Oleh Seno Gumira Ajidarma http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/03/Bentara/3969371.htm ==================
Tinjauan Selintas Etiket Makan Ibu Mien Uno Dari seabrek teori Kajian Budaya, saya akan mulai dengan kutipan satu ini, yang menyangkut identitas: Identitas adalah suatu produksi, bukan esensi yang tetap dan menetap. Dengan begitu identitas selalu berproses, selalu membentuk, di dalam-bukan di luar-representasi. Ini juga berarti otoritas dan keaslian identitas dalam konsep "identitas kultural" misalnya, berada dalam masalah. Dan satu lagi: Identitas hanya bisa ditandai dalam perbedaan, sebagai suatu bentuk representasi dalam sistem simbolik maupun sosial, untuk melihat diri sendiri tidak seperti yang lain. Dengan pemahaman semacam itu, kita akan menengok bagaimana posisi identitas dalam hubungannya dengan topik makanan dan gaya hidup melalui artikel Lho, Roti Saya Kok Diambil? karya Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa yang dikenal sebagai Mien R Uno. Artikel ini dalam penafsiran saya adalah suatu petunjuk tentang cara makan, yang saya simpulkan dari kalimat: Satu hal yang penting diperhatikan saat menghadiri undangan itu, adalah bagaimana cara makan yang tepat. Dan juga dari kalimat ini: Sebenarnya meja makan adalah barometer, untuk mengetahui seseorang siap terjun ke dunia internasional atau tidak. Bukan berarti kita kebarat-baratan, tetapi apabila kita terjun ke dunia yang lebih luas-yang sekarang disebut dengan globalisasi-maka kita juga harus mengetahui hal-hal kecil berkaitan dengan aturan makan internasional. Dengan pengertian petunjuk, berarti ada yang memberi petunjuk dan ada yang diberi petunjuk. Adapun yang diberi petunjuk itu asumsinya tentu "belum tahu cara makan yang tepat dalam aturan makan internasional". Nasi dan keterhormatan Sampai di sini, teori yang populer dalam Kajian Budaya, yakni teori hegemoni, bahwa ada orang yang suka rela ditindas dan malah menikmatinya, sebagai negosiasi terhadap suatu wacana dominan ternyata berlaku. Jika John Berger menunjuk kepada setelan jas yang dikenakan petani kampung dalam foto Andre Kertesz, dalam kasus kita "petani kampung" yang ingin pakai setelan jas adalah yang tersebut oleh Mien Uno dalam kalimat: Pada posisi seperti Anda, pastilah banyak menerima undangan untuk menghadiri acara-acara resmi yang tidak mungkin Anda hindari, karena sangat penting untuk bertemu dengan relasi. Profesi apakah yang membuat relasi begitu penting? Saya kira bukan profesinya yang membuat relasi penting, melainkan sikap terhadap profesi itu-relasi adalah sangat penting bagi mereka yang menganggap suatu karier adalah segala-galanya, dan ini lebih sering berlaku bagi bidang profesi dalam budaya urban di perkotaan yang mengandalkan semangat kewiraswastaan (entrepreneurship), bukan loyalitas kepegawaian. Dengan demikian, kita melihat suatu paradoks yang akan jelas sebabnya nanti. Pertama, bahwa petunjuk itu untuk orang yang belum mengerti cara makan internasional, tetapi kedua, orang yang belum tahu cara makan ini disebut Ibu Mien, ". dalam posisi seperti Anda," yang kalau perlu saya tambahkan kutipan lain: Dan karena menjadi alat bantu komunikasi, harus diperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan etiket-yang kalau dilanggar bisa-bisa menjatuhkan posisi Anda. Jatuh hanya dimungkinkan dari posisi atas ke bawah, jadi orang-orang yang belum tahu cara makan internasional ini adalah orang-orang yang posisinya berada di tempat yang tinggi. Suatu posisi yang mestinya secara sosial berada dalam konteks kalimat berikut: Yang perlu dicatat, dalam dinner internasional, biasa tidak disediakan nasi. Karena itu dianjurkan, apabila akan datang ke tempat