MAINAN ANAK
Sumber : keluarga.Org
Setiap anak kecil umumnya menyukai mainan. Karena dunia anak-anak adalah dunia bermain
maka mainan apapun pasti disukai oleh anak. Mainan sebetulnya tidaklah harus berasal
dari toko mainan. Barang-barang di rumah yang digunakan sehari-hari seperti peralatan
dapur (tentu saja bukan pisau atau benda tajam) dapat digunakan untuk alat permainan
yang imajinatif. Ini dapat menolong anak belajar untuk meniru apa yang orang tua
mereka lakukan. Atau peralatan lainnya, misalnya jika orang tuanya dokter mereka
kadang-kadang dapat bermain dengan peralatan orang tuanya dan membayangkan diri mereka
adalah seorang dokter! Kenyamanan dan kebahagiaan yang didapat dari sebuah mainan
bukanlah terletak pada harganya tetapi sering kali terletak pada nilai pendidikan dan
hiburannya. Anak-anak yang kebetulan "kurang beruntung" tidak mampu membeli mainan
sebetulnya adalah anak yang "beruntung" juga jika orang tua mereka dapat memanfaatkan
barang-barang disekitar rumah mereka untuk dijadikan alat permainan. Kita masih ingat
waktu kecil dahulu banyak anak-anak Indonesia yang menjadikan kulit jeruk Bali sebagai
mobil-mobilan atau pelepah pisang dijadikan kuda-kudaan.
Orang tua tidak dapat memperkirakan dengan tepat kapan mainan yang khusus dibelikan
untuknya dapat memuaskan anak, atau berapa lama anak mereka akan bermain dengan mainan
tersebut atau bagaimana anak memainkannya apakah sesuai dengan tujuan permainan
tersebut? Mungkin saja sebuah mainan masih dibutuhkan oleh si anak meskipun sudah lama
tidak dimainkannya karena mainan itu telah menjadi bagian dari kehidupan si anak itu.
Mainan tersebut membuatnya merasa aman dan senang. Karena itu jika anak masih mau
menyimpan mainanya yang tidak digunakannya lagi jangan buru-buru disimpan di gudang
atau diberikan kepada orang lain.
Menurut para ahli sebaiknya hindarkan membeli mainan mahal yang orang tua perkirakan
bisa dimainkan lebih lama oleh anak mereka dari pada mainan yang murah demi
penghematan karena tidak mungkin untuk orang tua untuk menggolong-golongkan mainan
sesuai usia atau sesuai jenis kelamin anak. Mungkin saja anak berusia 3 tahun sudah
dapat memainkan permainan yang digolongkan untuk anak usia 5 tahun atau dapat saja
anak perempuan berusia 5 tahun senang bermain mobil-mobilan. Penggolongan yang
dilakukan oleh perusahaan mainan dilakukan hanya untuk memudahkan orang lain untuk
membelikan mainan. Misalnya Tante yang kebingungan untuk membelikan hadiah bagi
keponakannya. Tetapi bagi orang tua kandung yang mengetahui anaknya sebaiknya tidak
usah terlalu menggolong-golongkan mainan sesuai dengan usia atau jenis kelamin
anaknya. Tidak apa-apa membelikan, tetapi jangan dipaksa jika anak tidak mau main
dengan mainan yang dibelikan orang tuanya.
PENGGOLONGAN JENIS MAINAN BERDASARKAN JENIS KELAMIN
Adalah hal yang lumrah terjadi di sebagian orang tua yang menggolong-golongkan mainan
sesuai jenis kelamin anak. Banyak diantara orang tua yang langsung melarang atau
memarahi anak lelaki kecilnya ketika dilihatnya anaknya tersebut tampak asyik bermain
masak-masakan. Tabu, kata mereka. Kekhawatian ini masuk akal karena orang tua mana
yang mau anak lelakinya menjadi kewanita-wanitaan atau sering kali kita lihat orang
tua yang berkata, "Iih, anak perempuan kok main robot-robotan. Ini kan mainan anak
laki?" Di masyarakat sering kali anak laki-laki digoda atau diganggu oleh
teman-temannya jika ketahuan ia bermain boneka. Padahal anak laki-laki selalu senang
bermain boneka dan itu tidak berarti ia kewanita-wanitaan. Begitu juga jika anak
perempuan senang bermain mobil-mobilan, biarkan saja. Toh bukan berarti ia menjadi
kelaki-lakian. Anak kecil tidak mengerti penggolongan atau pengkategorian. Orang
dewasa yang membuatnya. Jadi mengapa harus dilarang jika anak perempuan anda tampak
senang bermain mobil-mobilan? Dalam industri mainan dewasa ini telah tampak kemajuan.
Sekarang banyak perusahaan mainan yang membuat boneka yang didisain "maskulin" seperti
boneka "Action Man" atau boneka-boneka dari karakter film kartun yang "macho" seperti
"Power Ranger" atau sejenisnya. Dengan begitu anak lelaki tetap dapat bermain boneka
tanpa terlihat "kewanita-wanitaan". Mereka dapat "mendandani"bonekanya tanpa takut
ditertawakan. Atau boneka Barbie yang mengendarai mobil kini juga mulai dijual di
pasaran. Siasat ini mungkin berguna juga.
Sehingga, kata para ahli , orang tua sebaiknya jangan membuat anak-anak mereka menjadi
lebih `maskulin` atau `feminin` dengan memilah-milah mainan berdasarkan apa yang orang
tua pikir bahwa anak lelaki harus main ini dan anak perempuan harus main itu.Orang tua
sebaiknya membelikan mainan sesuai dengan selera individu si anak bukan hanya
berdasarkan jenis kelamin atau usia.
salam,
Meike W
[EMAIL PROTECTED]
-----------------------------------------------------------------------------
Bingung cari mainan bermutu untuk anak anda?
silahkan kunjungi http://www.tlj-indonesia.com