Miskomunikasi: Mengubah Enak Jadi 'Eneg'
Edisi : 259, Anak Dan Keluarga
Rabu, 9 Rabi'ul Awwal 1423/ 22 Mei 2002
=====================================================
Cekcok lagi, cekcok lagi, bosen aah!
Ungkapan itu merujuk pada kasus-kasus "perang dalam negeri" yang kerap
terjadi pada kehidupan pasangan suami istri (pasutri). Penyebabnya tentu
macam-macam, mulai dari hal sepele hingga hal-hal prinsip. Namun dalam
tulisan ini, kita hanya membatasi kasus "perang dingin" oleh sebab-sebab
yang dianggap sepele. Tapi hati-hati, ia mungkin bisa berubah menjadi
masalah serius lantaran buruknya komunikasi antara pasutri.
Ani, sebut saja begitu, seorang ibu rumah
tangga muda yang baru dikarunia seorang anak. Dikenal hobi masak. Ia tipikal
wanita "editorial", pribadi yang sangat ingin keterusterangan orang lain
dalam menilai dirinya. Begitupun sebaliknya. Apapun perasaan senang-puas,
tidak senang dan tidak puas orang lain (dalam hal ini suami) terhadap
dirinya, ia ingin hal itu diungkapkan secara verbal.
Belakangan ini, ia mulai merajuk pada
suaminya, lantaran suaminya tak pernah bilang "sepatah katapun" soal
masakannya. Tidak seperti dulu-dulu ketika awal-awal pernikahan. "Ni..,
masakan kamu jempol deh!" Begitu ungkapan yang dulu kerap didengar dari
lisan suaminya. Tapi entah kenapa, lantaran sibuk barangkali, setiap habis
sarapan pagi atau makan malam, ungkapan itu jarang atau bahkan hampir tak
pernah didengarnya lagi. Ani penasaran, ia terus berusaha melacak
penyebabnya, yang ia sangka soal ketidaknikmatan masakannya. Tapi ia yakin,
masakan-masakannya tetap seperti dulu, sebagaimana yang disenangi suaminya.
"Mas, masakanku kurang enak atau gimana sih?
Koq enggak pernah bilang terus terang seperti dulu, apa kurang manis, kurang
asin, atau kurang apa kek? Bilang dong terus terang!" rajuk Ani suatu hari.
Tapi yang dirajuk cuma menanggapi sambil
lalu. "Sudahlah Ni, kita jangan kayak seperti pengantin baru terus dong.
Sudah biasa saja lah. Yang penting aku masih senang masakanmu, ya kan?"
jawab suami Ani santai.
Tapi Ani tidak puas dengan jawaban suaminya.
Ia malah jauh berpretensi kalau-kalau suaminya sekarang sudah senang masakan
"orang lain". Padahal suaminya sama sekali tidak seperti dugaan Ani. Bagi
sang suami, soal ia masih menyenangi masakan istrinya, cukup ia perlihatkan
dengan makan nambah. Itu dianggapnya cukup sebagai simbol ia menyenangi
hidangan yang dimasak istrinya, tanpa perlu diungkapkan secara verbal.
Dalam benak sang suami, "zamannya" kini sudah lain, tidak seperti masa-masa
awal pernikahan dulu, romantis. Apalagi tipikal suami Ani adalah tipe
"visual" yang tak menyenangi hal-hal verbal-formal. Kalaulah pada masa
awal-awal pernikahan dulu ia ungkapkan rasa senangnya secara verbal, itu
dianggapnya sebagai "tuntutan zaman". Sekarang menurutnya, sudah bukan
zamannya lagi.
Akibat miskomunikasi yang terjadi pada
keluarga muda itu, lama-kelamaan hubungan pasutri itu mulai tidak hangat.
Kasus di atas cuma contoh. Bahwa bukan tak
mungkin kasus-kasus sepele, jika saling tidak dipahami masing-masing
pasutri, lama-kelamaan bisa menjadi besar. Dalam kasus yang menimpa Ani,
wanita itu adalah pribadi yang senang keterusterangan, verbarlisme. Ia ingin
romantisme rumah-tangga tak perlu sirna ditelan usia pernikahan. Maka ia
mengharapkan suaminya tak menghilangkan "kebiasaan memuji masakannya",
walaupun usia pernikahan mereka kian bertambah.
Sayangnya sang suami tak peka membaca jalan
pikiran atau kemauan istrinya.Baginya mencintai istri, atau menyenangi karya
istrinya cukup dengan menikmatinya. Lewat simbolisasi gerak atau visual,
ekspresi cinta atau rasa senang kepada pasangannya, dalam paradigma
pemikiran sang suami, sudah cukup. Padahal Ani menuntut, rasa cinta atau
senang itu, tidak sebatas visual, tapi juga diungkapkan secara verbal.
Sayangnya suami Ani menganggap ungkapan
verbal semacam itu cuma basa-basi cinta. Padahal bagi Ani, pujian itu sangat
ia harapkan. Karena ketidakpahaman dan ketidakingin tahuan sang suami
membaca kemauan Ani, terjadilah misunderstanding itu. Miskomunikasi, dalam
hal ini, menjadi sebab utama terjadinya kesalahpahaman pasangan Ani dan
suaminya.
Jadi? Misunderstanding yang disebabkan oleh
masalah-masalah sepele, sangat mungkin terjadi dalam kehidupan pasutri, yang
yunior maupun senior. Soal penanganan terhadap anak-anak kita yang rewel
atau nakal misalnya. Acapkali antara kita dengan pasangan kita (suami atau
istri) terjadi kebijakan yang tidak padu. Kita ingin anak diajar keras,
sementara pasangan kita tidak. Atau juga menyangkut kasus-kasus lain yang
menuntut penanganan segera. Akibat ketidakpaduan penanganan, terjadilah
cekcok. Syukur-syukur cekcoknya tidak berkepanjangan. Tapi jika terus
berlarut-larut, apa jadinya?
Atau kasus "cadangan devisa" di rumah habis,
tak jarang istri langsung membeberkannya secara vulgar ketika suami baru
saja pulang kerja. "Mas, beras habis, susu si kecil juga tinggal untuk satu
kali minum, anak-anak belum bayar SPP." Ungkapan itu acapkali dicetuskan
oleh kaum ibu dengan tanpa perasaan di depan suami. Padahal penat suami
belum lagi hilang sepulang kerja. Tidakkah hal itu akan lebih baik jika
dibicarakan dengan lemah-lembut, dalam timing yang tepat?
Yakinlah, segala persoalan rumah tangga bisa
diselesaikan dengan penuh arif tanpa perlu ribut-ribut. Asal, keduanya
saling mengkomunikasikan masalahnya secara terbuka dan bijak.
Karena itu, alangkah baiknya jika terjadi
perbedaan-perbedaan dalam kehidupan kita, hendaknya dikomunikasikan secara
baik-baik masalahnya. Lalu dibicarakan jalan keluarnya secara arif. Jangan
sampai kasus-kasus sepele dibiarkan dan didiamkan berlarut-larut. Soalnya
kasus-kasus besar, acapkali disebabkan oleh masalah-masalah kecil.
Karena itu, berkomunikasilah kita dengan
pasangan kita secara bijak dan penuh kesabaran. Agar rumah tangga kita tetap
harmonis dan romantis sampai tua. Bisa kan? (sulthoni)
Semoga bermanfaat
Dede Maulana
>> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik, http://www.indokado.com/
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]