Dear netters,

ini ada cerita bagus (menurut saya loh..)
kalau ada yg tdk berkenan atau kepanjangan saya mohon maaf


>  -= Bulan =-
>
> "ISHLAH edisi 74 tahun IV, 1997"
>
> Dian menatap piring-piring kotor yang belum dicuci itu dengan alis mata
> bertaut dan mulut membulat. Matanya menelusuri isi dapur dengan nanar,
> piring-piring kotor itu seperti mengejeknya, sisa makanan yang hampir
> membusuk mengeluarkan bau yang menggelitik cuping hidungnya. Belum lagi
> pakaian kotor anak-anak, yang sudah menggunung di ember cucian.
> Warnanya coklat lumpur bercampur kuning kotoran bayi.
> Kemarin, Senja bermain lumpur dengan Fajar di depan rumah, dan Bayu
bayi
> mungil anak ketiganya itu rasanya tak henti-hentinya mengompol dan
buang
air
> besar. Tiba-tiba kepala Dian berdenyut-denyut. Peluh membasahi
> dahinya sebesar-besar biji jagung. Jantungnya berdebar-debar. Jemari
Dian
> memijit-mijit keningnya, lalu mengelus-elus dada dirinya.
> "Ayah..!" Sebuah teriakan membuat Dian serentak menoleh. Tampak di
matanya
> sosok makhluk mungil dengan rambut keriting seperti rambutnya
menatapnya
> dengan mata bulat.
> Dian terbahak-bahak. Tiba-tiba ia lupa sakitnya. Senja, gadis mungilnya
> yang baru dua setengah tahun itu, memakai baju terbalik, sepatunya pun
> terbalik. Ia membaya payung kecilnya lalu berputar-putar seperti
balerina.
> "Nja cantik ya, Yah..," celotehnya.
> "Sini kamu..," panggil Dian dengan senyum yang terus melebar.
> "Bisa pakai baju sendiri, ya?" tanya Dian sambil mencubit pipi montok
> kemerahan milik Senja. Yang ditanya mengangguk-angguk genit.
> "Nja mau jalan-jalan.., seperti biasa sama Bunda..," rajuk Senja.
> Kepala Dian kembali berdenyut. Ia ingat piring-piring kotor itu, cucian
yang
> menggunung, dan pekerjaanya di kantor yang seperti membunyikan jerit
yang
> sama, Bereskanlah aku!!!" Serentak diraihnya tubuh mungil Senja,
sementara
itu
> jemarinya menekan tombol-tombol telepon.
> "Assalamu'alaikum..bisa bicara dengan Tommy?" Dian mengiyakan ketika
suara
> di seberang menyuruhnya menunggu.
> "Assalamu'alaikum. Tommy disini, bicara dengan siapa ya?" terdengar
suara
> di telinga Dian.
> "Ini aku Tom, bisa minta tolong?" tanya Dian sambil mengeryitkan hidung
> karena rambut ikal Senja mengelitik lubang hidungnya. Senja
terkekeh-kekeh
> ketika Dian meniup lubang telinganya.
> "Oh, Uda Dian. tolong apa Uda?" Tommy balik bertanya.
> "Kamu ke sini deh..ni anak minta jalan-jalan.."
> "Maksudnya Senja...?"
> "Iya, siapa lagi?"
> "Wah..sedang banyak paper nih, Da."
> Ck... tolong dong, Tom.., tolong, ya?" Dian sedikit merengek.
> "Yaaa..gimana, ya?"
> "Ayo dong Toomm.., please.."
> "Hhmmm, iya deh lima belas menit lagi Uda."
> Alhamdulillah..," seru Dian lega. Diacaknya rambut ikal gadis kecilnya.
> Diangkatnya tubuh mungil itu sambil berseru-seru.., diciuminya perut
mungil
> Senja. Senja terkekeh-kekeh.
> "Yah.., Fajar ikut, ya?"
> "Lho, jagoan Ayah sudah bangun..? Sudah baca do'a bangun tidur belum?"
> tanya Dian melihat kepala anak sulungnya menyembul dari balik pintu.
> "Sudah, yah," jawab Fajar pelan.
> "Oke, sekarang kalau mau ikut, mandi dulu. Handuknya sudah ayah siapkan
> di tempat tidurmu. Senja, ayo ayah benahi bajumu.," seru Dian memberi
komando.
> Tiba-tiba terdengar tangis bayi. Kepala Dian kembali berdenyut. Bayu...
>
> ***
bersambung...



>> Mau kenduri di kantor? Perlu nasi tumpeng? klik, http://www.indokado.com  
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]



Kirim email ke