Semoga para pengelola RS belum baik tergugah menjadi lebih baik.

        -----Original Message-----
        From:   Jamallullail [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
<mailto:[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]> 
        Sent:   Monday, February 19, 2001 5:10 PM

        Resonansi
        Oleh Ade Armando
        Menjenguk Bumi Satu Bulan

        Ari Gladisobri Fadhilah Ramadhan, bermainlah dengan riang dan ceria
di atas sana.
        Sebulan yang lalu, Ari wafat pada usia 33 hari. Seperti diberitakan
harian ini (5/2), Ari harus cepat-cepat pergi karena satu hal: ia datang
dari keluarga miskin, dan orang miskin rupanya tak berhak untuk memperoleh
pelayanan kesehatan di negeri ini. Setidaknya di Jombang.
        Di Rumah Sakit Swadana di kota kecil Jawa Timur itu, Ari lahir
Desember lalu. Ia dilahirkan harus melalui operasi caesar. Mohammad Ro'uf,
sang ayah tak punya pekerjaan tetap. Sang ibu, Hariyanti, adalah guru TK.
Mereka tak sanggup untuk melunasi biaya persalinan bayinya sebesar Rp 1,6
juta.
        Semula RS tak melepaskan Ari pulang. Baru setelah orangtuanya
dicerca dan berjanji akan melunasi biaya tersebut dalam waktu tiga bulan, ia
bisa bertandang ke rumahnya. Ari hanya sempat berdiam di rumahnya selama
empat hari. Ia sakit sehingga harus kembali ke rumah sakit.
        Bila apa yang diberitakan media adalah benar, yang berlangsung
kemudian adalah skandal. Di Swadana, Ari ditempatkan di sebuah ruangan di
mana ia tak bisa dijenguk, apalagi ditunggui ayah ibunya. Ketika setelah
satu pekan, sang bunda akhirnya bisa memaksa untuk melihat anaknya, Ari
berada dalam keadaan menyedihkan. Wajahnya pucat, dari kedua telinganya
keluar darah kental yang menyumbat lubang telinga bagian atas, dan tubuhnya
dikerubungi semut. Saat itu, ia bahkan belum diperiksa.
        Sang ibu memang sempat membawa kembali Ari yang agaknya memang tak
pernah berusaha disembuhkan di RS itu. Pada 7 Januari 2001, Ari pulang ke
pangkuan Allah.
        Mungkin lebih baik begitu. Ari tidak pantas lebih lama menderita
dalam sebuah dunia, atau negara, yang diisi oleh banyak orang yang sudah
kehilangan hati nurani.
        Tentu saja, masih diperiukan pemeriksaan tentang apa yang sebenarnya
terjadi. Yang diberitakan media, umumnya adalah versi sang orangtua.  Pihak
RS misalnya dikutip menyatakan, Ari meninggal karena penyakit yang terlalu
sulit untuk disembuhkan. Soal semut yang mengerubungi Ari, RS juga membantah
bahwa itu terjadi. Yang ada, kata seorang suster, adalah ada beberapa semut
yang tertarik akan cairan manis di selang infus Ari.  Bukan mengerubungi.
.
        Tapi jawaban itu tentu tak menjelaskan banyak hal: mengapa selama
satu minggu Ari dibiarkan tergeletak tanpa diperiksa, mengapa orangtuanya
tak boleh menemani, mengapa cairan infus bisa tercecer-cecer?
        Maka yang nampaknya terjadi memang adalah sebuah kisah klasik
tentang bagaimana orang miskin diperlakukan di negara ini. Orangtua Ari
diabaikan, dicerca karena mereka tidak punya uang. Tiga anak mereka
sebelumnya juga meninggal dalam usia bilangan hari. Itu saja sudah
menunjukkan corak pelayanan kesehatan seperti apa yang mereka peroleh.
        Ya, tentu barangkali mereka bodoh. Tapi tidakkah karena kita sadar
akan keterbatasan pengetahuan mereka, kaum miskin harus diperlakukan lebih
khusus? Itu yang tidak juga kunjung diberikan. Datanglah ke kelas-kelas RS
dimana kaum miskin dirawat. Mereka bukan saja harus tidur di ruangan dan
tempat tidur yang terkesan kumuh, namun juga kerap harus berhadapan dengan
perawat ataupun dokter yang berbicara ketus, bermuka masam, dan mengobati
dengan setengah hati. Puskesmas-puskesmas sering hanya ditunggui para
perawat yang melayani orang sakit dengan cara tidak semestinya. Di manakah
para dokter? Mereka sibuk mencari uang di tempat lain.
        Tidak ada jawaban yang mudah. Namun yang jelas diperlukan adalah
kesadaran bahwa nasib kaum miskin adalah bagian dari tanggung jawab kita
semua. Kaum papa tak akan memperoleh perlakuan sebagai manusia bermartabat,
selama tak ada kesadaran untuk tidak membiarkan mereka terpuruk dalam
kesengsaraan. Kaum berpunya sering tak sadar betapa nasib kaum miskin sangat
bergantung pada perilaku mereka.
        Bila kaum berpunya memutuskan untuk menghabiskan penghasilan untuk
banyak keperluan yang sekadar merupakan peningkatan kenikmatan hidup, hanya
sedikit sisa kekayaan yang dapat dibagi dengan kaum tak berpunya.
        Ari diperlakukan semena-mena karena orangtuanya tak bisa menyediakan
uang Rp 1,6 juta. Di Jakarta, harga tiket pertunjukan musik The Corrs adalah
Rp 500 ribu untuk tontonan selama sekitar satu sampai satu setengah jam.
Hanya dalam satu malam, ratusan juta rupiah akan dibawa kelompok asal
Irlandia itu keluar Indonesia.
        Di negara ini, nampaknya semakin sedikit orang yang peduli pada kaum
tak punya. Karena itu, Ari, barangkali memang lebih baik begini. Tenteramlah
bermain di surga. Salam buat teman-temanmu di sana.
        Sumber: Harian REPUBLIKA, Sabtu, 17 Februari 2001, hal. 16


        

>> kirim cake & bunga ke 20 kota di Indonesia? klik, http://www.indokado.com  
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]


















Kirim email ke