fyi MEMAHAMI KEMAMPUAN BICARA BATITA Masa batita adalah masa kritis dalam perkembangan bahasa, jadi manfaatkan sebaik-baiknya. Kalau dirunut-runut sejak masa bayi, banyak lo, perkembangan bahasa si kecil di masa batita. Coba, deh, bayangkan, awalnya ketika baru lahir, ia hanya mampu berkomunikasi lewat tangisannya. Entah itu berarti minta minum, mengompol, jengkel, atau lainnya.
Beranjak ke usia1,5 bulan � 3 bulan, ia mulai ber "au..." Ia amat menyukai suara yang ditimbulkan dari mulutnya sendiri. "Jadi, ini bukan komunikasi," kata psikolog Indri Savitri. Di umur6-�10 bulan, si kecil mulai babbling, yaitumengeluarkan suara yang berupa gabungan huruf mati dan huruf hidup, seperti "ma..." atau "ba.." Banyak orang tua , kata Indri, salah sangka. "Dipikirnya si anak sudah mulai bisa berkata-kata. Padahal, ia baru sekadar mengoceh yang tak ada artinya. Singkatnya, ia hanya bereksperimen sehingga bunyi yang dikeluarkannya itu tak punya makna,"ujar psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. ALAT BANTU Di usia 10 � 12 bulan ke atas, selain babbling, si kecil makin variatif. Iamulai bisa menggunakan bahasa tubuh. Misalnya, saat masih ingin digendong ibunya,kakinya akan mencengkeram tubuh ibu atau menarik baju ibunya sambil berceloteh, " E... e..."yang berarti, "Aku masih ingin main dengan Bunda. Jangan pergi dulu, dong!" Pada usia 10-14 bulan, mulailah muncul kata bermakna dan bertujuan dari mulut mungilnya. Jadi, ketika ia mengatakan "Ma..!" tangannya akan menggapai ke arah ibu, misalnya. Dengan kata lain, ocehan si kecil memiliki arti jika selagimengeluarkan bunyi ia akan menunjuk ke suatu obyek. Beranjak keusia 13 bulan, anak mulai bisa berkomunikasi dengan bahasa tubuh yang sifatnya representasi atau menggunakan simbol-simbol. Contohnya, saat merasa haus, ia akan menyodorkan cangkir kesayangannya sambil mengatakakan "em...ma...!", walaupun kata-katanya masih tak jelas, namun ada maksudnya, yaitu "Tolong, dong, cangkirnya diisi. Aku haus banget nih!" Jadi, ungkap Indri, karena bahasa anak di usia ini masih sangat terbatas,"Ia menggunakan bahasa tubuh sebagai alat bantu untuk berkomunikasi," ujar Indri. Di usia batita ini juga, biasanya anak mulai pandai menggunakan gerakan-gerakan simbolis. Misalnya, ketika ia diberi susu yang agak panas, maka ia akan meniup susu itu. MIRIP TELEGRAM Adapun usia 18 bulan hingga 2 tahun, merupakan masa kritis si kecil untuk belajar bahasa/kata-kata baru. Di usia ini, ia mulai mampu menggunakan subyek dan predikat, misal, "Mau in" maksudnya adalah "Mau main". Masa ini juga disebut dengan masa bahasa telegraf. Maksudnya, di usia 1,5 hingga 3 tahun, cara si kecil bicara adalah dengan menyingkat-nyingkat kalimat seperti dalam telegram. Misal, "Ka...Bie" padahal maksudnya boneka Barbie. Menjelang umur 2,5-3 tahun, ia sudah mulai menggunakan 2-3 kalimat dengan subyek/predikat yang genap dan pemahamannya pun sudah baik. Hanya saja, tata bahasa si kecil masih belum baik. Misalnya, ketika ia melihat induk kucing, ia akan menyebutnya sebagai mama kucing. "Jadi, ia masih terbentur masalah bahasa, tapi secara konsep sudah mengerti bahwa mama itu lebih besar dari anaknya." Tentu saja pemahaman si kecil ini hanya pada bahasa-bahasa yang konkret. Jadi, jangan sampai kita menanyakan, "Adek, bahagia enggak, sih?" Wah, dia bisa bingung "Bahagia apaan, sih?" Jadi kalau kita ingin berkomunikasi dengan efektif, saran Indri, gunakan bahasa konkret yang biasa digunakan sehari-hari. PAHAMI PERKEMBANGAN Menurut penelitian yang dilakukan di luar negeri, anak usia 3 tahun harus sudah bisa menguasai 1.000 kata-kata baru, 80 persen di antaranya sudah harus dapat dipahami. Kesalahan yang dibuat anak biasanya hanya dalam sintaksis, misal, meletakkan On, In, atau At. Sayang sekali di Indonesia belum ada penelitian seperti itu. "Namun pada intinya sama. Anak-anak batita belum dapat diharapkan memiliki tata bahasa yang benar. Jadi kalau ia ditanya, 'Mau ke mana, Dek?' Jawabnya 'Mau di toko' dan bukan 'Mau ke toko'" Nah, masalahnya, bagaimana agar komunikasi orang tua sampai pada si kecil? Yang jelas, lanjut Indri, pahami dulu perkembangan si kecil yang masih batita. Baik perkembangan bahasa dan kognitifnya. Jadi ketika ia melakukan "kesalahan", lalu kita melarang dan ia tetap membangkang, belum tentu yang jadi masalah adalah hambatan bahasa. Bisa jadi ia mengerti larangan kita, namun tahap perkembangan koginitifnya belum sampai di sana. Contohnya,ketika ia bertengkar dengan temannya karena rebutan mainan, harus dimaklumi, di usia batita iamemang belum mengenal konsep sharing. "Jadi, apa pun penjelasankita, misal, 'Adek, jangan rebutan begitu dong, mainnya, kan, bisa gantian!' mungkin saja tidak akan