Pak. Helmy,

Bukannya Rasane specialis Kepiting asap ???, Memang yang disebut kepiting
asep ini aromanya khusus, soalnya Kepiting dibungkus dulu dengan daun pisang
yang tebal trus di bakar, ya rasanya ada bau daun pisang kebakar gitu (
kayak otak2 gitu lho )

Budiman

----- Original Message -----
From: "Helmy  Hananto" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Friday, November 02, 2007 5:00 PM
Subject: [bango-mania] Restoran Rasane


Bu Adityawati,

Untuk kepiting lada hitam saya rekomen Restoran Rasane

coba lihat ulasan Kompas di:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/28/metro/3041348.htm



Sabtu, 28 Oktober 2006




usaha kecil menengah
Tarakan dan Timika Punya Kepiting, Jakarta Punya Resto


M Nasir

Jumlah kepiting yang dikonsumsi warga Jakarta sangat fantastik, sekitar enam
ton per hari. Berton-ton kepiting itu berasal dari Tarakan (Kalimantan
Timur), Timika (Papua), dan beberapa daerah di Jawa, seperti Juwana,
Indramayu, dan Serang.

Peningkatan kebutuhan kepiting berlangsung dalam beberapa tahun terakhir,
ketika terjadi spring up atau maraknya restoran-restoran seafood dan warung
tenda di berbagai tempat di Jakarta. Apalagi setelah fatwa Majelis Ulama
Indonesia (MUI) pada 15 Juni 2002 menetapkan kepiting halal untuk
dikonsumsi, permintaan akan kepiting semakin menggila.

"Ini benar, lho. Banyak orang sekarang suka kepiting. Apalagi kalau cara
masaknya bisa. Wah, enak sekali...," kata John B Indrajaya, pemilik tiga
restoran seafood Rasane di Jakarta Barat yang punya menu spesial kepiting
asap.

John mengaku kewalahan melayani konsumen yang biasanya datang berombongan
dan rata-rata suka kepiting. Dari tiga restorannya, John dalam seminggu
mampu menjual satu ton kepiting asal Timika dan satu ton kepiting Tarakan.

Samino, penanggung jawab restoran seafood SMS di Jalan Pluit Putra Jaya,
Jakarta Utara, juga mengutarakan hal yang sama. Bahkan, anak-anak kecil
sekarang, kata Samino, sudah mulai senang makan kepiting. "Kepiting untuk
anak-anak di sini saya bikin tidak pedas, tapi manis seperti rasa aslinya,"
tutur Samino yang lebih banyak menyediakan kepiting Tarakan.

Suasana padat pengunjung yang memesan kepiting juga terlihat di warung tenda
Bang Edot di Pesanggrahan, Jakarta Barat. "Kepiting banyak yang suka.
Padahal satu porsi harganya sekitar 70.000 rupiah," tutur salah seorang
pelayan di warung itu.

Kontroversial

Kepiting bernasib menjadi satwa yang kontroversial untuk dikonsumsi di
kalangan umat Islam. Ada sebagian ulama yang mengatakan kepiting haram,
tetapi ada juga yang bilang kepiting halal dikonsumsi. Masing-masing
mengemukakan dalil atau argumen yang diyakini benar.

Perdebatan, antara lain, berkutat pada persoalan kepiting hidup di dua alam
(air dan darat) atau hanya satu alam (air). Sebagian berpendapat binatang
yang hidup di dua alam haram hukumnya untuk dimakan.

Melihat kontroversi kepiting yang tidak pernah berakhir, Komisi Fatwa MUI
akhirnya mencari solusi. MUI menggelar rapat komisi bersama dengan Pengurus
Harian MUI dan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika. Setelah
itu, Komisi Fatwa MUI pada tanggal 15 Juni 2002 memutuskan bahwa kepiting
halal sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia.

Fatwa kepiting halal itu ditetapkan Ketua Komisi Fatwa MUI KH Maruf Amin
(alm) dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Drs Hasanuddin MAg. Tentu saja
kontroversi soal kepiting tidak serta-merta berhenti total dengan munculnya
fatwa MUI. Masih ada yang menyanggah dan mempertanyakan, seperti yang
berkembang dalam diskusi-diskusi lewat jaringan internet dan forum
pengajian.

Terlepas dari perbedaan pendapat yang berkembang soal kepiting, pasar
kepiting di Jakarta kini semakin kuat. Setidaknya sekarang ada 30 pengusaha
yang setiap hari memasok kepiting ke restoran-restoran seafood dan
warung-warung tenda.

"Dalam sehari, kepiting yang terserap di Jakarta sekitar enam ton.
Sekarang-sekarang ini barang (kepiting) lagi sepi. Kalau ada 10 ton bisa
masuk," kata Yawan, pemasok kepiting yang tinggal di kawasan Pasar Kepiting,
Ancol, Jakarta Utara, Kamis (19/10).

