Terlepas benar apa tidaknya cerita Direktris ini tidak ada salahnya kita
diingatkan kembali sebagai ibu yang bekerja, untuk selalu tetap
menomorsatukan keluarga...walaupun kita tahu hal itu tidaklah
mudah..mengatur waktu kita di rumah dan di kantor..(sepertinya kita sudah
mengorbankan semua waktu kita dan tenaga kita)...tapi itulah pilihan kita
(atau ada juga yang bilang tidak punya pilihan lain)....tapi tetap saja kita
harus sadar..itulah kodrat kita yang pertama..di rumah..mengurus
keluarga...dari cerita ini juga kita dapat mengambil suatu pelajaran yang
berharga.. terkadang apa yang menurut kita sudah baik, tapi masih saja belum
sempurna, untuk itu kita perlu diingatkan kembali dengan kenyataan-kenyataan
yang ada saat ini (cerita baby sister/pembantu yang kejam,.dll) yang itu
semua bukan untuk menunjukkan siapa yang bersalah...tapi untuk mengingatkan
kita lebih waspada lagi..bahwa tidaklah MUDAH memelihara sebuah keluarga
jika kedua orangtuanya sama-sama bekerja...
Sayapun bekerja...saya pun menyadari tidak ada kata cukup untuk memenuhi
kebutuhan yang semakin mahal saat ini...tapi saya sadar ada harga yang harus
dibayar mahal dan itu harus saya perkecil dengan selalu berusaha
menomorsatukan keluarga di atas segala-galanya...kalo tiba saatnya  dimana
saya harus realistis untuk berhenti bekerja karena tidak bisa lagi membagi
waktu saya untuk keluarga , sayapun harus menerima keadaan yang mungkin
tidak lebih baik dari sekarang...daripada mengorbankan keluarga saya..
Saya rasa pengorbanan ibu-ibu yang bekerja tidak lebih kecil mulianya
dibandingkan ibu yang dirumah mengasuh anak-anaknya, karena dia menyadari
itu semua dia lakukan demi untuk keluarganya juga...asalkan dia tidak
melupakan kodratnya sebagai ibu bagi anak-anaknya, dan tugas ibu itu
jelas...memberikan perhatian sekecil-kecilnya bagi perkembangan
putra-putinya...
Mudah-mudahan tidak ada lagi anak-anak yang kurang merasakan curahan
kasih-sayang dari orangtuanya, karena jaman ini sungguh
mengerikan...pengaruh narkoba, pergaulan bebas, dan  perkembangan tehnologi
yang canggih membuat kita para orangtua tidak bisa lagi selalu menempatkan
diri sebagai orangtua bagi anak-anaknya..tapi juga harus bisa menjadi
sahabat bagi anak-anak-anak kita.
 
Salam,
Mamanya Bryan
 
-----Original Message-----
From: yenny [mailto:[EMAIL PROTECTED]] 
Sent: 28 Mei 2002 3:11
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [balita-anda] OPINI : Mahalnya sebuah karir seorang Direktris
 
dear netters...
saya mendapat e-mail ini dai banyak mailist yangsaya ikuti, apa ini suatu
kebetulan atau
apa ya ? kok...pas bersamaan.
ini sedikit sharing aja, karen asaya juga seorang ibu bekerja yang
menghabiskan waktu
hampir 10 jam sehari di kantor, dan sisanya untuk keluarga.
seorang ibu bekerja pasti punya alasan-alasan yang berbeda, ada yang
"harus"bekerja,
aktualisasi diri atau pingin isi waktu aja, dan semua alasan ini benar
menurut
masing-masing. Sekarang tinggal bagaimana kita dapat menjadi bagian dari
kehidupan
keluarga kita. Pelukan, ciuman, kasih dan sapaan merupakan hal kecil yang
jarang
diperhatiakan oleh para orang tua yang putera-puterinya menginjak
remaja.Kita pikir
mereka sudah punya dunia sendiri. Jadi, buat para ibu bekerja renungkan
kembali apakah
bekerja merupakan sesuatu yang "tepat " yang harus ibu lakukan ?
thanks a lot of
 
 
salam hangat,
mama Shiila
 
Erien wrote:
 
