----- Original Message ----- 
  From: Holy Uncle 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Sunday, August 26, 2007 10:29 AM
  Subject: [tourismindonesia] Menjelajah kuliner tempo dulu


  Gaya Hidup

  Menjelajah kuliner tempo dulu

  Di tengah-tengah serbuan kuliner modern, khasanah makanan di Ibu Kota tempo 
  dulu masih eksis. Jakarta masih memiliki kawasan culinary heritage yang 
  cukup menantang untuk dijelajahi dan dinikmati.

  Culinary heritage yang dimaksud adalah sentra-sentra makanan asli khas 
  Jakarta tempo dulu, namun masih bisa ditemukan di beberapa tempat yang sama 
  hingga saat ini.

  Sebut saja kawasan jajanan di Pasar Baru, Petak Sembilan, Kota, Kemang, 
  Pluit, dan masih banyak tempat lainnya. Tidak ada pecinta dunia kuliner 
  Jakarta yang belum pernah bertandang ke kawasan-kawasan itu.

  Salah satu tempat dunia kuliner tempo dulu yang masih bisa ditemukan di 
  tengah hirup pikuk kota metropolitan saat ini adalah kawasan Cikini.

  Adalah Irvan Kartawiria, dosen di Swiss German University sekaligus salah 
  satu moderator milis Jalansutra yang mendapat gagasan untuk mengeksplorasi 
  kekayaan kulinari tempo dulu di kawasan Cikini.

  "Saya dibantu beberapa kawan menggali banyak informasi sebelum akhirnya 
  mengundang para anggota milis untuk ikut merasakan suasana pasar dan makanan 
  khas tempo dulu di Cikini," ujar Irvan kepada Bisnis.

  Akhirnya Irwan berhasil mengumpulkan 25 anggota untuk datang mengikuti acara 
  bertajuk Cikini: Dulu dan Kini. Lokasi yang dituju pertama kali adalah Pasar 
  Cikini. Pasar Cikini sangat terkenal di kalangan pembesar masa lalu. Bahkan, 
  konon Bung Karno adalah salah satu pengunjung rutin Pasar Cikini.

  Di sini mereka mengawali petualangan kuliner dengan menikmati gudeg Bu 
  Hardjo yang berhadapan dengan sebuah toko kue yang legendaris bernama 
  Danisa.

  Di Danisa mereka menemukan aneka kue basah yang lumayan susah dicari di 
  tempat lain seperti kue mangkok yang dipincuk daun, lepet, celorot. Ada juga 
  titipan makanan yang sudah dikenal enak seperti abon sapi dan bawang goreng 
  yang gurih, nasi bogana Ibu Lies dari Tegal, bandeng presto, dan lainnya.

  "Saya juga menemukan permen hopjes dengan merek Venus yang sudah pasti 
  dikenal sejak zaman dahulu dan terkenal enak," ujar Irvan.

  Terbaik

  Di ujung lain jalan Cikini ada toko Toko Roti Tan Ek Tjoan. Bakerij yang 
  dimulai di Bogor pada 1930-an ini masih berkibar kencang dengan kue dan 
  rotinya yang luar biasa. Roti gambang bikinan Tak Ek Tjoan adalah salah satu 
  yang terbaik di seluruh tanah Betawi.

  Tidak ketinggalan adalah Gado-Gado Bonbin yang sudah buka warung sejak 
  1960-an. Dulunya, gado-gado ini terletak di Jalan Kebon Binatang III, salah 
  satu sudut Cikini yang dahulu adalah kebon binatang sebelum akhirnya 
  dipindahkan ke Ragunan.

  Selain Irvan, orang yang sudah merasakan petualangan kulinari Cikini adalah 
  Uce Hermawan,. Manager Office PA Asia Ltd ini sering menikmati khasanah 
  kulinari kawasan Cikini yang memang tidak jauh dari kantornya.

  Selain Cikini, bersama suami, Uce kerap jalan-jalan mengeksplorasi makanan 
  enak dan unik lainnya di beberapa tempat di Jakarta hingga ke kota lainnya.

  "Kalau kebetulan saya suka tugas ke beberapa daerah lain, berdasarkan 
  guidance milis atau enter my own risk mencoba bertualang sendiri. Seringnya 
  ya jalan-jalan ke pasar tradisionalnya," ujar Uce.

  Demikian juga dengan Ketua komunitas sahabat museum Ade Purnama. Selain 
  mengunjungi kota-kota tua di Jakarta, Ade dan anggota sahabat museum lainnya 
  juga sering mengunjungi jajanan kuliner tempo dulu.

  Beberapa tempat yang pernah dikunjunginya adalah nasi ulam Misjaya yang 
  mangkal di depan klenteng Poa Se Bio, dan es selendang mayang, di kawasan 
  Petak 9 Glodok.

  Alasan mereka mendatangi tempat-tempat tersebut adalah karena tempat makan 
  tersebut dikenal dengan rasanya yang enak dan lumayan langka diperoleh saat 
  ini.

  "Apalagi jenis makanan tersebut sesuai dengan kegiatan kami yang umumnya 
  mendatangi wisata-wisata tua di Jakarta dan kota lainnya," ujar Ade.

  Selain kawasan kota tua, Ade dan kawan-kawan juga sempat beberapa kali 
  mengunjungi tempat penjualan es krim Ragusa yang berada di jalan Veteran dan 
  sudah berdiri sejak 1974.

  Es krim yang satu ini sebenarnya sudah ada di Batavia sejak 1932, namun 
  hanya dijual setahun sekali selama satu bulan di acara Pasar Gambir (pasar 
  malam). Karena makin digemari, akhirnya kiosnya mulai dibuka pada 1947 oleh 
  Ragusa bersaudara, yang masih berdiri dan tetap diminati sampai saat ini.

  Kawasan kota tua Jakarta selain bisa dijadikan obyek wisata sejarah juga 
  menjadi target utama wisata kuliner termasuk juga perkampungan tua yang 
  kental dengan nuansa Tionghoa, seperti Kampoeng Kramat Loear Batang, 
  Kampoeng Pekodjan dan Kampoeng Petjinan yang berada di kawasan Tambora, 
  Glodok Jakarta Barat.

  Di perkampungan yang tempo dulunya dikenal sebagai kota jasa dan niaga 
  tersebut, menurut Ade, biasa dijumpai beragam wisata kuliner khas Tionghoa 
  maupun Betawi sejak zaman dulu seperti sup dan telur penyu, atau bubur 
  kembang tahu yang disiram air gula berbumbu jahe serta minuman teh dingin 
  Oolong yang dijajakan di atas gerobak dorong. 
  ([EMAIL PROTECTED]/[EMAIL PROTECTED])

  Th. D. Wulandari
  Bisnis Indonesia
  &
  Mia Chitra Dinisari
  Kontributor Bisnis Indonesia

  
http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=145&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=B12&cdate=26-AUG-2007&inw_id=546391

  __________________________________________________________
  Tease your brain--play Clink! Win cool prizes! 
  http://club.live.com/clink.aspx?icid=clink_hotmailtextlink2



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.484 / Virus Database: 269.12.8/973 - Release Date: 25/08/2007 
17:00

Kirim email ke