Anggur manis Ita Mustafa

Oleh Susi Ivvaty dan Frans Sartono




http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/04/urban/3969587.htm




"Mari bersulang...!" Seru Ita Mustafa. Dan gelas-gelas anggur pun
berdentingan. Itulah suasana ketika Ita Mustafa membuka Frezium Wine &
Dine, tempat makan minum di Cilandak Town Square, Jakarta, Selasa
(30/10) malam.

Suasana malam itu penuh anggur dan tawa. Ita (47) yang empunya
perhelatan tampak cerah, penuh senyum menyambut tetamu. Restonya di
Cilandak Town Square alias Citos itu sebenarnya sudah dibuka sejak
tahun 2005 dengan nama Entry.

"Aku punya Arbor Mist. Ini ringan dan enak. Coba deh nanti," kata Ita,
menawarkan minuman yang terbuat dari anggur jenis merlot, zinfandel
atau chardonna yang diberi rasa buah.

Malam itu juga penuh lagu. Aida Mustafa (56), sang kakak yang populer
sebagai penyanyi era akhir 1960-an itu, bernyanyi lagu Summertime.
Adik kakak itu pada masa lalu pernah menghiasi halaman koran dan
majalah sebagai pemain film dan penyanyi.

Ita pernah sangat populer di akhir 1970-an dan era 1980-an dengan
sekitar 20-an film jenis remaja seperti Terminal Cinta, Remaja di
Lampu Merah, Gadis Kampus, Roman Picisan, Selamat Tinggal Masa Remaja,
sampai Beningnya Hati Seorang Gadis.

Di media, ia disorot sebagai bintang film muda, model iklan yang
cantik dan berhobi bowling sampai ice skating. Hobi yang prestisius
pada masanya. Disebut-sebut juga ia dekat dengan anak tokoh penting
negeri ini. Setelah era film, kini Ita mempunyai usaha periklanan dan
usaha lain.

Jika ia menerima tawaran bermain film, itu semata-mata untuk mengobati
rasa kangen. Beberapa waktu lalu, Ita menjadi cameo dalam film
Selamanya, produksi Multivision Plus Pictures. Ia memerankan ibu yang
lama tidak bertemu putrinya. Namun, begitu ketemu, e... tidak berapa
lama tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Duh....

"Ya... di film aku sudah tua. Sudah tak bisa seperti dulu lagi," kata
Ita yang mendapat Penghargaan Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik
lewat film Gadis Penakluk (1980).

Masih cantik kok!

"Ah, saya prbadi tak pernah merasa cantik. Setiap kali ngaca kok
selalu ada ini dan itu yang kurang," kata perempuan bernama lengkap
Mesayu Aliza Susanna Puspita itu.

Apa yang kurang?

Ita lalu memegang-megang kedua pipinya.

"Rasanya pingin operasi, di sinilah, di situlah. Pengin
dikenceng-kencengin aja. Tapi, aku tak punya keberanian he-he...,"
candanya.

Ita ingin selalu tampil cantik dan rapi. "Sejak kecil aku tak pernah
keluar rumah berantakan. Tak pernah tak pakai make-up. Kalau dandan,
untuk dilihat sendiri juga enak," tutur Ita yang bertinggi 160 cm dan
berat 47 kilogram itu.

Anggur dan buntut

Ita tengah berbicara tentang babak-babak kehidupannya. Setelah era
bintang 1980-an itu, ia masuk babak sebagai pengusaha.

"Habis film, usaha advertising, aku menikah lalu hamil. Aku tinggal di
rumah ngurus anak, jadi ibu rumah tangga," kata Ita yang berdarah
Cirebon-Palembang itu.

Ita kini melakoni peran kehidupan sebagai seorang ibu. Menurut Ita ini
peran yang paling berat. Lebih berat daripada mencari duit, katanya.

"Untuk urusan pribadi, saya sudah selesai. Saya sudah banyak main
film, pernah dapat (penghargaan) Citra. Saya pernah pegang duit
banyak. Sekarang tugas saya adalah mendidik anak," kata Ita, istri
dari Bambang Nindianto dan ibu dari Garcia Jovani (8) serta Anandito (5).

Duit banyak itu didapat Ita dari bermain film dan usaha lain. Dari
tabungan, ia juga bisa membiayai sekolah di Swiss-ia menyebutnya cuma
ikut beberapa kursus.

Tugas mendidik anak kini bisa ia lakukan bersama usaha resto. Katanya,
ia memang tak bisa tinggal diam. Ia lalu memilih bisnis resto yang
dekat dengan dunianya: makan, nongkrong, dan jalan-jalan. Selain itu,
suami Ita yang bersapaan Mas Anto itu juga suka berburu makanan enak.
Ita dan ibunya pernah membuka tempat santap di bilangan Jalan Senopati
yang menyuguhkan masakan tradisional.

"Temen-temen punya ide untuk membuka tempat nongkrong- nongkrong. Aku
lalu berpikir untuk membuka coffee house. Tapi, aku ganti dengan
konsep wine and dine. Itu karena saya melihat perkembangan tuntutan
kalangan socialite di Jakarta," kata Ita yang resminya berkedudukan
sebagai Direktur Frezium Dine & Wine.

Wine and dine, menikmati anggur dan bersantap itulah konsep tempat
usaha Ita. Ia cukup jeli mengamati perilaku santap kaum urban yang tak
pernah melupakan lidah kampung halaman. Jadi meski ada anggur serta
steak, Ita juga menyodorkan pindang buntut.

"Pindang buntut (sapi) kami kira tak cocok, ternyata permintaan
pelanggan tinggi. Rasanya asam-asam pedes. Ini masakan ibu saya," kata
Ita bangga akan ibunya yang bernama Moertiningroem Mustafa (78), yang
katanya masih lincah stir mobil sendiri dan tentu saja terampil memasak.

Ita juga suka masak?

"Ah, aku bisanya cuma masak air," selorohnya. 



mediacare
http://www.mediacare.biz

Kirim email ke