didengarkan. Namun lain halnya jika kita mengatakan, 'Adek main sepeda duluan. Nah, Amel main dengan boneka ini, ya!" LEWAT BUKU Hal lain yang juga patut diperhatikan adalah kemampuan pemahaman si kecil akan suatu kata. Kata sakit, misalnya. Ada anak yang sudah mengertikonsep kata sakit, ada pula yang belum. Nah, saat ia memukul temannya, pada yang sudah paham kita cukup berkata, "Adek, enggak boleh memukul karena temannya bisa sakit!" Sebaliknya, kata-kata seperti itu tidak efektif bila ditujukan pada anak yang belum mengerti kata sakit. Katakan padanya,"Adek enggak boleh memukul teman karena nanti sakit. Itu, lo, seperti waktu Adek jatuh dari tempat tidur kemarin. Sakit, kan?" Jadi, Bu-Pak, kalauingin melarang anak,pilih kata-kata yang sederhana. Jangan lupa pula berikan alasan.Pemilihan alasan pun, saran Indri, harus disesuaikan dengan tahap perkembangan mental anak.Sebab, tambah Indri, menurut Piaget, anak 2 tahunan masih dalam tahap pra-operasional yang serba konkret dan jelas. Jadi, ketika kita ingin melarang si kecil agar ia tidak meloncat-loncat, misalnya, kita bisa katakan, "Adek enggak boleh loncat-loncat di kursi, nanti jatuh!" Selain itu, karena masa batita adalah masa kritis dalam perkembangan bahasa, kita harus memanfaatkan masa ini sebaik-baiknya dengan selalu memperkenalkan kosa kata baru padanya. "Janganlupa, masa 1, 5 tahun ke atas merupakan saat yang tepat baginya untuk belajar kata-kata baru. Indikator yang mudah adalah ketika kita tahu anak sudah dapat mengucapkan suatu kata. Nah, itulah saat tepat kita memperkenalkan kata-kata baru," ujar Indri. Salah satu cara yang mudah dan murahadalah dengan memperkenalkan kebiasaan membaca sejak dini. "Kita bisa mengajarkan anak membaca ketika ia mulai tertarik dengan benda �benda di sekelilingnya, termasuk buku, yaitu sekitar usia 8 bulan. Jadi ia enggak harus bisa membaca dulu untuk mengenal buku. Kalau takut robek, kita bisa menggunakan buku dari kain atau plastik yang banyak dijual di pasaran." Biarkan dia melihat gambar-gambar yang di buku, lalu kita jelaskan apa yang dilihatnya, 'Apa ini, ya Dek, yang bunyinya suka aum?' 'O..., Harimau!' Mungkin awalnya ketika anak melihat gambar harimau ia akan bilang 'aum!' Tapi lama-lama ia akan mengatakan, 'Harimau!'," jelas Indri. Tak sulit, kan? (nakita) Melatih Kosa Kata Anak Sebenarnya ada banyak cara lain yang bisa dilakukan orang tua untukmelatih dan memperkaya kosa kata anak. Berikut saran dari Indri. * Lengkapi kata-kata si kecil. Jika si kecil berkata "Mama, mam", kita bisa mengatakan "Oh, Adek mau makan!" * Deskripsikan dengan jelas perkataan yang dimaksud. Hal ini bisa membantu perkembangan kosa kata si kecil dengan baik, lo. Misalnya, jangan mengatakan "Dek, lihat tuh!" lebih baik, "Dek, lihat mobil merah itu bagus ya?" Atau ketika di kebun binatang kita bisa mendekripsikan apa yang kita lihat, "Dek, lihat itu gajah!" Kalau si kecil bilang "ajah" kita bilang lagi, "Iya, gajah. Lihat, deh, belalainya panjang!" Dengan demikian, kosa kata anak pun akan bertambah dan semakin baik. * Berulang Tak ada salahnya kita mengulang perkataan agar si kecil lebih menangkap apa yang kita bicarakan. Misal, "Mama... in!" "Oh, Adek mau main?" "Mau main apa?" kalau ia menjawan "Nda!" Perjelas perkataannya, "Oh, Adek mau main dengan boneka panda!", "Boneka pandanya lucu, ya, Dek?" * Bicaralah dengan lambat/perlahan-lahan. Misalnya, "Mama mau makan, ya, Dek." Gunakan intonasi dengan baik sehingga ekspresi kita tertangkap/terbaca oleh anak. * Spesifik. Pada benda-benda yang menarik perhatian si kecil, kita bisa memerinci benda-benda tersebut dengan spesifik. Contoh,ketikaingin memperkenalkan bagian-bagian komputer, kita bisa mengatakan, "Dek, ini namanya keyboard, yang ini printer!" Tapi jangan berharap anak bisa langsung mengerti bahwa yang dikatakan adalah bahasa Inggris, lo. Karena yang ia tangkap hanya sebuah kata, "Oh, ini kibord, ya. Ma!" * Selalu perkenalkan kata baru. Yang paling gampang, perkenalkan kata-kata dari yang sehari-hari dilihat, misal, "Sepeda Adek bagus, ya? Rodanya ada berapa?", "O, dua!" Di sini selain ada kata-kata baru kita juga memperkenalkan konsep lain, yaitu tentang berhitung. ___________________________________________________________ Sent by ePrompter, the premier email notification software. Free download at http://www.ePrompter.com. _________________________________________________________________ MSN Photos is the easiest way to share and print your photos: http://photos.msn.com/support/worldwide.aspx >> Kirim bunga ke kota2 di Indonesia dan mancanegara? Klik, http://www.indokado.com/ >> Info balita, http://www.balita-anda.indoglobal.com Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
