Rekan balita anda, Sengaja saya forwardkan email dari Ibu Ine ini, mungkin ini bisa menjadi alternatif atau solusi jika anak susah makan. Semoga bermanfaat. -----Original Message----- From: Ine <[EMAIL PROTECTED]> >>Masalah anak sulit makan, katanya, sampai kini merupakan keluhan yang >banyak >>dialami ibu (orang tua). >-------cut-------- > >Saya ingin berbagi pengalaman tentang anak sulit makan. >Ketika anak pertama mulai mengenal makanan padat, pertama kali makan bubur >susu (instant), nggak masalah. saya cicipi, apa sih rasanya? wah... bagi >lidah saya, enak juga. > >Masalah timbul ketika si bayi harus mulai makan bubur tim saring, setelah >suapan pertama, dia mencoba menutup mulutnya rapat rapat. Karena waktu itu >saya menuruti saran para orang tua yang sudah berpengalaman, membuat tim >saring, adalah beras, di tambah kaki ayam, hati ayam, wortel dan bayam. >Kalau sudah matang, di saring. Rasanya........? pantas saja, si bayi nggak >doyan. > >Lalu, saya coba masaknya di pisah, antara beras dan lauknya, masih dari >bahan yang sama. Waktu menyajikan, di pisahkan, bubur, hati,sayuran >dihancurkan secara terpisah. memang menyajikannya repot, harus pakai 4 >tempat (bubur, hati, sayuran, dan kuah, agar makanan tidak mekar) dan si >bayi rupanya bisa merasakan juga. Kalau yang di suapkan bubur dan hati, dia >lama menelan bahkan kadang di keluarkan lagi. Kalau bubur dan sayuran, >mulutnya seolah olah mengunyah makanan lezat. padahal saya nggak tahu deh, >bayi umur 6 atau 8 bulan itu indra pengecapnya sdh berfungsi atau belum. > >Nah, akhirnya saya menyimpulkan sendiri, kalau di lidah saya enak, di lidah >dia juga dong! >Maka saya berani menyajikan makanan yang sangat bervariasi. Bahkan, karena >merasa sangat repot menyediakan menu khusus buat dia, maka lauknya saya >ambil dari lauk kami, asal nggak ada cabainya, dan masakan sendiri lho, >tanpa msg. Maka bayi umur 8 bulan sudah mengenal kakap asem manis, sapo >tahu, swike, sayur bening, semur daging, sop buntut dll. Intinya, bubur, >lauk dan kuah selalu di pisah. > >Ketika mulai makan tanpa di saring pun, bubur tetap di pisah, lauknya tetap >di hancurkan, dengan cara di cincang. bahkan, ketika sudah mulai makan nasi, >dia sudah doyan makan sayur lodeh, sayur daun singkong sayur kangkung dll. >(sayuran masih harus di iris sangat halus) > >Ketika bayi sudah mulai bisa duduk, kami makan bersama di meja makan, sambil >diajak omong. >Waktu makannya, saya yang menyesuaikan dengan waktu makan bayi. Maka makan >malam itu bisa berlangsung jam 18.00. Dan ketika dia sudah bisa pegang >sendok sendiri, saya biarkan dia mencoba menyuap sendiri, meskipun makanan >berceceran di sekitarnya. sekali kali saya suapkan juga. >Hasilnya.... anak suka makan apa saja, dan makan dengan tertib, duduk di >meja makan. >(Mungkin ini yang di maksud oleh psikolog, (salah satu) interaksi ibu dan >anak sewaktu makan) > >Saya sudah praktekan ini pada kedua putri saya ketika bayi (sekarang, >Yokebeth 10 th, dan Rachel 2 th), saudara dan beberapa teman yang meniru >cara ini, juga mengakui, kalau bayi sepertinya tahu makan enak atau nggak >enak di lidah. > >Semoga bermanfaat. > >salam, > >ine > >> kirim bunga, pesan cake & balon ulangtahun? klik, http://www.indokado.com >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED] Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
