karena berita tentang hubunngan antara vaksinasi mmr dengan autisme berasal
dari penelitian yang dipublikasikan (terutama lewat internet),
kenapa pernyataan idai ini tidak menyinggung penelitian tersebut ?
saya menganggap pernyataan ini seperti orang jualan sesuatu,
dan sudah lama berlangsung,
begitu ada yang complain, karena merasa kena efek samping,
sang penjual merujuk pada data lama dia,
bahwa sekian lama sebelumnya tidak terjadi apa-apa...
kelihatannya efek samping apapun yang ditemukan oleh peneliti luar negeri,
tidak akan membuat peredaran obat-obatan tersebut dilarang di indonesia..
(kecuali label halal-haram barangkali ?)
saya hanya ngudarasa,
bisnis farmasi dan obat-obatan memang bisnis yang sangat basah....
:-p
bagaimana, rekan-rekan ?
salam,
yoyo's
From: Felicia Lukito <[EMAIL PROTECTED]>
Yth
Para orang tua netters idai-ot
Dokter Anak anggota IDAI
Anggota milis lainnya
Bersama ini saya sampaikan untuk diketahui hasil kesepakatan antara Ikatan
Dokter Anak Indonesia dengan Depkes & Kessos & Badan Pengawas Obat dan
Makanan mengenai issue Vaksinasi MMR dan Autisme
Mudah-mudahan penjelasan resmi ini bisa mengakhiri polemik issue tersebut,
sehingga menghilangkan keragu-raguan.
dr. Jose RL Batubara SpA (K)
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia
PENJELASAN BERSAMA
DEPARTEMEN KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN
SOSIAL,
BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN,
DAN
IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA
TENTANG
TIDAK ADANYA HUBUNGAN
ANTARA TERJADINYA AUTISME DENGAN IMUNISASI MMR
1. Akhir-akhir ini pada sebagian masyarakat tersebar informasi tentang
dugaan adanya hubungan antara autisme dengan imunisasi MMR (Measles, Mumps,
Rubella).
2. Imunisasi adalah pemberian vaksin pada tubuh seseorang dengan tujuan
untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit infeksi tertentu. Pemerintah
telah melaksanakan Program Imunisasi sejak lebih dari 30 tahun yang lalu dan
telah berhasil menurunkan angka kesakitan dan angka kematian dari berbagai
penyakit menular.
Program Imunisasi di Indonesia mencakup antara lain pemberian vaksin untuk
meningkatkan kekebalan bayi terhadap penyakit tuberkulosa (vaksin BCG),
difteria, batuk rejan, dan tetanus (vaksin DPT), poliomyelitis (vaksin
Polio), campak (vaksin Campak), dan hepatitis B (vaksin Hepatitis B).
Program Imunisasi juga mencakup pemberian vaksin untuk meningkatkan
kekebalan ibu dan bayi terhadap penyakit tetanus (vaksin TT) dan peningkatan
kekebalan anak sekolah dasar terhadap penyakit difteri dan tetanus (vaksin
DT).
3. Autisme adalah gangguan pertumbuhan anak yang kronik dengan gejala utama
gangguan interaksi sosial, komunikasi, serta keterbatasan perhatian dan
aktifitas, biasanya terjadi pada usia di bawah 3 tahun.
4. Vaksin MMR merupakan vaksin yang diberikan kepada anak dengan maksud
untuk mencegah penyakit campak, gondongan dan campak Jerman (German
measles). Di Indonesia, vaksin MMR telah digunakan untuk imunisasi anak di
berbagai rumah sakit dan klinik, walaupun belum termasuk dalam jenis vaksin
yang digunakan dalam Program Imunisasi Nasional. Vaksin MMR yang dipasarkan
di Indonesia telah mendapat izin edar setelah dilakukan evaluasi terhadap
efektifitas, keamanan, dan mutu vaksin oleh Komite Nasional Penilai Obat
Jadi (KOMNAS POJ). Di negara-negara maju, vaksin MMR digunakan secara luas
untuk imunisasi anak.
5. Keamanan vaksin MMR telah dibuktikan dengan berbagai penelitian di luar
negeri. Penelitian yang dilakukan mencakup pengamatan pasca pemasaran (post
marketing surveillance) selama 30 tahun terhadap 250 juta dosis vaksin MMR
di lebih dari 40 negara di Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Asia.
Laporan terakhir mengenai keamanan vaksin telah pula dilakukan di Finlandia
sejak tahun 1982 selama 14 tahun. Studi tersebut dilakukan pada 1,8 juta
anak yang menggunakan 3 juta dosis vaksin MMR. Pemantauan dilakukan terhadap
semua kejadian serius setelah imunisasi dan hasilnya menunjukkan tidak ada
laporan kasus autisme yang berhubungan dengan penggunaan vaksin MMR. Hasil
tersebut sesuai dengan Specific hypothesis driven studies yang pernah
dilakukan sebelumnya.
Berdasarkan kajian tersebut di atas, Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan
Sosial, Badan Pengawas Obat dan Makanan, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia
mengambil kesimpulan bahwa tidak ada kaitan antara kejadian autisme pada
anak dengan imunisasi MMR.
Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial, Badan Pengawas Obat Dan
Makanan, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia akan terus memantau dan mengkaji
efektifitas serta keamanan semua vaksin yang digunakan di Indonesia,
termasuk vaksin MMR.
Masyarakat dan segenap tenaga kesehatan di Indonesia diharapkan tidak perlu
khawatir mengenai keamanan vaksin MMR.
DEPARTEMEN KESEHATAN & KESEJAHTERAAN SOSIAL
DIREKTUR JENDERAL PPM & PL KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT & MAKANAN
Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH, Ph.D Drs. Sampurno, MBA
PENGURUS PUSAT
IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA
KETUA UMUM
Dr. Jose R.L. Batubara, Sp.A(K)
DAFTAR PUSTAKA
1. BMJ 2001 : 322 : 183-184 (27 January)
2. BMJ 2001 : 322 : 130 (20 January)
3. DR. Averhoff, WHO, Safety of MMR vaccine (7 February 2001)
4. Joint Statement of, the American Academy of FamilyPhyciana (AAFP), the
American Academy of Pediatries (AAP), the Advisory Committee on
Immunization Pratices (ACIP), and the United Status Public Health. Servies
(PHS) June 22, 2000
>> kirim cake & bunga ke 20 kota di Indonesia? klik, http://www.indokado.com
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]