sepertinya diskusi masalah ini tidak akan ada habisnya...karena adat
ketimuran kita atau apa...mungkin jalan  tengahnya adalah apabila suami
sudah dapat memenuhi biaya hidup keluarga...mungkin baiknya si istri bisa
dirumah dan menjadi ibu rumah tangga seperti tuntutan masyarakat...dan
memang sebenarnya kita juga maunya khan seperti itu...tapi apa boleh buat
kalau pendapatan suami tdk dapat menutup kebutuhan hidup dan biaya hidup yg
semakin tinggi...dengan sangat terpaksa khan kita harus membantu mencari
uang...tetapi untuk kisah 'mahalnya sebuah karir seorang direktris' dibawah
itu khan suaminya sudah cukup...penghidupannya juga tdk kekurangan tapi dia
lebih mementingkan karirnya...kalau kita khan bukan karir yg kita
kejar...tapi penghasilan untuk membantu suami dan menambah pendapatan
keluarga...jadi beda versi khan...

-----Original Message-----
From: Miladinne Inesza L [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Monday, May 27, 2002 9:46 AM
To: balita anda; [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [balita-anda] Fw: Fw: Mahalnya sebuah karir seorang
Direktris


Seringkali pandangan masyarakat sangat tidak berpihak kepada kita sebagai
ibu. Lucu ya, padahal kita yang merasakan beratnya mengandung 9 bulan, kita
juga yang merasakan sakitnya melahirkan, kita juga cari uang untuk makan
anak kita, dan kita juga yang berusaha sekeras mungkin untuk bisa menjaga
dan merawat anak kita sebaik mungkin dan pada saat yang sama kita juga
dituntut untuk perform di pekerjaan kita karena kalau kita nggak perform
balik2 dampaknya ke keluarga juga, ya kan kalau gaji nggak naik2 juga
dampaknya ke keluarga bukan?

Tidak ada yang bisa merasakan betapa pedih dan sakitnya hati kita kalau di
rumah anak kita sakit sementara kita sedang bekerja di kantor. Tidak ada
juga yang bisa merasakan betapa kita harus 'tebal muka' untuk maksa cuti ke
kantor kalau anak sakit padahal di kantor kerjaan lagi bertumpuk. Tidak ada
juga yang bisa merasakan sedihnya kita melihat ekspresi wajah anak yang
sedih atau marah waktu kita tinggal bekerja. Toh tidak banyak juga yang
percaya kalau kita bilang bahwa kalau bisa memilih, kita akan pilih tinggal
di rumah merawat anak daripada bekerja.

Dan tetap kalau ada apa-apa sama anak, kita yang disalahkan. Jarang yang
mengerti atau bahkan mau tahu bahwa kalau ada apa-apa sama anak, ibunyalah
yang paling hancur dibuatnya.Lalu kalau sudah begitu, omongan yang paling
sering terdengar adalah, "Itulah susahnya jadi perempuan"

Hmmh, capek ya lihat kenyataan seperti ini........

Maaf nih jadi curhat,
Mila.

----- Original Message -----
From: "Misty A. Maitimoe" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, May 27, 2002 8:43 AM
Subject: RE: [balita-anda] Fw: Fw: Mahalnya sebuah karir seorang Direktris


> Pendapat yang lebih realistis niiiih.....
>
> Anak adalah tanggung jawab kedua orang tua, bukan cuma ibunya aja
> tokh....????
>
> M
>




>> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik,
http://www.indokado.com/
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]



>> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik, http://www.indokado.com/
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke