehingga obat tersebut tidak akan memberikan efek.
Produk obat salesma, selain mengandung dekongestan sebagai komponen utama,
juga banyak
yang berisi antihistamin. Penggunaan antihistamin ini akan menghambat
secara kompetitif
pelepasan histamin yang dihasilkan dari lisisnya sel semang. Selain itu
antihistamin akan
memperpanjang masa kerja dekongestan. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa
apabila yang
terjadi adalah salesma dan bukan rhinitis alergi, penggunaan antihistamin
sebenarnya tidak
diperlukan. Karena histamin yang dikeluarkan pada infeksi virus tidak
sebanyak histamin yang
dihasilkan dari reaksi antigen antibodi pada rhinitis alergi. Untuk
penderita rhinitis alergi, gejala
yang sangat menonjol adalah hidung terasa gatal. Penggunaan antihistamin
ini akan memberikan
efek samping berupa perasaan mengantuk, mulut terasa kering, dan
penglihatan menjadi kabur.
Komponen lain yang sering ada dalam produk salesma adalah obat golongan
analgetik dan
antipiretik. Tujuan yang diinginkan yakni untuk menghilangkan sakit kepala,
deman, dan nyeri otot
yang biasanya menyertai hidung tersumbat. Obat yang paling sering digunakan
adalah
parasetamol, asetosal atau salisilamida. Penggunaan obat analgetik dan
antipiretik pada produk
salesma sebetulnya kurang diperlukan. Karena gejala sakit kepala, demam
atau nyeri otot
sebenarnya hanya diakibatkan oleh hidung tersumbat. Bila hal ini telah
diatasi dengan
dekongestan, maka gejala yang lain akan hilang dengan sendirinya.
Pemberian kafien dalam komposisi obat salesma dimaksudkan untuk menyegarkan
tubuh, karena
kafein mempunyai efek sebagai stimulansia. Namun bila kita perhatikan
produk obat salesma
yang beredar saat ini, kadar kafeinnya tidak mencukupi untuk maksud
tersebut. Agar dapat
menyegarkan tubuh, kafein seharusnya diberikan dalam dosis 100 sampai 200
mg. Kemungkinan
lain, pemberian kafein ini dimaksudkan untuk membantu kelarutan
parasetamol. Menurut
beberapa data penelitian, keefektifan dan daya analgetik parasetamol akan
ditingkatkan oleh
kafein dengan perbandingan yang tepat. Selain itu, ketoksikan parasetamol
dapat dihambat oleh
kafein.
Banyak peneliti yang menganjurkan peenggunaan vitamin C dalam rangka
penyembuhan salesma.
Pemenang hadiah nobel, Luis Pauling, menyarankan dosis 1-5 gram per hari
untuk pencegahan
dan 15 gram per hari untuk penyembuhan salesma. Diperkirakan, vitamin C
dosis tinggi akan
merangsang aktivitas sel-sel kekebalan tubuh, sehingga pembasmian virus
akan berlangsung lebih
cepat. Akan tetapi dosis vitamin C pada produk obat salesma tidak ada satu
pun yang memenuhi
persyaratan tersebut, sehingga penggunaan vitamin C dalam kombinasi obat
salesma tidak ada
manfaatnya.
Sebenarnya penyembuhan salesma ini dapat dilakukan tanpa memakai obat.
Menghirup uap air
panas merupakan cara sederhana tetapi efektif untuk meringankan hidung
tersumbat. Udara
panas yang dilembabkan juga bisa mengurangi rasa serak pada tenggorokan.
Untuk mencegah dehidrasi yang berlebihan, bisa dilakukan dengan banyak
minum air. Terapi
tanpa obat ini bisa dilakukan siapa saja dan sangat menguntungkan karena
bebas dari efek
samping.
Drs Barno Sudarwanto, MM, Apt, alumnus Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta.
updated: Rabu, Nopember 01, 2000 12:08:07
---------------------------------------------------------------------------
----------------------------
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
>> Kirim bunga ke-20 kota di Indonesia? Klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]