yang sangat terhormat, sebaiknya kalau mau, makan dulu di rumah. Supaya tidak terkesan "lapar mata". Dari berbagai kutipan ini terdapat lebih dari satu paradoks: Mereka yang diberi petunjuk ini (1) sudah berada di posisi yang tinggi, tapi tidak tahu cara makan yang sesuai etiket internasional; (2) sebetulnya belum berada di posisi itu, tapi siap terjun ke dunia yang memerlukan etiket itu; (3) bukan orang yang berkaitan dengan suatu posisi dan relasi, tetapi menjadikan etiket makan sebagai bagian dari identitas sosialnya-dan perkara identitas ini bisa berlaku untuk ketiganya pula. Dengan demikian, kita melihat sekarang identitas sebagai suatu proses yang dicari, dibentuk, dan akhirnya dikukuhkan-dan demi pembentukan itu kadang diperlukan bukan sekadar usaha, melainkan juga pengorbanan. Perhatikan dilema yang diperlihatkan rangkaian nasi-internasional-tempat sangat terhormat. Di satu pihak nasi tertunjukkan sebagai makanan pokok satu-satunya yang mengenyangkan, di lain pihak nasi tidak termasuk dalam menu dinner internasional, dan celakanya yang internasional inilah yang sangat terhormat. Kalau nasi kita hubungkan dengan identitas Indonesia, masalahnya menjadi semakin runyam-karena dengan mudah disimpulkan, identitas Indonesia seperti yang terepresentasikan oleh nasi dalam kontestasinya dengan makanan lain pada dinner internasional di tempat sangat terhormat, maka nasi alias Indonesia jelas tak terhormatkan. Benarkah? Konsep tentang identitas dalam Kajian Budaya sebetulnya menyelamatkan "penghinaan" itu, karena keaslian identitas, atau identitas asal-usul dan semacamnya ditolak. Tepatnya, kategori identitas dalam pemahaman esensialis tidak berlaku. Dalam konteks perbincangan kita, justru Indonesia yang dikehendaki orang-orang yang butuh petunjuk itu adalah Indonesia dalam konteks global: Doyan nasi tapi bisa makan pakai garpu dan pisau. Apakah ada orang Indonesia makan nasi pakai garpu dan pisau saya tidak tahu. Identitas adalah suatu konstruksi sosial-dan konstruksi yang terbentuk di ajang "makan secara terhormat" menyingkirkan nasi sebagai representasi kehormatan. Tangan siapa yang terhormat Teori lain dalam Kajian Budaya yang berlaku bagi Sang Nasi dalam konteks makan tentu adalah tiga tata pembermaknaan (three orders of signification): Pada tataran pertama berlaku makna denotatif, bahwa memakan nasi adalah sarana mengenyangkan perut; kedua berlaku makna konotatif, bahwa nasi tidak berguna dalam tindak makan sebagai alat bantu komunikasi; ketiga, berlaku kategori ideologis, bahwa identitas keindonesiaan tertolak oleh globalisasi. Artinya globalisasi yang berlaku adalah identitas yang disebut Mien Uno sebagai "kebarat-baratan" dan identitas Indonesia dalam bentuk nasi cukup berlaku lokal tanpa usah menjadi global. Dengan kata lain, yang internasional ini menjadi hegemonik sebagai representasi gaya hidup global-karena dalam kenyataannya tidak ada "Mien Uno-nya Amerika" misalnya yang menganjurkan para diplomat maupun para pelaku bisnis negeri mereka belajar makan pecel lele lengkap dengan sambel cobeknya pakai tangan, untuk membangun komunikasi dan hubungan baik dengan relasi dari Indonesia. Padahal, dalam petunjuk Ibu Mien Uno, makan pakai tangan juga termasuk dalam etiket makan terhormat tadi: Lalu bagaimana kita menikmati roti? Secara kasatmata, karena ada pisau, bolehkah roti dipotong dengan pisau? Menurut peraturannya, roti tidak dipotong dengan pisau. Melainkan hanya disobek dengan tangan sesuai besaran suapan kita, kemudian diolesi mentega. Perlu diingat, menyantap roti tidak dengan dicelupkan ke dalam sup. Jadi, "pakai tangan"-nya orang Eropa boleh, sedangkan "pakai tangan"-nya orang Indonesia jangan, karena wacana