Pengiriman kepiting lewat udara sedang tersendat karena pesawat-pesawat
sedang banyak mengangkut pemudik Lebaran, dengan jumlah barang bawaan yang
beratnya berton-ton juga. Muatan pesawat terbang dengan volume besar itu
tentu menggusur kepiting.

Berdaging kenyal

Secara diam-diam, kepiting asal daerah menempati pangsa pasar masing-masing.
Banyak konsumen yang hobi mengonsumsi jenis kepiting tertentu. Ada yang suka
kepiting Timika yang dagingnya terkenal kenyal dengan serat yang besar, ada
yang suka kepiting Jawa yang kecil-kecil tetapi dagingnya manis, dan ada
pula yang suka kepiting Tarakan yang dagingnya penuh.

"Dari total seluruh kepiting yang terserap Jakarta, yang paling banyak
adalah kepiting Tarakan. Kemudian disusul kepiting Balikpapan, lalu kepiting
Timika, dan yang terakhir atau paling sedikit adalah kepiting asal Pulau
Jawa, seperti Losari, Brebes, dan Serang," tutur Yawan tanpa merinci
jumlahnya.

"Populasi kepiting Jawa semakin sedikit karena hutan bakau banyak yang
ditebang," tambah Yawan yang dalam sehari mampu memasok kepiting Tarakan
sekitar dua ton. Kepiting asal Jawa yang masuk Jakarta bahkan kalah dengan
kepiting Timika yang setiap minggunya lebih kurang tiga ton.

Kepiting Timika umumnya berukuran besar dengan berat satu hingga tiga
kilogram per ekor. Rumah makan-rumah makan yang menyediakan menu kepiting
Timika belakangan ini kewalahan memenuhi permintaan. "Mereka yang datang
umumnya rombongan keluarga, karyawan, atau relasi-relasi mereka," kata John
B Indrajaya.

Dengan datang berombongan, kepiting yang berukuran tiga kilogram per ekor
tidak tampak besar. Kalau untuk sendiri, kepiting sebesar itu memang
kelihatan terlalu besar.

Karena itu, restoran Rasane di Jalan Raya Pesanggrahan, Taman Palem, Jakarta
Barat, menyediakan kepiting berukuran sekitar 2,5 ons per ekor. Kepiting
dengan berat kurang dari satu kilogram umumnya berasal dari Tarakan atau
Balikpapan.

Memajukan agribisnis

John mengaku punya misi khusus dalam mengelola restoran seafood-nya. Misi
yang dimaksud adalah mengembangkan agribinis di daerah-daerah. "Negeri kita
banyak menyimpan kekayaan alam. Kenapa kekayaan itu tidak digali. Kepiting
laut yang besar-besar, seperti di Kepulauan Aru atau terkenal dengan
kepiting Timika, kenapa tidak dimanfaatkan," tutur John bersemangat.

Keunikan kepiting Timikia yang besar-besar, bersih, pemakan plankton, kata
John, kenapa tidak dimasak dengan cara unik pula? Di restoran John, kepiting
Timika dimasak dengan cara tradisional, diasap. Dengan cara ini, kepiting
ditumis terlebih dulu dengan rempah. Setelah itu dibungkus dengan daun
pisang, lalu dipanggang sampai keluar aroma asap yang merasuk ke dalam
daging kepiting.

"Kepiting asap ini khas restoran saya. Saya terinspirasi dari adanya bandeng
asap dan daging asap. Kenapa kepiting tidak? Saya lalu mencoba mengasap
kepiting dan ternyata banyak peminatnya," tuturnya.

Selain untuk memenuhi pasar Jakarta, kepiting Timika juga untuk diekspor ke
Singapura. Di Singapura, kepiting dari Indonesia dapat ditemui di
restoran-restoran di East Coast Seafood Centre.

Rupanya kebutuhan Jakarta dan Singapura akan kepiting sangat mengandalkan
hasil tangkapan dari Timika dan Tarakan.



Helmy Hananto
SAJI Indonesia - Marketing Support Services
Grand Wijaya Center Blok C-12A Lt.2
Jl. Darmawangsa III, Jakarta 12160
Tel : 021 - 72793987 Fax : 021 - 72798818
Workshop: Jl. Gandaria IV No.22B, Jakarta 12130
Tel : 021-7246160/72787388 Fax : 021-7202482
www.sajiindonesia.com


Begin forwarded message:

> From: [email protected]
> Date: November 2, 2007 4:05:23 PM GMT+07:00
> To: [email protected]
> Subject: [bango-mania] Digest Number 146
> Reply-To: "No Reply"<[EMAIL PROTECTED]>
>
> bango-mania
> Messages In This Digest (4 Messages)
>
> 1a.
> Kepiting Lada Hitam From: adityawati
> 1b.
> Re: Kepiting Lada Hitam From: mediacare

Kirim email ke