> Dear Mbak Rossy,
>
> That's a wonderful opini. I' d love to hear that. Sedih memang, karena
kita
> hanya berpegang kepada yang Diatas untuk turut menjaga titipannya. Tapi
Saya
> yakin, Tuhan tidak buta dan pasti membantu kita para Ibu bekerja yang
> memiliki dasar alasan bukan karena EGOIS semata.
>
> Salam Hangat untuk semua. May God Bless us.
> ---------------------
> Erien
> Mama Diaz & Regan
>
> ----- Original Message -----
> From: "Rosalie Helena" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, May 27, 2002 11:38 AM
> Subject: RE: [balita-anda] Fw: Fw: Mahalnya sebuah karir seorang Direktris
>
> > Ibu-ibu dan bapak-bapak,
> >
> > Saya tidak ingin memperpanjang polemik soal ibu bekerja, tapi tergerak
utk
> > mengomentari 'curhat' dari Mbak Mila - mamanya Chandra dan lain-nya.
> Jangan
> > sedih gitu dong Mbak, banyak kok yang senasib dan sepenanggungan...
> sebangsa
> > dan setanah air.
> >
> > Cerita tentang direktris itu menurut saya terlalu di buat-buat.
> > Didramatisir.
> > Memang kejadian seperti itu sangat mungkin terjadi, saya tidak akan
> membahas
> > keganjilan2 dalam cerita tsb.
> >
> > Menurut saya, semua keputusan dan alasan ibu bekerja diluar rumah adalah
> > unik dalam arti tiap pasangan suami istri punya latar belakang dan
> > pertimbangan2 spesifik yg berbeda-beda untuk tiap rumah tangga. Orang
lain
> > di luar keluarga hanya bisa menilai dari luar.
> > Sejuta teori dapat saja dikeluarkan dan diselidiki tentang alasan ibu
> > bekerja di luar rumah, tetapi hanya rumah tangga yang bersangkutan yang
> > secara penuh dapat mengerti alasan ibu bekerja.
> > Memang ada ibu yang bekerja bukan karena terpaksa, itupun harus
dihargai.
> >
> > Pikir juga berapa banyak keluarga yang ibunya full time merawat anak di
> > rumah, tapi anaknya terjerat narkoba, terlibat tawuran, dan kenakalan2
> > kriminal lainnya. Saya sendiri lihat bagaimana anak2 yang seringkali
> > ditinggal ibunya melakukan penilitian keluar negeri/ sekolah lagi tetapi
> > anak2nya sangat 'well educated'- baik budi pekerti. Ibunya pun tetap
> > mencurahkan perhatiannnya bagi ilmu pengetahuan dan keluarga.
> >
> > Soal cukup tidak cukup saya kira bukan satu2nya alasan para ibu bekerja
> kok.
> > Jarang sekali orang merasa cukup, karenanya manusia terus mencari-dan
> > mencari. Nah Mbak Mila dan yang lain2 berbanggalah dan berbahagialah
kita
> > yang masih bisa berusaha mengurus keluarga dengan cara terbaik kita,
> dengan
> > pengorbanan dan memohon pimpinanNya. Hanya DIA yang bisa memelihara anak
> > kita dari bahaya apapun. Serahkan semua kepadaNya. Maut dan bencana
tidak
> > hanya datang kepada keluarga yang ibunya bekerja kok, kita sebagai orang
> > beriman tentu yakin akan perlindunganNya.
> >
> > thanks,
> > rossy
> >
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Miladinne Inesza L [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent: Monday, May 27, 2002 9:46 AM
> > To: balita anda; [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: Re: [balita-anda] Fw: Fw: Mahalnya sebuah karir seorang
> > Direktris
> >
> >
> > Seringkali pandangan masyarakat sangat tidak berpihak kepada kita
sebagai
> > ibu. Lucu ya, padahal kita yang merasakan beratnya mengandung 9 bulan,
> kita
> > juga yang merasakan sakitnya melahirkan, kita juga cari uang untuk makan
> > anak kita, dan kita juga yang berusaha sekeras mungkin untuk bisa
menjaga
> > dan merawat anak kita sebaik mungkin dan pada saat yang sama kita juga
> > dituntut untuk perform di pekerjaan kita karena kalau kita nggak perform
> > balik2 dampaknya ke keluarga juga, ya kan kalau gaji nggak naik2 juga
> > dampaknya ke keluarga bukan?
> >
> > Tidak ada yang bisa merasakan betapa pedih dan sakitnya hati kita kalau
di
> > rumah anak kita sakit sementara kita sedang bekerja di kantor. Tidak ada
> > juga yang bisa merasakan betapa kita harus 'tebal muka' untuk maksa cuti
> ke
> > kantor kalau anak sakit padahal di kantor kerjaan lagi bertumpuk. Tidak
> ada
> > juga yang bisa merasakan sedihnya kita melihat ekspresi wajah anak yang
> > sedih atau marah waktu kita tinggal bekerja. Toh tidak banyak juga yang
> > percaya kalau kita bilang bahwa kalau bisa memilih, kita akan pilih
> tinggal
> > di rumah merawat anak daripada bekerja.
> >
> > Dan tetap kalau ada apa-apa sama anak, kita yang disalahkan. Jarang yang
> > mengerti atau bahkan mau tahu bahwa kalau ada apa-apa sama anak,
ibunyalah
> > yang paling hancur dibuatnya.Lalu kalau sudah begitu, omongan yang
paling
> > sering terdengar adalah, "Itulah susahnya jadi perempuan"
> >
> > Hmmh, capek ya lihat kenyataan seperti ini........
> >
> > Maaf nih jadi curhat,
> > Mila.
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "Misty A. Maitimoe" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: Monday, May 27, 2002 8:43 AM
> > Subject: RE: [balita-anda] Fw: Fw: Mahalnya sebuah karir seorang
Direktris
> >
> >
> > > Pendapat yang lebih realistis niiiih.....
> > >
> > > Anak adalah tanggung jawab kedua orang tua, bukan cuma ibunya aja
> > > tokh....????
> > >
> > > M
> > >
> >
> >
> >
> >
> > >> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik,
> > http://www.indokado.com/
> > >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
> > Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >
> >
> > >> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik,
> http://www.indokado.com/
> > >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
> > Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
> >
>
> >> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik,
http://www.indokado.com/
> >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
> Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
 
 
 
>> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik,
http://www.indokado.com/
>> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com
Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
 


Kirim email ke