keindonesiaan tidak dominan. Perlakuan yang berbeda berlangsung terhadap dalam konteks Jepang: Penguasaan makan pakai sumpit, menyedot mi dengan bunyi, makan di atas tatami dan meja pendek, lengkap dengan bersendawa sehabis makan sebagai tanda pujian bagi penjamu dan minum sake sangat dianjurkan. Tentu karena Jepang adalah relasi dagang yang vital bagi negara mana pun. Sampai-sampai Buku Lima Cincin yang ditulis Miyamoto Musashi diterjemahkan dalam konteks manajemen, agar siapa pun yang berhadapan dengan relasi dari Jepang terjamin paham budaya lawan bicaranya luar-dalam. Sampai di sini, kita bersentuhan dengan konsep hubungan-hubungan kuasa sebagai faktor determinan pembentukan identitas, yang merupakan representasi keterbentukan wacana, bahwa akhirnya kapitalisme jua yang membuat orang-orang harus belajar cara makan yang tidak terhindarkan ini. Telah saya kutip bagaimana cara makan ini dihubungkan dengan kata barometer, tempat yang sangat terhormat, dan satu lagi seperti berikut: Misalnya, Anda harus menghadiri Gala Dinner. Maka Anda akan menemui suasana sangat resmi. Masing-masing undangan sudah disediakan tempat duduk, dan sepanjang acara duduk dan makan dengan apik. Berbeda dengan Buffet Dinner yang prasmanan, yang memungkinkan kita mondar-mandir ke meja saji pada Gala Dinner waiter yang akan melayani. Saya akan menyatukan kata "barometer", "tempat sangat terhormat", dan "sangat resmi" ini sebagai bentuk pengakuan atas hegemoni yang bukan saja telah mengorbankan Sang Nasi, melainkan menjadi kebutuhan vital sebagai "alat bantu komunikasi" bukan sekadar demi kehormatan itu sendiri-karena "pura-pura terhormat" di sini bermuara kepada ideologi adiluhung bernama profit. Diplomasi dan komunikasi dalam politik maupun dagang sama-sama bertujuan mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Sedangkan kesejahteraan dan kemakmuran bersama yang bernama teknis profit, dalam pasar ideologi ekonomi adalah suatu konsep yang merupakan monopoli kapitalisme. Masalahnya, kemakmuran bersama siapa? Berikut ini sebuah kutipan yang rupanya menjadi sumber judul artikel Mien Uno: Yang sering menjadi persoalan, kita lupa bahwa di meja, roti kita diambil oleh orang yang duduk di sebelah kiri kita. Lalu apa yang harus kita lakukan? Di sinilah panduan dari tata cara agar tidak membuat orang lain malu. Kalau kita langsung mengatakan, 'Itu roti saya' tentunya akan membuat dia malu. Lebih baik kita relakan, toh dalam acara ini pelayan akan terus mengisi bila piring roti kita kosong. Tetapi kalau roti kita sudah ditambah lalu dia ambil lagi, di situ kita boleh mengatakan dalam hati, ya sudah relakan saja. Tata cara makan ini tidak bisa berjalan tanpa waiter alias pelayan-seolah mengembalikan persoalan ke teori ekonomi tua Karl Marx, bahwa kelas yang berkuasa hidup dari pengisapan kelas yang dikuasainya. Ini terbayang apabila disadari betapa istilah pelayan dan waiter di sana disebut sebagai bagian tata cara dan memang tidak diperbincangkan sebagai manusia dengan kelas dan identitas sosialnya pula. Kita telah memisahkan antara posisi memberi petunjuk dan diberi petunjuk; antara yang sudah terhormat dan belum tapi juga ingin terhormat, tetapi pelayan dan waiter sulit dibicarakan karena seolah disebut sebagai non-person. Tidak bisa dibicarakan, tetapi tidak boleh dilepaskan dari perbincangan, karena keberadaannya di dalam teori adalah suatu "keretakan"-di luar konstruksi oposisional konsep identitas, tapi harus tetap ditempatkan. Jika istilah pelayan dan waiter tersebutkan seperti bagian dari sebutan atas garpu, pisau, sup, mangkuk, dan roti, masalah tidak terletak dalam artikel Ibu Mien Uno, melainkan pada tata cara yang disebut terhormat