saya salah satu penggemar acara WK yang di pandu oleh pak bondan, selama ini 
dalam penilaian saya, pak bondan cukup jujur dalam menyampaikan setiap cita 
rasa makanan yang dia cicipi... salah satunya pernah pak bondan makan sop sum2, 
saya lupa di kota mana, namun dia cuma berkomentar " pasti setiap ibu rumah 
tangga bisa membuat sup, cuma disini bedanya pake sum2 sapi" dari kata2 tsb 
secara tidak langsung menunjukkan klo masakan tersebut "biasa" ato "standart" 
tapi bukan bearti ndak enak lho yah... mungkin kurang "mak nyuss..." aja spt 
kebiasaan yang diucapkan pak bondan klo makanan tersebut benar2 
ueeennnaakkkk.... Dengan begitu kenapa acaranya disebut wisata kuliner.... 
mungkin karena biasanya orang yang berwisata selalu mencari segala sesuatu yang 
enak, salah satunya mencari makanan yang enak, mencari cita rasa masakan yang 
berbeda namun cocok di lidah yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa "enak", 
jadi ndak mungkin klo yang namanya acara kuliner mencari makanan yang "tidak 
enak" , karena yang diinginkan pemirsa adalah explorasi dr makanan yang 
bervariasi dan cocok di lidah.
bahkan mungkin ndak ada bedanya dengan acara2 wisata makanan di stasiun 
televisi yang lain ( pendapat saya ini terlepas dari kesan apakah itu ada iklan 
terselubung ato ndak) pendapat saya hanya sebagai pemirsa yang paling hobi 
melihat berbagai macam makanan di nusantara melalui media televisi.

Regard 
Erlin

  ----- Original Message ----- 
  From: radityo djadjoeri 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Thursday, July 12, 2007 12:58 PM
  Subject: [bango-mania] Tanggapan BW - Re: Keunikan Jurnalisme Kuliner - 
Mengapa "Selalu Enak?"


  Berikut tanggapan Pak Bondan Winarno:

  Fery Susetyo Ekopurnomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

    Rekan2 semua, 

    Ini saya copy paste kan penjelasan dari Pak Bondan yang di posting di milis 
Jalansutra

    --Bondan menulis--
    Singkatnya begini:
    1. Semua warung/rumah makan/ restoran yang ditampilkan di WK sudah melalui
    proses screening terlebih dulu. Sudah ada pra-penilaian, baik oleh saya
    maupun oleh Tim Jalansutra yang dikoordinasikan oleh Irvan Karta. Karena
    itu, ada semacam jaminan bahwa makanan yang dicicipi juga mak nyus. Kalau
    tidak pakai prosedur screening, tentu saja kita akan sering kejeblos ke
    rumah makan yang kurang baik mutunya.
    2. WK tidak dibayar oleh warung/rumah makan/restoran yang bersangkutan. WK
    bahkan tidak bersedia diundang untuk datang ke rumah makan tertentu. Bila
    ada yang mengusulkan, maka tempat itu akan disurvei dulu. Kalau memenuhi
    syarat, pada saat yang tepat akan dikunjungi. WK membayar semua
    makanan/minuman yang dikonsumsi. Tentu saja ada cukup banyak rumah makan
    yang dengan ramah malah menolak pembayaran kami. Bahkan tak jarang kami
    dioleh-olehi atau diundang makan sepuasnya.
    3. Saya pribadi memang tidak pernah mengatakan atau memberi vonis makanan
    yang tidak enak. Saya pribadi berpendapat bahwa tidak pernah ada orang yang
    sengaja membuat masakan tidak enak. Bagi saya, masakan tidak enak adalah
    sebuah kecelakaan. Kalau ada orang menyebut lidah saya adalah lidah ramah,
    saya tidak keberatan. Saya bahkan tidak keberatan bila ada orang menuding
    bahwa lidah saya sebetulnya tidak peka untuk memberi penilaian. Saya
    bertanggung jawab atas penilaian itu. Tetapi, kalau Anda menyimak, ada
    beberapa makanan yang saya beri komentar, misalnya: "Sayurnya terlalu lama
    dimasak." Atau, "Menurut saya ini terlalu asin." Atau, "Wah, ini dagingnya
    masih melawan." Mungkin Anda juga pernah menyimak satu episode yang sama
    sekali tidak mengandung masakan yang saya puji dengan sebutan "Mak Nyuss."
    4. O ya, tentu saja saya mempromosikan makanan -- khususnya makanan daerah.
    Itu adalah missi saya, dan juga didukung oleh teman-teman di Jalansutra.
    Saya menempatkan diri sebagai food promotor, bukan food critics. Tetapi,
    jangan salah baca. Bukan berarti saya dibayar oleh rumah makan tertentu
    untuk mempromosikan outlet mereka. Saya mempromosikan makanan dalam lingkup
    industry-wide. Siapa yang pedulikan mereka kalau bukan kita? Memangnya
    Pemerintah memperdulikan mereka? Bukankah pedagang makanan adalah pelaku
    ekonomi/bisnis yang paling banyak di negeri ini?

