mas... dewi ngeri baca artikel di bawah.. kadang dewi juga nggak tahu harus gimana... mas gimana baiknya ?????
> ---------- > From: Ummu Fareeha[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Reply To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Thursday, May 23, 2002 3:28 PM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [balita-anda] Fwd: [daarut-tauhiid] [keluarga-islami] ARTIKEL: >Mahalnya sebuah karirseorang Direktris > > > > > > > >Assalamu'alaikum wr.wb. > > > >Artikel bagus dr milis tetangga, semoga bisa menjadi pelajaran & renungan. > > > > > > > >Renungan buat para ibu yang berkarir > > > >Saya seorang ibu dengan 2 orang anak, mantan direktur sebuah perusahaan > >multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang > >berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka > >saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan > >menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.Semuanya berawal ketika putri > >saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena > >overdosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, > >suaminya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke > >mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini. Putera saya > >satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan sekarang masih dalam > >perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul > >dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan. > > > >Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah > >pembantu kami. Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Mungkin > >terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak begitu hebat > >pada putri kami. Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi > >kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni > >berumur 2 tahun. Bahkan bagi Maya dan Doni , bik Inah sudah seperti ibu > >kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya > >baca setelah dia meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, > >berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.Dan ketika saya sakit (saya > >pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu ) > >Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama > >sakit di Rumah sakit", hanya itu saja. Sungguh hal ini menjadikan saya > >semakin terpukul. > > > >Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.Begitu sedikitnya waktu saya > >untuk Doni,Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih > >banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka. > >Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian bahkan mungkin > >lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan > >urusan mereka. Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, > >namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin > >tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan > >kantor.Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk > >berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap > >ibu terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti > >bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya.Padahal sebagai > >seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan > >ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan. > >Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau > >mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan > >hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya > >sekolah tinggi-tinggi ?. Meski sebenaranya suami saya juga seorang yang > >cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan. Dan biasanya setelah ada nasehat > >ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari> > >dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus > >saya. Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk > >mereka toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas > >pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas "selalu menjadi patokan > >saya.Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan > >begitu cepat sebelum saya sempat tersadar. Maya berubah dari anak yang > >begitu manis menjadi pemakai Narkoba dan saya tidak mengetahuinya! > > > >Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga. Waktu > >itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke > >desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal > >mati suaminya.Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami > >putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami. Pengorbanan bik Inah buat > >Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya > >perhatikan. > > > >Akhirnya semua terjadi ,setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua > >minggu , bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit. Dari buku harian Maya > >saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di > >Rumah Sakit.Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke > >Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah > >sudah masuk stadium 4 kankernya. Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu > >marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat > >mereka,sudah seperti ibu kandungnya! menggantikan tempat saya yang seolah > >hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia.Tragis. > > > >Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati kalau > >lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik > >Inah. Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan > >Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan > >belajar di pesantren. Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara > >itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya > >atau ayahnya. Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah,Bagas,Doni dan Maya > >tersenyum bersama. Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat > >itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya. > > > >Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat > >merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta.Namun sebatas > >itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan > >kantor. Dan dihalaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah. > >Maya menulis : "Ya Allah kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa > >yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut > >Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat sholat, siapa yang > >Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah,siapa yang nemenin Maya kalo nggak > >bisa tidur..........Ya Allah , Maya kangen banget sama bik Inah " > > > >Astagfirullah bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik > >Inah ? Sungguh hancur hati saya membaca itu semua,namun semuanya sudah > >terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar > >kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.Kadang saya merenung > >sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun > >saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi. Sungguh saya menulis ini > >bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya > >semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya. Biarkan saya yang > >merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.Semoga > >siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak > >salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya. > > > >Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy dan mencoba aktif> > >ikut dipengajian-pengajian untuk menentramkan hati saya. Berkat dorongan > >seorang teman saya beranikan tulis ini semua. Saya tidak ingin tulisan ini > >sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin!. Dan bukan > >pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya. Hanya semoga > >ada yang memetik manfaatnya. Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur > >saya untuk suami dan Doni. Dan semoga Allah mengampuni saya yang telah > >menyia-nyiakan amanahNya pada saya. Dan disetiap berdoa saya selalu memohon > >"YA Allah seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh > >tangguhkanlah Ya Allah, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, > >biarkan buah hatiku tentram di sisiMu". Semoga Allah mengabulkan doa saya.( > >Jakarta, Januari 2002). > > Ummu Fareeha > icq# 11585239 > > > >> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik, http://www.indokado.com/ >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
