Mbak Diah,
Maaf sudah cukup lama mail ini belum dibalas (untuk
alamat Supratman sudah sampai kan lewat japri?)
Pendirian TPA di tempat kerja tentu tidak mudah, kami
butuh waktu hampir 2 tahun untuk merealisasikannya,
meyakinkan manajemen bahwa TPA sangat dibutuhkan untuk
membentuk generasi yang lebih sehat, kuat, cerdas dan
punya ikatan batin dengan ibunya.
Kalau sejarahnya TPA kita ditulis mungkin terlalu
panjang, namun langkahnya bisa sebagai berikut :
1. Cek apakah perusahaan ibu memiliki pengakuan untuk
melaksanakan UU Tenaga Kerja, jika ada akan mudah
karena di UU Tenaga Kerja (saya lupa pasal berapa,
namun bisa dilihat di http//:www.asiamaya.com) ada
pasal yang berbunyi (tidak terlalu tepat)
"Perusahaan tidak boleh melarang pegawai wanitanya
untuk memberikan ASI pada jam kerja"
Pasal ini dapat kita pakai untuk meminta perusahaan
mengadakan TPA, karena kalau tiap menyusui pegawainya
pulang ya nggak akan produktif, bisa-bisa nggak balik
lagi. Pengadaan ruang laktasi hanya sebagai
alternatif, karena tidak bisa menggantikan kualitas
hubungan batin saat anak di susui secara langsung.
2. Apakah demand untuk TPA ada, karena kejadian di
tempat saya, ibu-ibu yang sudah commit untuk
menitipkan anaknya akhirnya mengurungkan niat karena
merasa sudah punya solusi untuk anaknya (dan memang
kebetulan dari saat survey sampai pendirian cukup
lama, jadi anaknya sudah besar). Hal ini akan
mempersulit pembuatan bisnis plan TPA, karena biarpun
Manajemen setuju, tapi mungkin agak berat kalau harus
mensubsidi terus, jadi secara keuangan TPA bisa
berjalan hanya dengan iuran dari anggota.
3. Kalau 2 hal di atas sudah ada baru kita pikirkan
siapa yang akan mengelola, bagaimana tingkat layanan
yang kita inginkan, requirement untuk staf, kegiatan
anak dll, bisa bench mark ke TPA yang sudah ada atau
surfing di internet tentang day care, kalau dananya
besar bisa saja TPA kita merupakan 'franchise' dari
TPA yang sudah terkenal, namun siap-siap dengan iuran
yang tinggi karena sebagian untuk membayar lisensi.
4. Berjuang terus dan tidak putus asa
Kadang capek lho ngurusin permasalahan TPA,kalau lagi
jenuh yang kepikir 'untuk apa sih ikut mikirin
anak-anak lain, lebih baik tenaga dan waktu dipakai
untuk ngurus anak sendiri' tapi kalau sudah lihat
anak-anak di TPA ada semangat baru yang tumbuh bahwa
mereka berhak mendapat kesempatan yang sama dengan
yang ibunya tidak bekerja bahkan mereka punya
kesempatan lebih baik karena ditangani oleh
orang-orang yang 'profesional'
Satu hal yang saya rasakan kalau anak dititipkan di
TPA kita tidak perlu khawatir anak jadi korban
perlakuan salah dari pengasuhnya, karena selain
pengasuh ada yang menjadi koordinator untuk mengontrol
dan mengawasi, selain itu anak akan belajar
bersosialisasi sejak awal.
Mamanya Dafi
--- "Patria, Diah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Wah..mamanya Dafi enak ya..bisa kerja sambil
> momong..andai ay..ay..ay..aku
> bisa seperti itu..aku berangkat jam 6.30 pulang
> bisa jam segitu juga bahkan
> lebih pokoknya judulnya seharian engga lihat
> matahari dech:)), aduh mbak
> gimana tuch caranya supaya perusahaan bisa kasih
> tempat penitipan
> anak..Mbak..mbak ditelkom ya..sorry OOT tahu no
> telkom yang disupratman
> engga ya..thanks loh...
>
> Salam,
>
> Bundanya Sulthan
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get personalized email addresses from Yahoo! Mail - only $35
a year! http://personal.mail.yahoo.com/
>> Rayakan ultah putra/i Anda dengan kue Teletubbies dll! Klik,
>http://www.indokado.com/kueultah.html
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Etika berinternet, email ke: [EMAIL PROTECTED]
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]