    Terima kasih atas perhatian.

    Salam,
    Bondan


    On 7/10/07, elok dyah messwati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
      kalo saya nyebutnya itu resensi makanan. enak tidak enak itu sangat 
subyektif. gimana mas Tomi? kalo jurnalisme kok kejauhan ya...:)
        ----- Original Message ----- 
        From: Tomi Satryatomo 
        To: jurnalisme ; Begundal Salemba ; PJTV PJTV ; Forum Kompas ; AJI 
INDONESIA ; Prayogo WArtaEkonomi ; merry magdalena sinar harapan ; student EMBA 
; pantau ; naratama naratama ; Kincir Angin ; Etalase Indonesia ; technomedia ; 
warta-lingk ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
        Sent: Tuesday, July 10, 2007 5:43 PM
        Subject: [pantau-komunitas] Re: Keunikan Jurnalisme Kuliner - Mengapa 
"Selalu Enak?"


        Mas Satrio,

        Saya tergelitik dengan istilah 'jurnalisme' yang mas sematkan pada 
liputan kuliner ini. Mengapa jurnalisme? Hampir tidak ada elemen-elemen dasar 
jurnalisme yang dipakai dalam membuat produksi program kuliner ini, apalagi 
kalau kita melihatnya dalam perspektif kepentingan publik. Mas Satrio sendiri 
mengatakan bahwa program kuliner seperti ini berpotensi untuk menjadi iklan 
terselubung --sesuatu yang dipantangkan dalam prinsip jurnalistik. 

        Program kuliner ini --baik enak, tidak enak, dokumenter atau 
travelogue, studio-based atau on-location production-- lebih tepat dimasukkan 
dalam kategori 'factual programming' atau dalam bahasa Indonesia lebih populer 
dengan istilah 'produksi non-drama', karena memang berdasarkan fakta 
(fact-based) alias bukan fiksi tapi tidak perlu mengandung unsur kebaruan, 
verifikasi, akurasi atau elemen-elemen jurnalisme lainnya (walaupun kalau ada 
akan lebih baik). Status Bondan Winarno sebagai wartawan tidak serta merta 
membuat program yang ia bawakan bisa otomatis disebut sebagai program 
jurnalistik. 

        Dengan melepaskan diri dari embel-embel jurnalisme, maka program 
kuliner menjadi punya lebih banyak varian format dan tidak terbebani dengan 
berbagai prosedur jurnalistik --karena memang tidak perlu. 
         
        Salam
        -- 
        Tomi Satryatomo
        http://www.trekearth.com/members/wisat
        http://wisat.multiply.com

        "We shall build good ship here, 
        at a profit if we can,
        at a loss if we must,
        but... always a good ship." 

