buat ibu-ibu.....hati-hati kalo mau beli daging sapi........





Daging Sapi di Jakarta Tak Bebas Penyakit Sapi Gila

 Reporter/Penulis: Made

JAKARTA, Mandiri - Kepala Dinas Peternakan DKI Edy Setiarto mengakui
pihaknya tidak bisa menjamin bahwa daging sapi yang beredar di Jakarta
bebas penyakit sapi gila atau "mad cow", karena dari 113 ton daging yang
beredar di Jakarta per hari, 30 persennya diimpor, termasuk dari Irlandia,
yang terjangkit penyakit itu.

"Tetapi komposisi impor daging sapi dari Irlandia memang kecil di bawah
lima persen, 17 persen dari Australia dan New Zealand, dan tujuh persen
dari negara lainnya, masuk ke Jakarta sudah dalam bentuk potongan daging
beku," kata Edy seusai mengunjungi dua pasar tradisional Pasar Kramat Jati
dan Pasar Minggu Jakarta, Selasa.

Sedangkan 40 persen lagi dari stok daging di Jakarta merupakan hasil
pemotongan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Cakung milik Pemda DKI yang berasal
dari sapi lokal (Jabar, Jateng dan Jatim) dan 30 persen lagi sapi lokal
yang dipotong di Botabek dan masuk ke Jakarta sudah dalam bentuk potongan
daging.

Kebanyakan sapi impor dijual di pasar swalayan, karena itu jika ingin lebih
aman mengkonsumsi daging sapi, warga bisa membelinya di pasar tradisional
yang menjual daging sapi lokal.

Ia mengatakan, dibanding harga daging sapi impor lainnya, daging sapi
Irlandia memang lebih murah sekitar Rp3.000 per kg, namun pemerintah tidak
melarang masuknya daging Irlandia tersebut karena alasan kemungkinan warga
tertular penyakit sapi gila sangat kecil.

"Orang Indonesia itu hanya mengkonsumsi daging 15 kg per tahun per kapita,
sementara orang Eropa bisa 40 sampai 100 kg per tahun per kapita, itupun
lebih banyak terdistribusi di kelas atas, sudah begitu `prion` penyebab
penyakit sapi gila itu lebih banyak mengumpul pada otak dan jeroan sapi,"
katanya.

Masa inkubasi penyakit sapi gila atau Bovine Spongiform Encephalopathy
(BSE) pada manusia dari sejak makan daging sapi gila hingga didapati
gejalanya memerlukan waktu 6-20 tahun. "Pemerintah belum melakukan kajian
sepanjang itu," katanya.

Penyakit sapi gila disebabkan oleh prion atau sejenis protein yang
tertimbun pada jaringan tubuh sapi terutama di otak, susunan syaraf, usus,
dan ekor sapi, yang menular kepada sapi akibat makanan dari tepung daging
dan tulang hewan yang diberikan kepada sapi di Inggris dan Irlandia.

Masa inkubasi BSE pada sapi 2,5-8 tahun, namun kematian tidak lebih dari 14
hari sejak mulai terlihat gejalanya, tetapi kebanyakan sapi yang tertular
sapi gila dipotong sebelum kematiannya yang jika manusia mengkonsumsinya
manusia tersebut akan tertular dan menjadi lumpuh, tidak sadarkan diri
hingga menuju kematian dengan masa inkubasi 6-20 tahun.

Pola konsumsi daging di Indonesia semakin tahun menunjukkan semakin
memungkinkan risiko penularan sapi gila, jika pada 1984 daging impor
didominasi daging murni dari total daging impor, sejak 1997 mulai berubah
didominasi bagian daging lainnya seperti lidah, hati, dan tetelan.
[IMD/ANT]


Sumber: http://www.mandiri.com

= Myrna Mihardja =

Please visit to : http://medic.webs88.com









>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
>> Cake, parcel lebaran & bunga2 Natal? Klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
















Kirim email ke