dan internasional itu sendiri. Jelas, ini suatu bentuk perayaan atas kehormatan suatu kelas yang tidak mungkin berjalan tanpa hegemoni wacana kelompok dominan terhadap kelompok-kelompok terbawahkan. Dengan hegemoni, seperti telah disebutkan, tidak ada penjajahan-bahkan lembaga sosial dalam hubungan-hubungan kuasa, seperti akademi perhotelan dan restoran misalnya, mengesahkan keberadaannya. Baru dengan begitu para pelayan ini mendapatkan identitas sosialnya, yang membentuk segi tiga pemberi petunjuk-penerima petunjuk-medium petunjuk. Ini membuat konstatasi Marx tentang pengisapan kelas tergugurkan. Kesetaraan yang teraih oleh posisi kepelayanan ini ingin saya tunjukkan dalam konteks Indonesia: Justru para pelayan ini minimal lebih tahu tata cara makan terhormat, ketimbang orang-orang dalam posisi sosial tinggi, menurut Mien Uno, yang dalam kenyataannya masih membutuhkan petunjuk tata cara makan yang diandaikan sesuai dengan kelas sosialnya. Ideologi Subyek-yang-Makan Kiranya ini menjelaskan bagaimana makna diperebutkan dalam pembentukan identitas. Bahwa identitas tidaklah berlaku tetap, mapan, apalagi tertakdirkan, melainkan dibentuk dengan kesadaran melalui suatu proses sosial. Merupakan suatu kondisi yang selalu dalam proses, karena kebudayaan-termasuk gaya hidup di dalamnya-dalam Kajian Budaya disepakati sebagai situs perjuangan ideologi tempat kelompok-kelompok terbawahkan melawan wacana kelompok dominan, sementara kelompok dominan harus menegosiasi wacana perlawanan kelompok terbawahkan ini, agar wacananya tetap dominan. Dalam artikel Mien Uno, negosiasi ini terepresentasikan dalam ungkapan: kalau mau makan di tempat terhormat, sebaiknya makan nasi lebih dulu. Nah, jika Anda ingin membentuk identitas sebagai orang terhormat dalam konteks gaya makan, ikutilah petunjuk sang agen perubahan seperti berikut, yang merupakan sisa artikel yang belum terkutip: - Bila sup disajikan dengan mangkuk yang bertelinga, maka boleh diangkat, tapi kalau tidak bertelinga berarti Anda harus menggunakan sendok sup Anda yang bulat itu, dan memiringkan ke depan kalau mau menghabiskan sup tersebut. - Bagaimana dengan penggunaan peralatan yang begitu banyak? Dalam sitting dinner, peralatan sendok garpu dipakai sesuai dengan makanan yang akan keluar. Dimulai dari makanan pembuka, lalu main course, kemudian dessert. - Yang dianggap menjadi teman kita di meja itu, adalah yang duduk di sebelah kanan dan kiri kita. Apabila ingin berbicara dengan yang duduk di depan kita, harus kita perhitungkan apakah suara kita bisa tertangkap. - Selesai makan, upayakan sendok garpu dan pisau ditutup bersebelahan di posisi kanan-disebut 'Jam 4'. Maka pelayan pun akan mengangkat piring Anda. Setelah itu beranjak ke dessert-yang kadang-kadang kita diajak ke ruangan lain oleh tuan rumah agar lebih santai berinteraksi. - Jangan berbicara pada saat makanan di mulut, mengunyah tanpa bunyi, dan membuka mulut bila makan sudah sampai di bibir. Begitu juga bila minum, langsung ditelan, tidak dikumur-kumur dulu. Kerincian pernak-pernik ini juga menunjukkan proses identifikasi diri dalam pembentukan identitas sebagai suatu involusi-tidak merujuk kepada suatu kualitas higienis misalnya, tetapi memang memberikan suatu gaya, dan gaya inilah yang diterima sebagai suatu makna. Itu membuat Subyek-yang-Makan rela mempelajari dan menjadikannya sebagai bagian dari gaya hidup. Seno Gumira Ajidarma, Wartawan * Makalah Focus Group Discussion mengenai "Food, Culture, and Identity: Consumption and Identity in A Global Society", dalam topik Makanan dan Gaya Hidup. Kerja Sama Program Studi Inggris FIB UI-The British Council, Kampus UI Depok, 26 Januari 2005. mediacare http://www.mediacare.biz