        On 08/07/07, Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
          KEUNIKAN JURNALISME KULINER - MENGAPA "SELALU ENAK?"

          Bondan Winarno, ahli kuliner yang ngetop dengan ungkapan "maknyus" 
itu tampak mengunyah hidangan yang tersaji di depannya. Tetapi mendadak, ia 
langsung memuntahkannya! "Tidak enak! Betul-betul tidak ada nikmatnya!" 
ujarnya, menyumpah-nyumpah. 

          Pernahkah Anda menyaksikan tayangan semacam itu di layar televisi? 
Ya, pasti tidak pernah. Semua yang dimakan Bondan di layar televisi selalu 
enak, gurih, nikmat, sedap, dan pokoknya. "maknyuss!" 

          Sejumlah rekan pernah bertanya kepada saya, mengapa liputan tentang 
masakan -semacam program Wisata Kuliner-- di media televisi hanya menayangkan 
makanan yang enak-enak saja? Kenapa tidak pernah ada yang meliput restoran yang 
menyajikan masakan yang tidak "maknyus?" 

          Jawaban saya, liputan semacam Wisata Kuliner itu memang bukan 
jurnalisme yang bisa kita bandingkan dengan liputan peristiwa kebakaran, 
kecelakaan, bencana alam, konflik politik, kriminalitas, dan sebagainya. Wisata 
Kuliner sepatutnya kita masukkan dalam rubrik "pelayanan masyarakat". Sifatnya 
informatif, seperti info tentang acara bioskop besok sore, atau info-info 
ringan lain yang dibutuhkan masyarakat. 

          Wisata Kuliner memberi informasi pada pemirsa yang doyan makan enak 
atau ingin mencoba berbagai jenis masakan di berbagai tempat. Tentu saja, 
secara logika, tidak ada pemirsa atau konsumen yang sengaja mencari restoran 
yang hidangannya tidak enak. Mereka hanya mau makan santapan yang lezat, 
khususnya yang direkomendasikan oleh Bondan Winarno, wartawan atau media massa. 

          Maka "Jurnalisme Kuliner", kalau saya boleh mengatakannya demikian, 
adalah selalu "berpihak" dan "satu arah." Bahkan (meskipun tidak dimaksudkan 
demikian), sulit untuk menghindarkan kesan promosi terhadap makanan dan 
restoran bersangkutan. 

          Dalam tayangan televisi, jelas disebutkan nama restoran dan 
alamatnya, sehingga pemirsa yang penasaran bisa langsung pergi sendiri ke 
restoran bersangkuran untuk mencicipi hidangannya. Kalau pun nama restoran dan 
alamatnya tidak disebutkan, penonton yang penasaran akan menelepon stasiun TV 
bersangkutan. Dan, sebagai bagian dari upaya melayani audience, tentu saja 
wartawan akan memberitahukan nama restoran dan alamatnya. 

          Tentu saja, liputan kuliner juga bisa sekaligus dijadikan lahan iklan 
bagi stasiun TV bersangkutan. Misalnya, bekerjasama dengan produsen 
produk-produk tertentu (bumbu masak, kecap, bakmi, dan sebagainya). Ini sering 
dilakukan secara terang-terangan. 

          Semua akhirnya berpulang ke pemirsa sebagai konsumen. Mau percaya 
penuh, atau skeptis terhadap rekomendasi media. Tapi yang jelas, pasti Bondan 
Winarno, wartawan dan media juga tidak berani "gambling," dengan 
merekomendasikan masakan yang tidak enak, karena ini terkait dengan 
kredibilitasnya. Mohon maaf, jika tulisan saya ini tidak "maknyuss!" *** 

           
          Satrio Arismunandar 
          Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
          Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
          Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026,  Fax: 79184558, 79184627 






  e-mail: [EMAIL PROTECTED]
  blog: http://mediacare.blogspot.com


------------------------------------------------------------------------------
  Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
  Yahoo! Answers - Check it out. 

   

Kirim email ke